Alat Kelamin Berbau Menyengat, Lelaki Ini Dipaksa Warga Huni Kandang Kambing – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Alat Kelamin Berbau Menyengat, Lelaki Ini Dipaksa Warga Huni Kandang Kambing

UNGARAN, RAJA – Diduga suspect HIV AIDS seorang warga Dusun Susukan Krajan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, oleh warga dipaksa menginap di sebuah kandang kambing, yang lokasinya tidak begitu jauh dari pemukiman warga. Hal ini dikarenakan penyakit yang dideritanya (kemaluan) mengeluarkan cairan yang berbau tidak sedap.

SKD (48) warga Susukan Krajan, Kecamatan Ungaran Timur, dengan terpaksa harus meninggalkan rumah milik saudaranya yang selama dua minggu ini dirinya tempati dan harus menempati sebuah gubug kecil dengan ukuran 3×4 meter, yang sebelumnya difungsikan sebagai kandang kambing. Hal ini dikarenakan penyakit yang dideritanya mengeluarkan bau yang tidak sedap, hingga tidak sedikit warga termasuk saudaranya sendiri meminta untuk meninggalkan kampung. “Saya tidak tahu penyakit yang saya derita ini apa, dokter hanya bilang saya harus dioperasi, tetapi saya tidak mau, lantaran tidak ada biaya untuk operasi. Saya juga hanya bisa pasrah jika harus menempati kandang kambing,” ucapnya.

SKD mengaku bahwa penyakit yang dideritanya berawal dari cairan silikon yang berada di kemaluannya meletus, hingga mengeluarkan darah dan cairan yang mengeluarkan bau bahkan adanya hewan seperti belatung. “Awalnya biasa saja setelah disuntikan silikon tersebut dan alat kelamin saya memang bertambah besar ukurannya. tetapi setelah dua tahun terjadi keanehan pada alat kelamin saya, hampir seluruh kemaluan terasa panas dan gatal hingga mengeluarkan darah dan hewan seperti belatung, setiap buang air kecil terasa perih sekali, karena tidak kuat terus saya bawa ke puskesmas,” kata pria yang kerap dipanggil kobra tersebut.

Menurut salah satu tetangganya, Sugianto (49), SKD sudah dua minggu ini menempati kandang kambing, yang lokasinya tidak jauh dari pemukiman warga. Sebagian besar warga

kampung tidak berkenan jika SKD berada di lingkungan warga, lantaran takut jika penyakit yang dideritanya menular ke warga yang lain. “Itu bukan HIV, SKD mengidap gula, informasi yang saya dengar, bahwa SKD pernah melakukan pembesaran alat kelamin dengan cara disuntik silikon. Sebetulnya kami tidak tega jika harus menempatkan dia di kandang kambing, tapi apa boleh buat, ini untuk kebaikan warga kami,” tandas Sugianto.

Meski demikian, warga juga masih menaruh rasa iba terhadap SKD, hal ini bisa dilihat dari rasa kepedulian warga dengan membawa SKD ke puskesmas terdekat, namun di puskesmas tersebut SKD hanya memperoleh obat dan tidak dilakukan perawatan secara intensif. “Sudah pernah dibawa kerumah sakit, dan hanya diberi obat saja dan terkesan tidak mendapatkan perawatan yang intensif, padahal sakitnya termasuk dalam kondisi parah,” ucap Sugianto.

Sementara itu menurut aktifis HIV/AIDS Kabupaten Semarang dan Salatiga, Andreas Bambang, yang menengok SKD di kandang kambing mengatakan, mengingat rekam jejak perilaku SKD semasa sehatnya dengan berganti-ganti pasangan, oleh sebab itu dilakukan pengecekan awal HIV/AIDS dengan menggunakan Rapid Test, dan hasil sementara SKD negatif. “Orang-orang yang telah melakukan pembesaran alat kelamin dengan cara menyuntikan cairan silikon dan hingga berakhir seperti yang diderita pasien, tidak menutup kemungkinan itu sebagai jendela menuju HIV/AIDS, namun setelah dilakukkan tes awal pendeteksian dini HIV ternyata hasilnya negatif (nonreaktif HIV), meski demikian, pasien tersebut tetap menjadi perhatian kami. Setelah 3 bulan ke depan kami akan melakukan pengecekan ulang, dugaan sementara SKD suspect HIV,” tegas Andreas.

Menyikapi hal ini, Andreas mengaku sangat iba melihat kondisi SKD yang diasingkan oleh warga, mengingat penyakit yang dideritanya bukanlah jenis penyakit menular. Oleh sebab itu Pemerintah Kabupaten Semarang harus cepat mengambil tindakan dengan membawa SKD ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. “Pemerintah Kabupaten Harus bertanggung jawab akan musibah yang diderita SKD, kasihan sampai diusir oleh warga dan harus menempati kandang kambing hampir dua minggu lamanya. Saya khawatir jika SKD  masih terus berada ditempat tersebut, saya pastikan penyakitnya akan tambah parah,” pungkas Andreas. (wis)

To Top