Kisah Westerling, Sang Begal dari Turki. Yang Dicap Ekstrimis Langsung Ditangkap Lalu Dibunuh – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Makassar

Kisah Westerling, Sang Begal dari Turki. Yang Dicap Ekstrimis Langsung Ditangkap Lalu Dibunuh

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR—Pembantaian pejuang dan warga Sulsel sekitar 1946-1947 oleh tentara KNIL piminan Westerling hingga kini jumlahnya simpang siur. Saat itu Belanda belum mengakui kemerdekaan Indonesia. Terjadi pergerakan melawan Belanda. Antara lain dari Andi Selle, Andi Sose, Andi Mattalatta, Bau Massepe, Kahar Muzakkar, dan lainnya. Para pejuang ini dan pengikutnya dianggap ekstrimis, sehingga semua warga yang bersimpati pada ekstrimis harus dilumpuhkan.

Terjadilah pembakaran rumah penduduk, pembunuhan tanpa pengadilan dengan tujuan melemahkan perlawanan rakyat. Itulah strategi Westerling melemahkan perlawanan masyarakat dengan membumihanguskan rumah, membuat pagar betis mencari yang mereka sebut ekstrimis

Pengakuan Raymond Pierre Paul Westerling kepada Salim Said, bisa jadi ada benarnya. Apalagi, pembantaian pejuang dan warga Sulsel sekitar 1946-1947 oleh tentara KNIL piminan Westerling hingga kini jumlahnya simpang siur. Data terkait jumlah korban pada masa itu tidak diketahui pasti oleh pejuang yang masih hidup, maupun anak korban pembantaian. Meski begitu, Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) di Belanda mengklaim jumlahnya mencapai angka 3.000 orang.

Terkait hal tersebut, FAJAR bertemu seorang pejuang di masa itu, Dr AR Mustara. Pria yang lahir pada 31 Desember 1930 ini mengisahkan, saat itu usianya telah remaja, 16 tahun. Pada Oktober 1945, dia masuk hutan di daerah Massenrempulu, Enrekang, mengikuti latihan militer yang diselenggarakan Laskar PP Ganggawa di Pegunungan Cuncung.

Sekitar 1947 pelatih dari Jawa berangkat ke Paccekke dan bertemu di jalanan saat hendak menghadiri Konferensi Paccekke. Sampai di Paccekke ada informasi mereka akan diserang tentara het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda.

“Karena informasi itu, senjata yang kami pegang yang namanya Owen, kita pegang bergiliran. Kemudian kami berikan kepada pasukan dari Jawa yang sudah mahir pegang senjata. Akhirnya sekitar pukul 05.00, kami memang diserang oleh tentara Belanda,” kisah mantan pengacara tiga wali kota ini.

Pemberi informasi, kata dia, ternyata mata-mata yang memang banyak disebar Westerling saat itu. Tentara KNIL ternyata menyerang dari belakang. “Teman saya gugur tujuh orang. Belanda mengira berhasil menghalau konferensi Paccekke. Padahal, konferensi tetap lanjut dengan agenda pembentukan tentara Indonesia Timur. Konferensi Paccekke inilah yang akhirnya bisa membentuk tentara di Indonesia wilayah timur,” kisahnya.

Setelahnya, Mustara hendak kembali ke daerahnya di Tanete, Sidenreng Rappang. Namun, dia mengaku harus bersembunyi karena hampir separuh penduduk kampung dipaksa mencari para pejuang.

“Sebenarnya mereka diancam oleh Belanda. Jika warga kampung tidak membunuh atau menyerahkan kami (para pejuang), merekalah yang akan dibunuh oleh tentara Belanda atau kampung mereka akan dibakar. Kami terpaksa mengubah nama dan pergi ke kampung lain yang tidak mengenal kami sebagai pejuang,” kisah AR Mustara

[NEXT-FAJAR]

Dia menambahkan, nama aslinya adalah Sa’ad, namun karena dia hendak diselamatkan oleh keluarganya dari peristiwa pembantaian itu, dia pun mengubah namanya Anwar Rappang Mustara. Nama itulah yang melekat hingga sekarang. “Saya tidak tahu pasti berapa jumlah korban saat itu. Pastinya, saat itu warga sipil juga ketakutan. Kami (pejuang) lebih banyak berada di hutan menghindari mata-mata dan pasukan Belanda,” kisahnya.

Sementara itu, salah seorang anak korban pembantaian itu, Prof Dr Muhammad Arief, juga mengisahkan hal yang terkait erat peristiwa itu. Ayahnya bernama La Raung Daeng Lolo, korban tentara KNIL yang dipimpin Westerling pada 1947.

Pada waktu pembantaian, Arief mengaku masih berusia enam tahun. Saat itu Belanda belum mengakui kemerdekaan Indonesia. “Menurut Dinas Sosial rumah penduduk dibakar sekitar pertengahan bulan Februari 1947,” urai guru besar fakultas teknik Unhas ini.

