Warga Protes Pasar Suruh Diambil Alih Pemkab Semarang – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Warga Protes Pasar Suruh Diambil Alih Pemkab Semarang

UNGARAN, RAJA – Lantaran diduga telah melakukan tindakan penyerobotan aset desa yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Semarang, Forum Masyarakat Peduli Pasar Suruh (FMPPS), Senin (23/11) menggelar aksi demo di depan Pasar Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Dalam aksi tersebut, warga memasang spanduk yang intinya akan terus mempertahankan pasar tradisional tersebut.

Pasar Suruh yang sudah berdiri sejak 25 tahun silam tersebut, menurut sebagian besar warga dan pedagang yang sudah sejak awal berjualan ditempat pasar, tidak pernah mendengar ataupun mengetahui jika Pemerintah Kabupaten Semarang memberikan dana untuk perbaikan pasar. Namun pihak Dinas Pajak Pendapatan Keuangan Daerah (DPPKAD) Kabupaten Semarang, mengklaim bahwa pasar Suruh merupakan aset Pemkab Semarang, hal tersebut disampaikan saat Rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Semarang pada hari Jumat (21/11) kemarin.

Mengingat bahwa selama ini pengelolaan Pasar Suruh dibagi menjadi Dua, yaitu pembagian yang masuk ke Desa sebesar 50 persen dan sisanya 50 persen masuk ke Pemerintah Kabupaten Semarang. Pembagian yang seimbang tersebut sengaja dilakukan, ucap Kepala Desa Suruh, Latif Kurniawan. “Disperindagkop Kabupaten Semarang tahun 2016 mendatang tidak berani mengalokasikan bagi hasil ke Desa Suruh, hal tersebut dikarenakan bahwa DPPKAD telah merekomendasikan Pasar Suruh sebagai aset Pemwrintah Kabupaten Semarnag Semarang,” terang Kades Suruh.

Dalam pembagian hasil dari pengelolaan Pasar Suruh sejak dulu sepakat untuk dibagi menjadi dua. Seperti ditahun 2014 lalu masing-masing mendapatkan bagian yang sama, Pemkab mendapatkan Rp 100 juta dan Desa Suruh Rp 100 juta.

Menurut Latif, bahwa sejarah Pasar Suruh dibagun hampir bersamaan dengan dibangunnya Masjid Suruh sekitar tahun 1816 lalu. Mengingat lahan yang ditempati Pasar Suruh yang notabene merupakan tanah perdikan hadiah dari Kraton Surakarta untuk Raden Asta Wijoyo sebagai cikal bakal Desa Suruh. “Warga desa sangat keberatan jika Pasar Suruh diambil alih oleh Pemkab Semarang pada tahun 2016 mendatang yang secara otomatis tidak lagi mendapatkan pembagian lagi. Jika permasalahan ini tidak mendapatkan tanggapan dari Pemkab Semarang, maka kami akan melakukan aksi yang lebih besar lagi,” tegas Latif Kurniawan. (wis)

UNGARAN, RAJA – Lantaran diduga telah melakukan tindakan penyerobotan aset desa yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Semarang, Forum Masyarakat Peduli Pasar Suruh (FMPPS), Senin (23/11) menggelar aksi demo di depan Pasar Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Dalam aksi tersebut, warga memasang spanduk yang intinya akan terus mempertahankan pasar tradisional tersebut.
Pasar Suruh yang sudah berdiri sejak 25 tahun silam tersebut, menurut sebagian besar warga dan pedagang yang sudah sejak awal berjualan ditempat pasar, tidak pernah mendengar ataupun mengetahui jika Pemerintah Kabupaten Semarang memberikan dana untuk perbaikan pasar. Namun pihak Dinas Pajak Pendapatan Keuangan Daerah (DPPKAD) Kabupaten Semarang, mengklaim bahwa pasar Suruh merupakan aset Pemkab Semarang, hal tersebut disampaikan saat Rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Semarang pada hari Jumat (21/11) kemarin.
Mengingat bahwa selama ini pengelolaan Pasar Suruh dibagi menjadi Dua, yaitu pembagian yang masuk ke Desa sebesar 50 persen dan sisanya 50 persen masuk ke Pemerintah Kabupaten Semarang. Pembagian yang seimbang tersebut sengaja dilakukan, ucap Kepala Desa Suruh, Latif Kurniawan. “Disperindagkop Kabupaten Semarang tahun 2016 mendatang tidak berani mengalokasikan bagi hasil ke Desa Suruh, hal tersebut dikarenakan bahwa DPPKAD telah merekomendasikan Pasar Suruh sebagai aset Pemwrintah Kabupaten Semarnag Semarang,” terang Kades Suruh.
Dalam pembagian hasil dari pengelolaan Pasar Suruh sejak dulu sepakat untuk dibagi menjadi dua. Seperti ditahun 2014 lalu masing-masing mendapatkan bagian yang sama, Pemkab mendapatkan Rp 100 juta dan Desa Suruh Rp 100 juta.
Menurut Latif, bahwa sejarah Pasar Suruh dibagun hampir bersamaan dengan dibangunnya Masjid Suruh sekitar tahun 1816 lalu. Mengingat lahan yang ditempati Pasar Suruh yang notabene merupakan tanah perdikan hadiah dari Kraton Surakarta untuk Raden Asta Wijoyo sebagai cikal bakal Desa Suruh. “Warga desa sangat keberatan jika Pasar Suruh diambil alih oleh Pemkab Semarang pada tahun 2016 mendatang yang secara otomatis tidak lagi mendapatkan pembagian lagi. Jika permasalahan ini tidak mendapatkan tanggapan dari Pemkab Semarang, maka kami akan melakukan aksi yang lebih besar lagi,” tegas Latif Kurniawan. (wis)

loading...
Click to comment
To Top