MIRIS!!! Di Dusun Ini Rupiah Tidak Laku, Transaksi Gunakan Ringgit – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

MIRIS!!! Di Dusun Ini Rupiah Tidak Laku, Transaksi Gunakan Ringgit

FAJAR.CO.ID, KALBAR Kalimantan Barat mempunyai banyak daerah yang berbatasan dengan Malaysia. Namun, melihat Desa Sungai Tembawang, kondisinya memprihatinkan jika dibandingkan dengan daerah di negeri jiran. Seperti yang terjadi di Desa Sungai Tembawang masuk Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Desa tersebut terdiri atas sepuluh dusun. Meski berada di wilayah Indonesia, dua dusun di desa itu sama sekali tidak merasakan sentuhan pembangunan. Bahkan, masyarakatnya lebih merasa menjadi bagian dari Malaysia. Bahkan, lebih mirisnya lagi, transaksi jual belinya pun menggunakan uang ringgit Malaysia.

Dilihat dari pertumbuhan ekonomi maupun infrastruktur, Kalimantan Barat dengan Sarawak, Malaysia, ibarat antara langit dan bumi. Baik aktivitas perekonomian maupun infrastruktur, pemerintah Indonesia jauh tertinggal.

”Perputaran uang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka menggunakan uang ringgit,” ungkap Gak Muliadi, kepala desa Sungai Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau.

Dua dusun yang dimaksud Gak Muliadi adalah Dusun Gun Jemak dan Gun Tembawang. Wilayahnya berbatasan langsung dengan Malaysia. ”Kalau mau ke Kota Entikong, sangat jauh. Warga tidak mampu. Ongkos transportasi sangat mahal,” ucap Gak Muliadi.

Pada musim kemarau, warga Dusun Gun Jemak dan Gun Tembawang yang pergi ke Entikong memakan waktu sekitar delapan jam. Apabila musim hujan, Entikong bisa ditempuh lima jam hingga enam jam melalui jalur air.

”Hanya jalur air yang bisa digunakan warga dua dusun tersebut pada musim hujan,” terang kepala desa yang baru menjabat dua tahun ini.

Sementara itu, apabila menuju wilayah Malaysia, tambah Gak Muliadi, mereka hanya memerlukan satu jam berjalan kaki secara santai. ”Kalau pergi ke Malaysia, warga Dusun Gun Jemak dan Gun Tembawang palingan hanya membutuhkan 15 menit karena sudah terbiasa berjalan cepat,” ungkapnya.

[NEXT-FAJAR]

Biaya yang harus dikeluarkan warga dusun menuju kota Kecamatan Entikong, tambah Gak Muliadi, bisa Rp 2 juta lebih. Itulah yang mengakibatkan warga dusun tersebut enggan ke mana-mana dan memutuskan bertransaksi jual beli menggunakan ringgit.

”Sebenarnya warga di dua dusun tersebut bukan tidak mengenal rupiah. Namun, perputaran uang di situ hari-harinya pakai ringgit,” ucap Gak Muliadi.

Rata-rata warga Dusun Gun Jemak dan Gun Tembawang menjadi petani. Mereka menjual hasil panen ke Malaysia. Alasannya, lanjut Gak Muliadi, kawasannya dekat dan infrastruktur memadai.

Kemudian, terpenting bagi warga, mereka sudah terbiasa bertransaksi menggunakan ringgit. ”Kalau hasil panen dijual ke Etikong, habis untuk biaya transportasi dan uangnya juga tak bisa digunakan untuk bertransaksi karena bukan ringgit,” jelas Gak Muliadi.

Di dua dusun itu transaksi rupiah bergantung kepada pemilik warung. Ada yang menerima dan ada pula yang menolak. ”Sebagian besar tidak mau menerima rupiah. Rata-rata pakai ringgit,” jelasnya. (fia/JPG/c4/diq)

loading...
Click to comment
To Top