Kota Salatiga Pertama Kalinya di Jateng Pencanangan Sekolah Berwawasan Kebangsaan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Kota Salatiga Pertama Kalinya di Jateng Pencanangan Sekolah Berwawasan Kebangsaan

SALATIGA – Sekolah Berwawasan Kebangsaan di Kota Salatiga merupakan yang pertama kalinya dicanangkan di Provinsi jawa Tengah ini. Pencanangan ini menjadi istimewa karena Salatiga sebagai pelopor berdirinya sekolah berwawasan kebangsaan. Demikian diungkapkan Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng saat pencanangan sekolah tersebut di halaman SMA Negeri 3 Jalan Kartini, Kota Salatiga, Kamis (12/11) petang kemarin.

Dalam pencanangan itu, tidak kurang 200 pelajar yang merupakan perwakilan dari SLTP, SLTA maupun Kepala SD hingga SLTA di Salatiga hadir. Usai pencanangan, Ganjar Pranowo didaulat untuk menjadi guru dan mengajar siswa semuanya yang hadir.
“Pencanangan sekolah berwawasan kebangsaan ini menjadi istimewa karena Salatiga adalah yang pertama dalam pencanangan di Provinsi Jawa Tengah ini. Dengan keberagaman suku bangsa dan agama di Kota Salatiga, membuat Salatiga menjadi lokasi yang tepat untuk program ini,” kata Ganjar Pranowo, disela-sela pencanangan sekolah berwawasan kebangsaan.
Sebelum resmi dicanangkan, digelar dialog interaktif dengan nara sumber H Muh Haris SS MSi (Wawali Salatiga), Mayor TNI Hya Sintus (Kasdim 0714 Salatiga) dan dipandu oleh Dance Ishak Palit MSi, Ketua Komisi A DPRD Salatiga.
Wakil Walikota Salatiga H Muh Haris mengatakan, selama ini wawasan kebangsaan baru diajarkan secara kognitif saja. Mengajarkan wawasan kebangsaan hendaknya juga dengan contoh nyata, tanpa adanya contoh sehari-hari maka wawasan kebangsaan hanya menjadi pelajaran yang parsial. Dan akhirnya menjadi tontonan seperti bermain sinetron dan berpura-pura dalam menjalani kehidupan.
“Pembelajaran wawasan kebangsaan hendaknya dimulai dengan menanamkan kesadaran simbolis, menanamkan kemandirian serta mencintai produksi dalam negeri. Tidak kalah penting, memberikan contoh nyata akan hal-hal tersebut, misal saja memberikan contoh nyata akan kesadaran antre, kebiasaan mencium tangan orangtua dan lain-lain,” tandas H Muh. Haris. (hes)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top