Melihat Warga Penerima Ganti Rugi Lahan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Makassar

Melihat Warga Penerima Ganti Rugi Lahan

FAJAR.CO.ID, BARRU — Warga di Dusun Pekkae, Kabupaten Barru, tampak semringah. Bukan cuma karena kedatangan orang nomor satu Indonesia, Joko Widodo, di kampungnya. Uang ratusan juta hingga miliaran juga mengalir.
Di antara lima Kabupaten dan kota yang dilintasi proyek rel kereta api Makassar-Parepare, Barru merupakan kabupaten yang paling cepat menyatakan kesiapan membebaskan lahan demi mendukung pembangunan rel kereta api sepanjang 145 kilometer tersebut.

Lahan-lahan yang dibebaskan untuk pembangunan rel kereta sepanjang 30 kilometer di Kabupaten tersebut, kebanyakan adalah sawah. Cukup banyak warga yang rela melepas lahannya, demi membantu laju pembangunan Sulsel.

“Alhamdulillah, saya dapat Rp400 juta, setelah jual sawah. Itu sesuai harganya. Sawah yang saya jual itu 42 are, dihargai satu juta per satu are,” terang Haji Abdul Majid, 78 tahun, saat ditemui di kediamannya, di Desa Siawung, Kecamatan Tanete Rilau, Rabu 25 November.

Mendapat uang tunai Rp400 juta, tentu dia senang. Uang tersebut, langsung dibagibagikan ke keluarga, khususnya anak-anak Majid yang berada di perantauan. “Saya juga sudah tua. Jadi saya bagi-bagi saja rezeki ini,” tutur dia.

Majid mengaku punya lima anak, yang merantau ke luar Sulsel. Mereka ada yang bekerja menjadi pegawai pemerintahan, guru SD, dan SMP.

“Ada yang saya kasi Rp100 juta, ada Rp120 juta, sebagian lagi saya pakai belikan sawah baru,” terangnya. Dia mengaku, tidak mau menggunakan uang untuk memuaskan hasrat. “Lebih baik dibagi-bagi saja,” katanya.

Bapak yang berprofesi sebagai pedagang dan pemilik banyak lahan sawah itu, menceritakan, rata-rata warga di Barru mendapat ratusan juta, bahkan ada yang sampai Rp1 miliar.

Majid adalah satu dari beberapa warga yang pertama memulai menyerahkan lahan ke pemerintah. “Karena saya mulai, yang lain mulai ikut juga. Saya tanya ke masyarakat yang lain, ini untuk kepentingan kita bersama. Kita bantu pemerintah. Tapi ada juga yang tidak mau. Itu urusannya,” kata dia.

Ada satu tujuan Abd Majid yang memotivasinya melepas lahan, yakni amal jariyah. Amal yang dalam ajaran agama tidak pernah terputus. “Selama tanah kita itu terus digunakan untuk kepentingan masyarakat, membantu orang, amal kita terus jalan,” katanya.

Sementara, warga lainnya, Haji Ajiz, juga berpendapat sama. Ajiz sendiri belum mendapat ganti rugi, karena lahannya memang belum dibebaskan. “Rumah saya ini mau dibangun jalur jembatan kereta api. Belum ditahu berapa ganti ruginya. Tapi kita siap, asalkan sesuai,” jelas dia.

Warga Barru lainnya, Sahiruddin, mengungkapkan, warga senang dengan hadirnya kereta api. “Apalagi, nanti semakin cepat kalau mau ke Makassar,” nilainya.

Bupati Barru, HM Yamin, menyebutkan, sekitar 30 kilometer lahan sudah tuntas tahun ini. “Tahap kedua tahun depan, adalah 60 kilometer” katanya.

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, menyebutkan, pihaknya yakin masyarakat siap membantu dengan melepas lahannya. “Kalau ada hambatan, tidak mau melepas, itu wajar,” katanya.

Syahrul mengungkapkan, ada 872 persil bidang tanah yang dibebaskan, dengan anggaran Rp100 miliar dari APBD, dan Rp200 miliar APBN. “Dari 872 ini masih ada yang belum dibayar. Itu cuma karena persoalan administrasi. Ada yang menggugat hukum, prosesnya tetap jalan sesuai undang-undang. Bisa diselesaikan secara konsinyasi. Tapi Insya Allah, kami janjikan masalah tanah ini memang ada dinamikanya, itu tidak jadi hambatan,” katanya. (Hasbi Zainuddin/FAJARONLINE.COM)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top