Untuk Masalah Ini, Indonesia Harus Belajar dari Malaysia – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Daerah

Untuk Masalah Ini, Indonesia Harus Belajar dari Malaysia

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Sumut sebenarnya mengalami peningkatan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, tahun 2013 jumlah wisman yang datang di Bandara Kualanamu sebanyak 225.550 orang. Sementara, pada 2014 sebanyak 234.724, atau mengalami kenaikan 4,27 persen.

Jumlah tersebut berada di urutan ketiga. Dimana wisman yang mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali sebanyak 3.241.889 orang pada 2013, dan 3.731.735 pada 2014, atau naik 15,11 persen. Sedang di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada 2013 sebanyak 2.240.502 orang dan pada 2014 naik menjadi 2.246.437 orang, atau mengalami peningkatan 0,266 persen.

Mantan Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Faried Moertolo menjelaskan, jumlah wisatawan global memang selalu menunjukan peningkatan. Jumlah penduduk dunia kini mencapai ± 7,5 miliar jiwa, telah menghasilkan 1,2 miliar wisatawan dunia, belum termasuk wisatawan domestik/ dalam negeri/ nusantara, dengan nilai transaksi atau jumlah pengeluaran sebesar US$ 1,5 triliun.

Jika digabung transaksi wisatawan dunia dengan transaksi Wisatawan Domestik di dunia, diperkirakan nilainya luarbiasa yakni mencapai US$5 triliun.Kondisi ini dipicu oleh Teknologi Informasi dan Teknologi Transportasi, serta strategi dan teknik pemasaran pariwisata yang semakin canggih, menjadikan “status berwisata” bagi masyarakat diberbagai negara,naik menjadi tidak sekedar kebutuhan tapi juga prestise sebagai gambaran “kualitas hidup”.

“Kemampuan suatu negara dalam memperoleh manfaat pariwisata tentunya tidak semata dipengaruhi oleh luas dan besarnya wilayah, akan tetapi sangat dipengaruhi oleh kualitas negara tersebut dalam mendesain pariwisatanya termasuk rekayasa atraksi wisatanya,” terang Faried kepada koran ini di Jakarta, kemarin (29/11).

Dia memberi contoh, Singapura, sebuah negara kecil tapi bisa mendatangkan 24 juta wisman per tahun. Sedang Indonesia yang besar ini, tahun 2015 mentargetkan bisa dikunjungi 10 juta wisman.

“Oleh karena itu dalam konteks pariwisata mancanegara, Singapura adalah raksasa dan Indonesia adalah kecil, karena saat ini kapasitas penerbangan internasional ke Indonesia hanya 22 juta kursi, tetapi Singapura memiliki kapasitas sebanyak 41 juta kursi penerbangan internasional. Adapun Malaysia kapasitasnya kursi penerbangan internasionalnya mencapai 46 juta kursi, dilayani oleh 52 maskapai,” terangnya.

Disebutkan, selama ini kunjungan wisman ke Indonesia lebih banyak menggunakan angkutan udara yang mencapai 70 persen, selanjutnya dengan angkutan laut hampir 30 persen, dan melalui darat kurang dari 1 persen.

[NEXT-FAJAR]

Sesungguhnya, lanjutnya, Indonesia bisa menaikkan kapasitas kursi penerbangan internasional, tapi masih terkendala oleh berbagai hal antara lain kapasitas dan kualitas bandara termasuk tatakelolanya. “Tentunya itu bukan satu-satunya faktor, akan tetapi masih ada hal lain yang tak kalah penting antara lain konektivitas antar moda angkutan dan berbagai faktor ikutan lainnya,” ucapnya.

Dari 18 bandara yang sudah berstatus internasional, pada tahun 2014 hanya 2 bandara yang mampu mendatangkan wisman di atas 1 juta yakni Ngurahrai-Bali dan Soekarno-Hatta, selanjutnya bandara Kualanamu-Medandan Juanda-Surabaya menerima antara 200-250 ribu wisman, bandara Husein Sastranegara-Bandung menerima kurang dari 200 ribu wisman. Adapun bandara internasional lainnya kurang dari 100 ribu wisman.

Bandara Kualanamu menempati posisi ke 3 setelah Bali dan Jakarta dan mengalami pertumbuhan 4,07 %.Malaysia oleh Pemerintah telah ditetapkan sebagai pasar wisman utama juga sebagai pasar utama Sumatera Utara.

Namun, kata Faried, neraca bisnis pariwisata (travel balances) dengan Malaysia masih minus, artinya jumlah WNI dari Sumatera Utara lebih banyak ke Malaysia dibanding jumlah wisatawan Malaysia ke Sumatera Utara.

“Penang dan Malaka yang selalu atraktif dalam berbagai gelaran acara pariwisata, menjadikan destinasi ini diminati warga Sumatera Utara, juga Malaysia semakin menjadi pilihan untuk keperluan kesehatan,” paparnya.

Kedepan diharapkan travel balances dengan Malaysia akan menjadi positif jika upaya pembenahan destinasi Danau Toba secepatnya diupayakan khususnya pada aspek 3A (Aksesibilitas-Atraksi Wisata-Amenitas khususnya akomodasi) sehingga makin berkualitas. Pembenahan infrastruktur koridor Medan-Danau Toba, diiringi penataan destinasi yang “menyatu” dengan konsep tidak terikat pada batas-batas wilayah administrasi. Dan tak kalah penting adalah penciptaan atraksi wisata buatan. “Tapi ini perlu keterlibatan ahli agar destinasi mampu menguras kantong wisatawan yang pada gilirannya, itu menciptakan nilai tambah,” ujarnya.

“Bagi aparat pariwisata, Sumatera Utara harus belajar tentang pariwisata Malaysia, khususnya Penang dan Malaka, yang karena tatakelolanya membuat wisatawan merasa enjoy dengan berbagai kemudahan dan harga yang relatif terjangkau. Apalagi sajian pelayanan maskapai AirAsia dengan berbagai kemudahan melalui layanan E-Ticketingdan E-Boarding menjadikan destinasi Malaysia semakin menarik dan memberi kesan mudah untuk dikunjungi,” pungkasnya. (sam/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top