“Setelah rumah kami dibakar, bapak kami ditangkap beserta beberapa orang dibawa ke Langnga. Dan, tiga hari kemudian ibu memeluk saya dan mengatakan bapak saya sudah gugur. Kalau saya memperkirakan, jumlah korban yang dibantai Westerling dan pasukannya tidak sampai 40.000. Itu hanya perkiraan Kahar Muzakkar. Data yang kami peroleh di yayasan KUKB di Belanda sekitar 3.000-an,” ucap pengurus yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda Perwakilan Sulsel tersebut.

westerling-jagal-terkutuk

Hanya saja, lanjut dia, menurut versi Andi Mattalatta, jumlahnya bahkan sampai 45.000. Namun, angka itu merupakan jumlah keseluruhan korban antara 1945 hingga 1949. Setelahnya, pada 1950, sudah penyerahan kedaulatan ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Perlu diingat, setelah peristiwa itu, mata-mata yang banyak disebar oleh Westerling juga dibunuh oleh pejuang setelah Westerling angkat kaki. Jadi angka 45.000 versi Andi Mattalatta sudah termasuk angka para mata-mata,” katanya.

Cegat Westerling

Dengan menggunakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), Westerling akan menyerang Jakarta dari Bandung. Markas tentara Siliwangi di Bandung diserbu, 94 anggota TNI gugur termasuk Letkol Lembong. Aksi berlangsung 23 Januari 1950. Di pihak APRA tidak jatuh korban. Menurut Westerling, simpatisan APRA ada 500 ribu orang.

Kudeta akan diteruskan ke Jakarta. Untuk itu Westerling konon mengajak serta Sultan Hamid II, penguasa kesultanan di Pontianak, yang di dalam pemerintah federal RIS pegang posisi penting.

Mengikuti perkembangan tersebut, salah satu kompi anak buah Andi Mattalata dengan komandannya Andi Oddang ditugasi untuk mengamankan wilayah bisnis Glodok. Andi Mattalata dengan pasukan kecil satu regu berangkat ke Jakarta dari Makassar, kalau bisa untuk mencegat Westerling. Ternyata Westerling diam-diam sudah dibawa ke Singapura.

Aksi APRA di Jakarta juga gagal. Ajakan kerja sama dengan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) dan pasukan liar eks-KNIL yang diharapkan, ternyata tidak muncul. Westerling sempat menyusul ke Jakarta untuk kemudian bertemu Sultan Hamid II. Dikabarkan Sultan Hamid II marah kepada Westerling.

Sultan Hamid II kemudian diadili dan dihukum penjara 10 tahun pada 8 April 1950. Dia ditangkap di Hotel Des Indes (sekarang pertokoan Duta Merlin, Jl. Gajah Mada, Jakarta Pusat) setelah bertemu Westerling. Dalam buku biografi Westerling memang disebutkan harapannya, Sultan Hamid II supaya memimpin kudeta. Sultan Hamid kurang berminat karena rincian rencananya tidak diceritakan Westerling. Dia diberhentikan sebagai menteri negara.

Setelah menyerang Bandung, pasukan Westerling di bawah komando Sersan Meijer, berencana menyerang Sidang Dewan Menteri Republik Indonesia Serikat di Jakarta. Meijer berencana membunuh sejumlah tokoh, yaitu Menteri Pertahanan, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Sekretaris Jenderal Kemenhan Ali Budiardjo, serta Kastaf TNI Kolonel Tahi Bonar Simatupang.

[NEXT-FAJAR]

Fasilitas pemerintah Belanda di Jakarta diam-diam diberikan. Dengan cepat Westerling dipersiapkan meninggalkan Jakarta. Dia dibuatkan paspor palsu. Pesawat amphibi Catalina membawanya mendarat di laut dekat Singapura. Menurut pengakuan Westerling, pelampung yang digunakannya bocor lalu dibantu oleh oganisasi Cina pro Belanda. Dia ditangkap di Singapura. Pada 21 Agustus 1950 Westerling bebas terus pergi ke Belgia.

Perdana Menteri Mohammad Hatta melayangkan protes kepada Hirschfeld sebagai perwakilan Sekutu dan menerangkan bahwa pemerintah RIS, akan memerintahkan penangkapan terhadap para antek Westerling.

Gerakan APRA memalukan Belanda di dunia internasional. Dubes Belanda untuk Amerika Serikat, van Kleffens, pernah merasa bahwa pemerintahnya dianggap licik oleh masyarakat AS.

Di Belanda, Westerling dianggap sebagai pahlawan. Atas tuduhan melakukan pembunuhan ribuan orang di Indonesia dan atas desakan berbagai pihak, pemerintah di Negeri Belanda mengadakan investigasi. Sudah dapat diduga sebelumnya, hasilnya adalah Westerling dinyatakan tidak bersalah. (arm-sam/ars/rif/FAJARONLINE.COM).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top