Paha dan Gading Fosil Gajah Belum Bisa Diangkat – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Paha dan Gading Fosil Gajah Belum Bisa Diangkat

KUDUS, RAJA – Pengangkatan fosil gajah yang berada di proyek Logung terkendala untuk diangkat. Keberadaan fosil yang ada di tebing tinggi itu tidak boleh dimasuki oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) yang mengerjakan proyek di sana.

Hal itu diungkapkan Kasi Kepurbakalaan pada Disparbud Kudus, Sutiyono baru-baru ini. Ia mengaku sulit memasuki area tersebut dengan alasan tempat tersebut harus steril dari siapa pun termasuk pihaknya.

“Terus terang kami kesulitan. Betapa sulitnya kami untuk masuk tempat itu. Karena tempat itu kata PT-nya harus steril dari siapa pun dan tidak bisa diganggu, karena mereka beranggapan telah diserahi pemerintah. Bahkan PT Wika (Wijaya Karya) melalui Hadi mengatakan tidak mau tahu,” katanya.

Padahal, imbuhnya, dia sudah menjelaskan kalau PT tersebut bisa dikenakan Pasal 56 UU Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dan dapat dikenakan sanksi. Namun, pihak PT tak mau menggubrisnya.

Ia menjelaskan saat ini yang sudah diketahui bahwa di Logung masih terdapat fosil paha dan gading gajah. Namun dengan kendala tersebut keduanya sampai saat ini belum bisa terangkat. “Yang di Logung itu yang tersisa paha sama gading gajah dan belum bisa diangkat,” ungkapnya.

Sementara itu, Sutiyono mengaku kendala tersebut berakibat pada belum bisa diangkatnya fosil gajah yang berada di kawasan Logung. Meski dia mengakui bahwa juga terdapat kendala lainnya yang menurutnya masih bisa diupayakan.

“Kendala lainnya pada perijinan untuk menggali. Tapi kami tinggal menunggu surat terbit dari Pamali Juwana di Balai Besar Semarang. Yang kedua kami terhambat oleh dana. Karena penggalian itu harus di bawah pengamatan para ahli dalam hal ini arkeolog,” sebutnya.

Ia melanjutkan, kalau mengaca sesuai UU yang ada untuk satu tenaga ahli membutuhkan dana sekitar Rp320 ribu per hari. Padahal kemarin pihaknya juga melakukan penggalian di tempat normal itu membutuhkan waktu mencapai 12 hari siang dan malam untuk bisa mengangkat satu gading.

“Untuk di Logung masih ada paha dan gading gajah. Kalau gading gajahnya sudah positif karena sudah terlihat. Namun letaknya itu berada di tebing yang sangat tinggi. Menurut ilmu arkeologi tidak boleh menggunakan alat berat sehingga pengerjaannya harus manual menggunakan tatah biasa dan membutuhkan waktu yang lebih lama,” pungkasnya.(nr/*)

KUDUS, RAJA – Pengangkatan fosil gajah yang berada di proyek Logung terkendala untuk diangkat. Keberadaan fosil yang ada di tebing tinggi itu tidak boleh dimasuki oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) yang mengerjakan proyek di sana.

Hal itu diungkapkan Kasi Kepurbakalaan pada Disparbud Kudus, Sutiyono baru-baru ini. Ia mengaku sulit memasuki area tersebut dengan alasan tempat tersebut harus steril dari siapa pun termasuk pihaknya.

“Terus terang kami kesulitan. Betapa sulitnya kami untuk masuk tempat itu. Karena tempat itu kata PT-nya harus steril dari siapa pun dan tidak bisa diganggu, karena mereka beranggapan telah diserahi pemerintah. Bahkan PT Wika (Wijaya Karya) melalui Hadi mengatakan tidak mau tahu,” katanya.

Padahal, imbuhnya, dia sudah menjelaskan kalau PT tersebut bisa dikenakan Pasal 56 UU Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dan dapat dikenakan sanksi. Namun, pihak PT tak mau menggubrisnya.

Ia menjelaskan saat ini yang sudah diketahui bahwa di Logung masih terdapat fosil paha dan gading gajah. Namun dengan kendala tersebut keduanya sampai saat ini belum bisa terangkat. “Yang di Logung itu yang tersisa paha sama gading gajah dan belum bisa diangkat,” ungkapnya.

Sementara itu, Sutiyono mengaku kendala tersebut berakibat pada belum bisa diangkatnya fosil gajah yang berada di kawasan Logung. Meski dia mengakui bahwa juga terdapat kendala lainnya yang menurutnya masih bisa diupayakan.

“Kendala lainnya pada perijinan untuk menggali. Tapi kami tinggal menunggu surat terbit dari Pamali Juwana di Balai Besar Semarang. Yang kedua kami terhambat oleh dana. Karena penggalian itu harus di bawah pengamatan para ahli dalam hal ini arkeolog,” sebutnya.

Ia melanjutkan, kalau mengaca sesuai UU yang ada untuk satu tenaga ahli membutuhkan dana sekitar Rp320 ribu per hari. Padahal kemarin pihaknya juga melakukan penggalian di tempat normal itu membutuhkan waktu mencapai 12 hari siang dan malam untuk bisa mengangkat satu gading.

“Untuk di Logung masih ada paha dan gading gajah. Kalau gading gajahnya sudah positif karena sudah terlihat. Namun letaknya itu berada di tebing yang sangat tinggi. Menurut ilmu arkeologi tidak boleh menggunakan alat berat sehingga pengerjaannya harus manual menggunakan tatah biasa dan membutuhkan waktu yang lebih lama,” pungkasnya.(nr/*)

loading...
Click to comment
To Top