Kisah R Westerling, Sang Begal dari Turki. Klaim Hanya Membantai 400 Jiwa – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Makassar

Kisah R Westerling, Sang Begal dari Turki. Klaim Hanya Membantai 400 Jiwa

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Masyarakat Sulawesi Selatan tidak akan pernah lupa dengan “Sang Begal” nan beringas, Raymond Pierre Paul Westerling. Pria kelahiran Istanbul, Turki, dari seorang ayah berdarah Belanda (Paul Westerling) dan ibu Yunani (Sophia Moutzou).

Sosoknya akan terus diingat setelah membantai warga Sulsel yang diklaim mencapai 40 ribu jiwa. Ini pula yang membuat setiap tanggal 11 Desember diperingati sebagai hari Korban 40 Ribu Jiwa.

Putra Sulsel kelahiran Kota Parepare, Prof Salim Said adalah orang yang bisa bertatap muka dengan komandan pasukan khusus Belanda ini. Salim Said menemuinya di negaranya, Amsterdam, Belanda pada tahun 1969. Saat itu Salim Said adalah wartawan majalah Ekspres yang merupakan cikal bakal Majalah Tempo.

Dia menemuinya di sebuah restoran dengan pengawasan ketat setelah berhasil membuat kesepakatan bertemu dengan Westerling via telepon.

Kesempatan ke Belanda dalam rangkaian training jurnalistik di Utrech benar-benar dimanfaatkan Salim Said untuk menjawab rasa penasarannya pada sosok Westerling. Seorang pimpinan militer Pemerintah Belanda yang dengan tanpa ampun memberondong peluru masyarakat Sulsel antara Desember 1946- Mei 1947. Atau dalam sejumlah literatur menyebut dalam tempo 160 hari (dari 11 Desember 1946-22 Mei 1947) dengan sebaran wilayah operasi Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene, Barru, Sidenreng Rappang, Pinrang, dan Polewali Mandar.

Salim Said sendiri saat menemui Westerling, tidak ragu mengatakan, dirinya termasuk yang siap meminta pertanggungjawaban atas peristiwa itu saat ditanya apakah masyarakat Indonesia masih membencinya. Meski Salim menyebut, apa yang dilakukan Westerling pun mau tidak mau telah diserahkan kepada sejarah terlepas perbuatan ini tetap adalah perbuatan keji. Tapi kata Westerling kepada Salim Said, tindakannya dibenarkan karena dalam keadaan perang. “Well Mr Said. It’s war,” ucapnya kepada Salim.

Pertemuan dengan Westerling ini pun dituangkan secara gamblang dalam buku yang ditulis alumnus Universitas Indonesia ini berjudul “Dari Gestapu ke Reformasi”. Dalam pengungkapan, Salim Said disebutkan, apa yang dikira orang bahwa Westerling ganas bisa terlihat dari raut wajahnya. Peristiwa berlalu lebih dari satu dekade, Salim Said melihat langsung wajah Westerling. Dan benar saja, terlihat ganas secara gestur.

Westerling pada saat itu juga masih ditemani beberapa anggotanya yang juga ikut dalam operasi Westerling. Dengan memperkenalkan diri sebagai jurnalis asal Sulsel dan tidak datang untuk membalas dendam, Westerling dengan ramah melayani Salim Said. Wajah ganas, tetapi dia berusaha lembut dengan Salim. Meski dia sangat tahu, dirinya pasti akan diberondong pertanyaan setelah ditulis dalam sejarah sebagai orang yang patut diadili pada Pengadilan HAM Internasional.

[NEXT-FAJAR]

westerling2Perbuatan Westerling jelas adalah salah satu bentuk dari praktik genosida. Sebuah tindakan brutal dengan membunuh nyawa secara massal. Ini adalah kejahatan HAM berat yang diatur dalam Piagam HAM yakni Universal Declaration of Human Right 1948. Sayang, Westerling meninggal dunia sebelum menjalani peradilan. Hal inilah yang membuat Salim Said sangat ingin mendengar dari bibir sang pelaku, Westerling secara langsung.

Namun, dalam pertemuan itu, Westerling secara singkat menyebut dirinya tidak pernah merasa bersalah. Alasannya, operasi yang dilakukan adalah upaya menumpas orang yang dia klaim sebagai pembuat onar, pemberontak negara, pencipta kesemrawutan, dan kelompoknya tidak resmi. Itu sebabnya, dalam pertemuan itu, Westerling lalu mengingatkan bahwa dia sempat menangkap seseorang namun tidak dieksekusi karena seorang tentara (TNI).

Perbincangan Salim juga mengalir hingga pada jumlah korbannya. Westerling pun membantahnya. Dia menyebut, apa yang disebutkan tidaklah rasional dengan jumlah sampai angka 40 ribu jiwa. Dia mengklaim tidak dalam jumlah itu. Melainkan hanya berkisar 400 jiwa lebih. Kendati dia tidak bisa juga membantah kemungkinan ada warga lain yang dieksekusi pasukannya pada sebaran wilayah-wilayah operasinya. Tetapi dia membantahnya. “Sebenarnya semua ini telah saya urai dalam buku saya,” kata Salim Said, Rabu 9 Desember.

Salim Said mengaku saat bertemu dengan Westerling tidak ada rasa khawatir. Keinginan untuk menggali informasi dari sumber pertama adalah targetnya. Sebagai seorang jurnalis, dia memiliki ambisi itu. Sekalipun dia harus memperkenalkan dirinya dari Sulsel. Bahkan tidak takut mengawali sapaannya pada Westerling dengan menyebut, orang tuanya nyaris saja menjadi korban orang yang ada di hadapannya. Tetapi keluarganya jelas ada yang jadi korban dan masyarakat Sulsel pada khususnya. (arm-sam/ars/rif/FAJARONLINE)

loading...
Click to comment
To Top