Promosi Indonesia Melalui Museum Vatikan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Budaya & Pariwisata

Promosi Indonesia Melalui Museum Vatikan

FAJAR.CO.ID, VATIKAN – Menteri Pariwisata Arief Yahya melakukan kunjungan ke Vatikan untuk membahas implementasi kerja sama dengan Museum Vatikan, khususnya dalam promosi mengenai Indonesia.

Dalam kunjungan tersebut, Menpar yang didampingi Dubes RI untuk Vatikan Budiarman Bahar dan diterima President of the Vatican City State, Cardinal Giuseppe Bertello, terkagum melihat Museum Etnologi yang mereka kelola.

Karena di museum yang terletak dalam benteng Vatican City, yang setiap tahun dikunjungi 6 juta turis itu, Galeri Kebudayaan Indonesia mendapat tempat terluas. Hal ini membuktikan Indonesia mendapat posisi amat terhormat di Vatikan.

Bahkan begitu masuk ke ruang Museo Etnologico Musei Vaticani, para pengunjung segera disambut patung primitive buah karya Suku Asmat dari Papua.

“Patung Katu dengan sosok dua manusia bertumpuan menjulang di sudut kanan ruangan, dari lantai sampai ke langit-langit yang tingginya sekitar 8 meter. Karya itu seolah disejajarkan dengan lukisan dan patung-patung karya Michael Angelo,” kata Menpar dalam siaran persnya.

Menpar semakin kagum tat kala menikmati sepanjang koridor sebelah kiri, dari ujung ke ujungyang merupakan Indonesia Permanent Exhibition Area. Di sana penjor Bali, janur melengkung dengan berbagai hiasan di ujungnya, yang biasa dipakai dalam upacara adat di Pulau Dewatabegitu mendominasi.

Pengunjung museum pun akan disambut wayang kulit yang dipajang dengan sketsel atau pembatas ruangan ala Jawa. Tiga plong slintru (istilah tradisional Jawa dari sketsel itu, red) itu bergambar wayang Puntadewa (kiri), Gunungan (tengah) dan Kresna (kanan). Puntadewa atau Yudistirasaudara tertua lima tokoh Pandawa. Ia dikenal tenang, halus dalam bertutur, jujur, memihak kebenaranmeski punya sifat buruk: suka berjudi.

Dia juga memiliki ajian Serat Kalimasada, yang dalam tradisi Jawa juga dimaksudkan sebagai Dua Kalimat Syahadat. Sedangkan tokoh Kresna, atau Krisna, atau sebutan lainnya Narayana, adalah politisi paling handal, diplomat ulung dalam jagat pewayangan. Sementara Gunungan melambangkan belantara negara, yang lengkap ada sisi baik dan buruk, gelap dan terang, barat dan timur, kiri dan kanan. “Saya memang suka wayang sejak kecil,” ungkapnya.

Menurut dia, pemilihan model tokoh wayang tersebut sangat pas untuk dijadikan mascot ajang pameran dan diplomasi di Vatikan. Tak hanya kental dengan unsur budaya, ia juga kaya filosofi hubungan internasional.

Tidak hanya itu, replika Borobudur dari batu hitam yang detail, dengan ratusan stupadan berdiri tegak simetris di keempat sisinya, membuat Menpar kagum.Apalagi ada outdoor di balik dinding kaca, yang menampilkan cuplikan beberapa relief Borobudur dari cetakan batu berwarna cokelat mediterania. Relief itu sumbangan dari Pemerintah Belanda, tahun 1920, jauh sebelum Indonesia Merdeka. Artinya, sejak dulu pun nama Borobudur telah tersohor dan menjadi magnet budaya yang diakui dunia.

Belum lagi adanya Alquran terkecil di dunia, yang ukurannya hanya sebesar dua tuts personal komputer. Kitab suci itu jelas hanya bisa dibaca dengan kaca pembesar. Alquran itu berada dalam kompartemen yang sama dengan beberapa replika Rumah Gadang Minangkabau yang terbuat dari perak.

Museum ini menarik, karena berada di Vatikan, negara terkecil dengan 842 jiwa, namun dikunjungi jutaan orang dari berbagai negara, berbagai agama dan latar belakang budaya yang berbeda.

Yang membuat Menpar mengaku tercengang, di ujung Indonesia Corner seluas 400 meter persegi itu, terdapat banner vertical berbunyi Wonderful Indonesia, dengan tema Indonesia the land of harmony.

“Kami berterima kasih. Kita diberi tempat yang luas, istimewa dan permanen di Museum Vatikan. Hal itu seolah menjaring di kolam ikan. Ada 6 juta orang, jadi ikannya sudah ngumpul di museum itu,” demikian Arief. [zul]

Click to comment
To Top