MPR Siapkan Kurikulum Character Building – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Nasional

MPR Siapkan Kurikulum Character Building

FAJAR.CO.ID, DEMPASAR – Seiring majunya ilmu pengetahuan dan teknologi banyak warisan luhur yang mulai terabaikan. Budaya tolong menolong dan gotong royong misalnya, makin terpinggirkan dan jauh dari kehidupan masyarakat.

Melihat kondisi tersebut, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) Mahyudin mengungkapkan saat ini lembaganya sedang mempersiapkan kurikulum terkait character building yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam Empat Pilar: Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhineka Tunggal Ika.

“Kurikulum pendidikan karakter kebangsaan ini dalam tahap kajian MPR. Ini sangat penting untuk menumbuhkan semangat kebangsaan,” kata Mahyudin saat bersilaturahmi dengan para pendeta dan pengurus harian Parisadha Hindhu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, di Denpasar, kemarin (13/11).

Dia menjelaskan, saat ini masyarakat makin individualism, dan kehilangan kebersamaan. Hal itu pula seiring kemunculan sosial media yang tidak dimanfaatkan untuk hal-hal positif. “Caci maki sering kita temukan didunia maya. Keretakan hubungan diantara anggota masyarakat, semakin gampang ditemukan. Gesekan antar umat beragama semakin sering terjadi. Demikian juga tawuran masal serta pertikaian, semakin sering terjadi dimana-mana. Ini perlu dicegah sejak dini,” tukasnya.

Meski begitu, dirinya tetap menyatakan kebanggaannya bahwa nilai-nilai kebangsaan masih tercipta di kehidupan sosial warga di Pulau Dewata ini. “Masyarakat Bali adalah pengamal sejati Empat Pilar. Saya berharap budaya dan karakter keramahtamahannya dipertahankan,” harapnya.

Semua hal positif ini, lanjutnya tak lepas dari peran para pendeta, pemuka masyarakat yang membawa kedamaian. “Para pendeta ini adalah penggerak doa. Doa inilah yang paling penting dalam kehidupan kita semua. Itu harus tetap dijaga,” tandas Mahyudin di depan Ketua Harian PHDI Bali, I Gusti Ngurah Sudiana, dan jajarannya, serta para pendeta Hindu yaitu Ida Pandita Mpu Dhaksa Charya Manuaba, Ida Pandita Mpu Jaya Dangka Ramana Putra, Sire Mpu Dharma Sunu, dan Ida Bhagawan Pemecutan Manuaba.

Terkait dengan lemahnya nilai-nilai kebangsaan juga dirasakan oleh salah seorang pendeta, Ida Pandita Mpu Dhaksa Charya Manuaba. Dia menumpahkan keluh kesahnya tentang keadaan terkini bangsa Indonesia. Dia menyebut, Indonesia sudah bagaikan kapal yang hendak karam. Kenyataan itu disebabkan tiadanya sistem pendidikan yang baik, terutama dalam pembangunan karakter generasi penerus.

“Tidak ada sistem pendidikan yang baik. Di luar negeri, character building sangat baik, mulai hal paling sepele seperti kebiasaan membuang sampah pada tempatnya,” ucap pendeta. “Begitu juga sistem kesehatan. Kartu sehat disebar di mana-mana tapi tidak berguna. Inilah kekacauan kita di luar kekacauan alam,” lanjut pendeta kepada Mahyudin.

Sementara, Ketua Harian PHDI Bali, I Gusti Ngurah Sudiana, menegaskan, “Pancasila harga mati” adalah sikap yang diterapkan masyarakat Bali dalam kehidupan sehari-hari.

“Sebenarnya di Bali, Pancasila diterapkan di mana-mana, termasuk di perekonomian di mana struktur sosialnya menyokong Pancasila. Bagi Bali, Pancasila itu harga mati, bergeser sedikit pun tidak boleh. Jangankan retak, bergeser sedikitpun tidak boleh,” tegas Ngurah Sudiana. (dil)

loading...
Click to comment
To Top