Warga Tanjungrejo Wadul ke Gubernur – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Warga Tanjungrejo Wadul ke Gubernur

KUDUS, RAJA – Merasa dibodohi dengan adanya galian C di desanya, membuat warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Pegunungan dan Alam Kudus (AMPPAK) melakukan aksi hingga ke Kantor Gubernuran.

Aksi demonstrasi yang diikuti sekitar 60 orang warga RW 8 Dukuh Turus, Desa Tanjungrejo pada Senin (23/11) kemarin terlebih dulu mereka melakukan aksi unjuk rasa di Kantor Dinas Bina Marga, Pengairan dan ESDM Kudus, untuk menolak galian C di desanya.

Meski berlangsung singkat, mereka tetap menyampaikan kekecewaan dan penolakan galian C ke Pemkab Kudus. Terlebih masyarakat sudah mengalami dampak dari kegiatan penambangan galian C berupa kekurangan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Muh Kholilul Umam Koordinator AMPPAK mengatakan kegiatan penambangan yang dilakukan sudah melebihi aturan penggalian. Selain itu selama bertahun-tahun masyarakat tidak pernah dimintai ijin.

“Masyarakat telah dibodohi oleh oknum-oknum pengusaha. Terkait perijinan tambang yang ada di desa kami adalah bentuk perbuatan melawan hukum karena masyarakat tidak pernah diajak musyawarah untuk mencapai mufakat dan tidak pernah dimintai ijin,” katanya.

Ia menegaskan bahwa jangan sampai Pemkab Kudus bekerja hanya untuk segelintir orang atau pengusaha. Seharusnya pemkab bekerja atas kehendak masyarakat secara umum.

Usai menggelar aksi di Kantor Dinas BMPESDM Kudus AMPPAK melanjutkan aksinya ke DPRD Kudus dan langsung menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah. “Jangan sampai persoalan sepele ini menjadi polemik besar bagi Kabupaten Kudus,” tandasnya.

Selain mengungkapkan kekecewaannya secara singkat, AMPPAK juga memberikan surat pengaduan yang diberikan pada DBMPESDM Kudus, DPRD Kudus, Gubernur Jateng, hingga kepada Presiden Republik Indonesia.

Surat aduan yang bernomor 006/SP.AMPPAK.MDTR/11/2015 berisikan 11 aduan warga dan empat tuntutan. Aduannya sendiri diantaranya galian c keberadaannya sangat meresahkan dan merugikan masyarakat, karena aktivitas penambangannya berlebihan dan terus menerus tanpa mempertimbangkan dampak negatif yang ditimbulkan.

Selain itu, aktivitas penambangan mengabaikan ekosistem alam. Di mana penambangan tersebut bahkan mencapai kedalaman antara 50-60 meter dari posisi ketinggian tebing. Bahkan jaraknya sudah dekat dengan pemukiman anatar 60-100 meter yang mengakibatkan rawan longsor.

Sehingga mereka menuntut galian C segera ditutup demi keselamatan masyarakat desa setempat. Masyarakat juga menuntut ganti rugi kepada oknum pengusaha tambang atas keberadaan galian c yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat. Bahkan Pemkan Kudus diminta mengkaji ulang semua ijin tambang galian c yang ada.

“Selain berpengaruh negatif pada masyarakat dan ekosistem alam di Desa Tanjungrejo yang berakibat bencana. Disamping itu, galian c di desa kami sangat membahayakan proses mega proyek negara waduk Logung,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Bina Marga, Pengairan dan ESDM Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, perda aturan mengenai galian C di daerah Tanjungrejo memang diperbolehkan. Hal itu karena sudah sesuai dengan Perda RT RW pemkab Kudus.

“Aturannya memperbolehkan. Karena mereka menyampaikan aspirasi maka kita terima dan akan kita sampaikan pada Pak Bupati,” ucapnya.

Sam’ani menjelaskan, keberadaan galian C di Tanjungrejo syaratnya sudah sesuai. Selain itu, juga sudah diperpanjang pada 2014 lalu, dan akan berakhir pada September 2016 mendatang.

“Yang menyelesaikan adalah provinsi, jadi yang memberikan ijin dan juga mencabutnya juga langsung dari provinsi. Sebab galian C merupakan kewenangan dari Provinsi,” pungkasnya. (nr)

loading...
Click to comment
To Top