Nasib Tidak Jelas, Penderitaan Sepanjang Hayat. Begitu Kondisi Guru Honor di Indonesia – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Nasib Tidak Jelas, Penderitaan Sepanjang Hayat. Begitu Kondisi Guru Honor di Indonesia

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Kondisi gaji guru honor di Indonesia masih sangat minim. Untuk itu, PGRI masih berupaya memperjuangkan penetapan standardisasi upah guru honor agar mereka bisa sejahtera.

“Ini yang belum terealisasi. Bayangkan, pekerja saja mendapat UMP (upah minimum provinsi), sementara guru tidak dapat padahal sangat vital. Kalau kesejahteraannya masih terabaikan, bagaimana guru konsen mengajar,” ujar Wakil Ketua Pengurus Harian PB PGRI, Dr Unifah Rosyidi MPd di acara puncak peringatan HUT PGRI ke-70 dan Hari Guru Nasional (HGN) di gedung Dekranasda Jakabaring, kemarin.

BACA JUGA: Guru Honor Tak Diangkat Jadi PNS, Mutu Pendidikan Siap-Siap Nyungsep

Di Indonesia, kata dia, jumlah guru honor mencapai 400 ribu guru. “Alokasi dana BOS untuk upah guru hanya 15 persen. Itu masih kurang untuk menopang pembiayaan guru,” jelas dia. Pihaknya sudah bernegosiasi dengan Menpan-RB, janjinya guru honor mau diangkat.

BACA JUGA: Ribuan Honorer K2 Minta Diangkat Jadi PNS

“Namun, info terakhir tidak ada pengangkatan, olej karena itu kami juga akan lakukan konsolidasi kepada kementerian untuk memperhatikan guru honor. Sebab, kekurangan guru merata di seluruh Indonesia terutama guru SD,” jelasnya.

Wakil Gubernur Sumsel, H Ishak Mekki akan melayangkan surat edaran terkait usulan penetapan upah minimum guru honor. Hanya saja, pihaknya perlu melakukan kajian untuk mengetahui alokasi dana yang bisa digunakan untuk pembayaran guru honor.     “Kita prihatin dengan upah guru honor di bawah UMR. Kami akan berupaya membuat surat edaran setelah melihat APBD kabupaten/kota,” tukasnya.

Sementara, puncak peringatan HUT PGRI dan HGN kemarin dihadiri pengurus PGRI dan 3 ribu guru di Sumsel. Ketua PGRI Sumsel, Ahmad Zulinto SPd MM, mengajak semua yang hadir memaknai pendidikan sebagai suatu investasi sumser daya manusia yang hasilnya tidak terlihat satu dua tahun. ”Tapi puluhan bahkan belasan tahun,” terangnya.

Berbeda dengan investasi bidang ekonomi dan bidang lainnya bisa diketahui hasilnya dalam waktu cepat. “Dalam paradigma pendidikan kita mengenal pendidikan untuk semua, education for all,” ucapnya. Ini dimaksudkan pedidikan tidak membedakan suku, ras, agama, etnis, warna kulit, kaya miskn, desa, kota, umum, agama dan bentuk perbedaan lainnya.

“Jika ada yang membeda-bedakan anak dalam menikmati pendidikan, maka guru harus menjadi yang terdepan,” ucapnya. Ia berharap dukungan, perhatian, dan kerja sama pemerintah kabupaten/kota se-Sumsel agar para guru bekerja profesional, tidak diintimidasi, iming-iming politik, atau hal yang menghambatnya dalam melaksanakan tugas kependidikan. “Khususnya guru yang bertugas di daerah pinggiran dan perbatasan,” tandas dia. (nni/fad/ce2)

To Top