Tayangan Konten Anak-Anak Dibatasi. Siap-Siap Racun Sinetron Racuni Generasi – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Hiburan

Tayangan Konten Anak-Anak Dibatasi. Siap-Siap Racun Sinetron Racuni Generasi

FAJAR.CO.ID- Tayangan ramah anak kian tersingkir dari layar kaca. Orangtua pun harus ekstrawaspada membentengi anak-anak dari konten hiburan yang tidak hanya tak selaras dengan usia, tapi juga kosong unsur edukasi.

Paramita kaget bukan main ketika sepulang kerja mendengar celoteh anak sulungnya. Buah hatinya yang masih berusia enam tahun itu menceritakan jalannya sinetron percintaan yang diputar salah satu televisi swasta.  ”Mama-Mama, itu tadi si Boy pacaran. Pacaran itu apa sih, Ma?” tanya si anak dengan polos. Ketika diselidiki Paramita, anaknya itu ternyata baru saja melihat sinetron
yang ditonton asisten rumah tangga (ART)-nya.

BACA JUGA: KPI Mengaku Tak Tebang Pilih

Pertanyaan si buah hati tersebut menyayat hati Paramita. Sebab, dia memang tak bisa menemani sang buah hati sehari penuh di rumah. Kesibukan di kantor membuat dia kerap memercayakan anak kepada ART.

”Sebenarnya sudah saya siapkan video-video edukasi dan bermain untuk anak-anak. Tapi, kadang yang namanya asisten kan butuh hiburan juga,” keluh Paramita. Yang dia sayangkan, tayangantayangan yang seharusnya khusus dewasa itu dibiarkan di jam-jam saat anak masih beraktivitas.

BACA JUGA: Trailler Perdana Episode Spesial One Piece “ Adventure of Nevalandia”

Yang dirasakan Paramita mungkin juga sebuah kerisauan para orang tua kebanyakan. Terutama mereka yang tak memiliki waktu untuk mendampingi buah hatinya. Atau, tak punya banyak pilihan untuk menghindar dari layar kaca.

Berapa jam dalam sehari anak Anda menonton TV? Tayangan apa yang ditontonnya? Seperti apa jalan ceritanya dan siapa saja tokoh-tokohnya? Mungkin tidak semua orang tua bisa menjawabnya secara pasti.

Roro Hanggono merasakan hal yang sama. Menurut dia, saat ini orang tua punya tantangan besar untuk memilihkan tayangan di layar kaca yang bisa dikategorikan ramah anak. Bahkan, konten dengan label ”tayangan anak” pun sering tidak sesuai dengan usia anak-anak. [NEXT-FAJAR]

Tak jarang, kemasannya saja yang dibungkus dalam film kartun anak. Namun, ketika dicermati, kartun itu memuat dialog dan adegan yang mengandung kekerasan atau ucapan tak sopan, penokohan ekstrem, atau baju serbamini dan terbuka yang dipakai si tokoh dalam film kartun.

Langkah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang memberikan teguran dan evaluasi terhadap beberapa tayangan kartun di televisi mendapat apresiasi dari orang tua. Namun, itu baru langkah kecil. ”KPI hanya salah satu alat bantu.
Kendali utama tetap pada orang tua,” ucap Roro.

Ibunda dua putra, Rayan, 7, dan Raufan, 2, yang merupakan istri aktor Rizky Hanggono itu berusaha melindungi anak dari stimulussti mulus negatif di sekitar. Termasuk, yang sulit dihindari adalah media televisi dan gadget.

Sebagai orang tua, Roro menyadari, dirinya tidak bisa menuntut KPI dan pemerintah. Peran pengawasan dan evaluasi memang ada pada dua pihak itu. Dia berharap evaluasi itu dilakukan secara menyeluruh, tidak parsial dan tidak tebang pilih. Namun, di sisi lain, industri hiburan juga punya kepen tingan. ”Kita pun tak bisa mengontrol industri,” tutur Roro.

Maka, kendali utama ada pada orang tua. Orang tualah yang memiliki tanggung jawab untuk memantau setiap aktivitas sang buah hati. Perempuan yang memiliki bisnis Adhyakti Wedding Planner itu melakukan pengawasan tidak dengan sekadar membatasi jam nonton, melainkan juga dengan mendampingi anak-anak saat menonton TV. Sambil mengajak berdiskusi. ”Kita bahas tokoh mana yang dia suka, kenapa suka, mana yang tidak bagus dan tidak boleh ditiru,” urai Roro. [NEXT-FAJAR]

Dengan begitu, dia sekaligus melatih pola pikir anak sehingga bisa memilah sendiri mana yang boleh ditonton dan
mana yang tidak. Karena sama-sama bekerja, Roro dan sang suami tidak setiap detik ada di samping anak. ”Kadang juga
kebobolan. Tapi, saya dan Rizky berusaha tidak panik,” ujarnya. Dia lalu menyediakan waktu untuk membahasnya dalam diskusi ringan bersama sang putra.

Hal serupa dirasakan Deasy Noviyanti. Presenter sekaligus ibu dua putri, Jazmeen, 8, dan Kenez, 3,5, itu menyayangkan film-film yang ditujukan untuk anak, tapi kontennya tidak sesuai dengan tumbuh kembang anak.

”Karakternya terlalu ekstrem, anak yang nakal digambarkan sangat parah kelakuannya, kasar, dan tidak sopan. Itu bisa terserap oleh anak,” bebernya. Maka, pendampingan orang tua mutlak diperlukan. Itu agar mereka bisa menjelaskan kepada anak mana yang layak ditiru, mana yang harus dihindari.

Tayangan yang boleh ditonton juga tidak sama antara si kakak dan si bungsu. Deasy selektif memilihkan tayangan untuk anak. Tayangan yang eksploratif dan bernilai edukasi boleh ditonton. Sebaliknya, kartun sangat diawasi.

”Karena tidak semua kartun cocok untuk anak. Ambil contoh kartun berjudul Family Guy. Ada kata family, tapi konten dan lelucon di dalamnya benar-benar bukan untuk anak-anak,” urai Deasy.

Serial itu dilarang tayang di Indonesia. Juga, Spongebob yang lebih cocok untuk pre-teen atau remaja daripada anak-anak. Deasy dan suami berusaha memberikan pemahaman berulangulang kepada anak-anaknya. ”Sekarang enggak bisa pakai cara nyembunyiin remote, anak cerdik mencari cara lain,” ungkapnya. (nor/dod/gun/c10/sof)

To Top