Awalnya Tugas Biasa, Setelah Diselesaikan Ternyata Karya Dua Siswi Ini Luar Biasa – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Awalnya Tugas Biasa, Setelah Diselesaikan Ternyata Karya Dua Siswi Ini Luar Biasa

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Berawal dari tugas yang diberi pihak sekolah. SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto mewajibkan siswa mereka membuat karya ilmiah sebagai salah satu syarat kenaikan kelas.

Terbentur dengan tugas itu, Nurin Jannatin dan Kamila Sedah Kirana, siswi yang duduk dibangku kelas XII, mampu menciptakan sebuah alat pendeteksi kantuk.

“Waktu kelas XI naik ke kelas XII harus buat karya ilmiah. Kebetulan kita ambil Fisika, dan dari situlah kita mulai mencari masalah tentang angka kecelakaan yang tinggi. Dari itu, kita memutuskan membuat alat deteksi kantuk,” kata Nurin saat ditemui Radarmas di sekolahnya, Selasa (24/11/2015).

Alat pendeteksi kantuk saat berkendara

Alat pendeteksi kantuk saat berkendara

Menurut Kamila rekan se-tim Nurin, alat pendeteksi kantuk memang sudah ada sejak lama. Namun harganya  sangat mahal. Misalnya helm anti kantuk buatan luar negeri dengan menggunakan gelombang syaraf otak yang harganya jutaan rupiah.

Sementara alat pendeteksi kantuk karya siswi IPA I ini, yang memanfaatkan denyut nadi dalam pembuatannya, hanya memerlukan dana Rp 500 ribu. Biaya yang sangat ekonomis untuk menperoleh manfaatnya.

Kamila mengatakan, semula  alat tersebut sengaja dirancang khusus untuk pengendara, seperti mobil atau motor. Mereka memilih  media jaket yang dipasangi alat berisi sensor denyut nadi.

Komponen alat yang dibuat pun cukup sederhana, berupa sensor denyut nadi, processor arduino uno, out put motor DC (getar)/ buzzer (suara).

“Kita berharap alat ini  bermanfaat untuk menghindari kecelakaan lalu lintas akibat pengendara bermotor yang mengantuk,” ujar perempuan kelahiran 26 Februari 1999 itu.

Kamila menjelaskan, jika seseorang dalam keadaan mengantuk maka denyut nadinya akan berdetak lebih lambat dibanding saat orang tersebut dalam keadaan  terjaga.

“Dalam keadaan mengantuk denyut nadi berdetak kurang dari 60bpm (beats per minute), pada saat itu alat ini akan memberikan peringatan kantuk berupa suara dan getaran yang diharapkan memberikan efek kejut agar pengendara dapat terjaga kembali,” ungkapnya.

Hasil temuan tersebut, tambah Nurin, sempat diikutkan dalam kontes yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Meski tidak menjadi juara, namun hasil temuannya tersebut mendapatkan apresiasi yang sangat baik. Dan karena kemampuan itu pula, pekan lalu mereka berdua diundang ke salah satu perusahan tambang terbesar di Kalimantan untuk mempresentasikan hasil temuannya.

“Sekarang sedang di uji coba di sana. Kalau ini lolos, maka kemungkinan besar alat ini akan terpasang di ratusan mobil besar di pertambangan,” kata perempuan kelahiran 30 Januari 1998. (*/jawapos)

To Top