Sudirman Said Beberkan Alasan Laporkan Ulah Papa Novanto – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Sudirman Said Beberkan Alasan Laporkan Ulah Papa Novanto

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Menteri ESDM Sudirman Said akhirnya buka-bukaan soal kasus dugaan pencatutan nama Presiden Joko Widodo oleh Ketua DPR Setya Novanto. Saat menghadiri rapat kerja di Komisi VII DPR, Selasa (1/12), menteri yang lebih akrab disapa dengan nama Kang Dirman itu membeberkan kronologis kasus yang kini dikenal dengan sebutan Papa Minta Saha tersebut.

Pada raker itu, sejumlah kalangan Komisi VII DPR yang membidangi pertambangan dan energi mencecar Sudirman soal laporannya ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) terkait pencatutan nama kepala negara untuk meminta saham PT Freeport Indonesia (PTFI). Mantan direktur utama PT Pindad itu lantas menceritakan ‎pertemuannya pertama kali dengan Direktur Utama PTFI, Maroef Sjamseoddin pada November 2014.

Kala itu, Sudirman wanti-wanti ke Maroef dan seluruh pimpinan PTFI agar tidak mengunjungi para politikus. Sebab, Sudirman mengaku tahu Maroef yang berlatar belakang intelijen sudah melakukan lobi-lobi demi perpanjangan kontrak karya PTFI di Papua.

“Saya sudah tahu anda lama beroperasi dan network-nya banyak. Saya tidak ingin dengar anda berkeliling ke stakeholder politik dan menggunakan pengaruh politik dari teman-teman untuk tekan saya. Jadi siapapun dari Freeport bertemu siapapun kemudian seolah-olah bisa mempengaruhi, itu sesuatu yang salah. ” tuturnya menceritakan pembicaraannya dengan Maroef.

Sudirman menegaskan bahwa dirinya mendapat mandat dari untuk membersihkan sektor energi dari para pemburu rente‎. Karenanya sesudah pertemuan dengan Maroef, Sudirman terus mendapatkan update‎ tentang pertemuan dan pembicaraan petinggi PTFI dengan para elite politik.

Hingga akhirnya Maroef tiba-tiba harus bertemu dengan Ketua DPR Setya Novanto. Ternyata Maroef mengaku bingung karena mestinya urusan dengan DPR lewat Komisi VII yang membidangi pertambangan. “Pak Maroef agak kebingungan. Kalaupun mesti ketemu DPR kan Komisi VII, tapi kenapa ketua DPR?” sebut dia.

Akhirnya agar lebih elegan, lanjut Sudirman, PTFI menyurati ketua DPR, DPD dan MPR untuk meminta audensi. Hal itu juga sebagai ajang pengenalan direksi baru PTFI ke lembaga negara.

Untuk pertemuan dengan pimpinan MPR dan DPD dilakukan secara terbuka. Namun menjelang pertemuan dengan Setya. ternyata ada pengkondisian sebelumnya. Sebab, Setnov -sapaan Setya- meminta agar pertemuan empat mata.

“Ketua DPR bilang ke Maroef, “kita atur ketemu ngopi-ngopi. Mau perkenalkan teman  dan ketemunya di luar”. Di situ (Maroef, red) mulai kebingungan, urusannya apa sama Ketua DPR?” tutur Sudirman.

[NEXT-FAJAR]

Pertemuan Maroef dan Setnov berlansung hingga dua kali. Nah, pada pertemuan kedua, Setnov mengenalkan Maroef  ke pengusaha minyak, M Riza Chalid. ‎Hal itu membuat Maroef semakin bingung. ”Ketika ada nama itu (Riza, red), loh ini hubungannya apa karena bukankah kawan ini di migas?” sebut Sudirman.

Menjelang pertemuan ketiga, Maroef kembali melapor ke Sudirman. Kala itu Maroef melapor bahwa Setnov yang mengatur pertemuan ketiga itu.

Selanjutnya, Sudirman mengizinkan Maroef bertemu Setnov lagi dengan syarat seluruh pembicaraan dalam pertemuan itu dicatat. Dari situlah dugaan patgulipat pencatutan nama presiden untuk permintaan saham semakin kuat.

“Saya diberi gambaran yang bertemu, ini ada angka sekian, minta proyek listrik dan segala macam seperti dalam surat saya (ke MKD). Saya dikasih tahu itu sekitar pertengahan Juli,” ungkapnya.

Karena dalam pertemuan itu ternyata ada penyebutan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla oleh Setnov, maka Sudirman pun merasa terpanggil untuk melaporkannya ke MKD. Alasannya, ia tak mau langkah Kementerian ESDM untuk membenahi sektor pertambangan dan energi serta menyingkirkan pemburu rente justru terganggu oleh pencatutan nama kepala negara.

Karenanya Sudirman menepis anggapan bahwa dirinya bermaksud membuat keriuhan. Selain itu, ia juga tak mau dianggap menebar fitnah. “Maka saya berkesimpulan paling tepat lapor MKD. Karena saya yakin MKD tugasnya menjaga kehormatan, martabat, dan kerukunan,” jawab dia.

Setelah laporan itu, Sudirman menegaskan langkahnya melapor ke MKD sudah tepat. Ia bahkan mengaku sudah fokus lagi memimpin Kementerian ESDM.

‎”Jelas saya nyatakan di sini tugas utama saya bukan lapor MKD. Tugas utama saya mengurus sektor ini dan program dari pemerintah. Dan saya sudah laporkan, saya kembali ke track mengurus urusan penting atau utama di Kementerian ini,” pungkasnya. (dna/JPG)

loading...
Click to comment
To Top