Tolak Reklamasi Pesisir Pantai Palabusa, Dua Aktivis Lingkungan Dianiaya – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Hukum

Tolak Reklamasi Pesisir Pantai Palabusa, Dua Aktivis Lingkungan Dianiaya

FAJAR.CO.ID, BAUBAU – Lagi kekerasan terhadap aktivis lingkungan kembali terjadi. Jika sebelumnya kekerasan terhadap aktivis lingkungan terjadi di Lumajang, Jawa Timur yang menewaskan Salim Kancil. Nah, peristiwa penganiayaan kali ini terjadi di Kota Baubau dimana warga bersama aktivis lingkungan yang menolak keras proyek pembangunan reklamasi mendapat perlakuan yang tidak wajar dari sejumlah “preman”.

Hal itu diungkapkan Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Buton Raya (LBH Buton Raya) Dedi Ferianto. Diuraikan, kronologis kejadian terjadi pada Senin (16/11). Ketika itu terjadi gerakan spontanitas warga petani rumput laut beserta aktivis lingkungan mencoba untuk menghentikan pekerjaan reklamasi pesisir pantai Palabusa yang sampai saat ini tidak mengantongi izin lingkungan.

“Gerakan spontanitas ini melahirkan gesek-gesekan antara pekerja proyek,kontraktor,aparat kelurahan terhadap petani rumput laut, dan dipantau lansung oleh satuan anggota kepolisian, babinsa dan Sat Pol PP,” jelas Dedi.

Akibat pergesekan tersebut, aktivitas pembangunan reklamasi yang menelan anggaran APBN sebesar Rp 9 miliar lebih itu kemudian dihentikan sementara. Mengenai tidak dimilikinya izin pembangunan reklamasi pesisir pantai Palabusa itu diakui oleh Direktur PT Sumber Hasil Utama dan saat ini izin tersebut masih menunggu penandatanganan yang dilakukan oleh Gubernur Sultra, Nur Alam.

Lebih lanjut, keesokan harinya, Selasa, (17/11) aktivitas pembangunan reklamasi kembali dilakukan. Sekitar pukul 15.00 WITA, tiga orang mahasiswa yakni, Nasruddin, Merdan Edi dan Alfin Yusriwwan beserta satu orang petani rumput laut, Udin Ampe melakukan peninjauan terhadap pembangunan proyek tersebut.

[baca juga: Polres Baubau Didesak Naikkan Status Hukum Kasus Reklamasi Pantai Palabusa]

[baca juga: Kuasa Hukum Desak Pemerintah Hentikan Proyek Reklamasi Pantai Palabusa!]

Pukul 15.30 WITA, setibanya dilokasi proyek, secara tiba-tiba satu motor datang dari arah belakang dan melakukan penghadangan terhadap keempat orang ini. Ketika itu sempat terjadi dialog antara Udin Ampe. Baru berbincang beberapa saat, satu unit motor yang lain datang dan langsung memainkan gas hingga membuat orang-orang berdatangan dari arah semak belukar dalam kondisi mabuk.

“Satu orang dari kerumunan yang datang itu kemudian mengambil batu dan 2 mahasiswa, yakni Alfin dan Merdan sempat di kejar tapi berhasil meloloskan diri,” ujar Dedi.

[baca juga: Terkesan Lamban Tangani Kasus Palabusa, Polda Sultra Didesak Supervisi Kinerja Polres Baubau]

[baca juga: Walikota Baubau Abaikan Surat Komnas HAM?]

Sementara dua aktivis lingkungan yang tertinggal yakni Udin dan Aci  sempat diajak oleh suami ibu lurah menuju lokasi penimbunan dan dihadapkan kepada Babinsa, Kapolpos. Saat itu keduanya diinterogasi. Selang beberapa menit kemudian RT di Kelurahan Palabusa berteriak menuduh kedua aktivis tersebut sebagai teroris dan provokator.

“Teriakan itu disambut dengan teriakan warga “bunuh saja” dengan nada keras sehingga memancing emosi warga yang lain, beberapa warga yang lain pun melalukan pengeroyokan. Hingga keduanya babak belur,” paparnya.

Ironisnya, lanjut Dedi, pengeroyokan tersebut justru terjadi dihadapan Kapolpos dan Babinsa. Bahkan, ketika pengeroyokan dilakukan, suami ibu lurah beserta dua Ketua RT ikut melakukan provokasi. “Pelaku pengeroyokan itu dilakukan kurang lebih 25 orang yang semua sudah dicekoki minuman keras oleh suami Ibu Lurah Palabusa yang juga Anggota Satpol PP kota Baubau,” tegas Dedi.

Tidak terima dengan aksi brutal tersebut, pihak LBH Buton Raya yang sejak awal menjadi pendamping dalam kasus ini melakukan pelaporan resmi di Polres Baubau dengan bukti nomor laporan LP: TBL/551/XI/2015/SULTRA/RES Baubau. Sebelumnya juga para korban sudah melakukan visum di RSUD Palagimata Baubau. (hrm)

 

loading...
Click to comment
To Top