Tahun ini, Ekspor Nikel dan Kakao Sulsel Defisit – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Tahun ini, Ekspor Nikel dan Kakao Sulsel Defisit

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR — Beberapa ekspor komoditas unggalan Sulsel seperti nikel dan kakao tahun ini menurun. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel merilis, neraca perdagangan per Oktober masih surplus USD39,17 juta atau Rp528 miliar (kurs Rp13.500). Namun, besaran nilai ekspor komoditas unggulan, melemah.

Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam menuturkan nilai ekspor Sulsel secara umum mengalami penurunan. “Per Oktober, nilai ekspor hanya USD111,69 juta atau Rp1,5 triliun, turun 7,27 persen dibandingkan September yang mencapai USD120,44 juta atau Rp1,6 triliun,” ungkapnya dalam konferensi pers di kantor BPS Sulsel, kemarin.

Dua produk jagoan, nikel dan kakao cenderung sudah lesu. Nilai ekspor nikel per Oktober hanya USD58,71 juta atau Rp792 miliar. Demikian juga nilai ekspor kakao, per Oktober turun signifikan 19,38 persen menjadi hanya USD17,23 juta atau Rp232 miliar.

Sayangnya, belum ada komoditas yang bisa menggeser peranan nikel dan kakao. Share nilai ekspor keduanya masih cukup besar. Nikel mengkontribusi hingga 53 persen sementara kakao di urutan kedua dengan 15 persen.

Apa penyebabnya, pengusaha tambang Amirullah Abbas menilai faktor utama anjloknya volume ekspor nikel akibat kebijakan hilirisasi pemerintah di sektor minerba. “Pelarangan ekspor dalam bentuk bahan mentah juga berimbas banyak, selain harga komoditas turun. Kebijakan ini cukup menyulitkan karena belum ditunjang dengan beroperasinya smelter nikel,” jelasnya.

Untuk itu, industri smelter atau pabrik pengolahan harus jadi perhatian pemerintah. “Agar volume ekspor nikel Sulsel kembali normal atau meningkat, pembangunan smelter di Bantaeng perlu dipercepat. Pemda mesti turun tangan agar smelter segera beroperasi. Apalagi bahan baku sudah menumpuk,” keluh ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sulsel itu.

Terpisah, Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Sulsel, Yusa Rasyid Ali menuturkan penurunan ekspor kakao karena produksi lesu. “Tanaman banyak sudah tua sehingga menurunkan produktifitas. Gangguan hama juga berpengaruh.”

Kucuran dana APBN senilai ratusan miliar diharapkannya bisa berbuah manis. “Kucuran dana tersebut semoga termanfaatkan baik dan memacu produksi. Utamanya intensifikasi lahan dengan melakukan peremajaan tanaman,” timpal Yusa. (TAUFIK HASYIM/IMAM DZULKIFLI/fajaronline)

loading...
Click to comment
To Top