Di Bogor, 200 Ribu Warganya Mendadak Jadi Jutawan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Di Bogor, 200 Ribu Warganya Mendadak Jadi Jutawan

FAJAR.CO.ID, BOGOR-Tahun ini bukanlah tahun yang ramah bagi pelaku ekonomi. Krisis global bahkan telah menyedot sebagian harta sejumlah hartawan dunia. Meski demikian, di Bogor justru terjadi anomali.

Populasi orang kaya baru sedang beranak pinak.Kedua mata Layla Rachmania tampak jelalatan saat melangkah masuk ke dalam ruangan showroom mobil di bilangan Pajajaran. Bagi dia, mobil ibarat kaki bagi tubuh. Sebuah kebutuhan untuk untuk beraktivitas sehari-hari.

BACA JUGA: Mantan Presiden, Try Sutrisno Ditunjuk Jadi Saksi Pernikahan Nabila Syakieb

“Tapi, yang paling penting, mobil ini untuk keluarga. Saya punya dua anak. Kalau akhir pekan suka maen gitu,” kata warga Ciawi, Kabupaten Bogor ini.

Selama ini mobil yang digunakan Layla adalah jenis minibus pabrikan Korea, senilai Rp175 juta. Setahun lebih menggunakannya, dia merasa kurang cocok.

BACA JUGA: Diwakili Menteri Puan, Jokowi Tegaskan Tunjangan Profesi Guru Tidak Dihapus

Layla membutuhkan ’’kaki’’ baru yang lebih mumpuni, atau mengambil bahasa transkrip kasus ’’papa minta saham’’, wanita karier ini butuh mobil yang lebih ”representatif” untuk menunjang bisnisnya.

Uang untuk membelinya pun sudah disiapkan jauh-jauh hari. Uang itu terkumpul dari hasil keringatnya bersama Harry Firmansyah, sang suami. Pendapatan keduanya terbilang lebih dari cukup. Tak disebutkan jelas nominalnya, hanya kisaran, sekitar Rp10 juta.

Layla merupakan potret sekian banyak masyarakat Bogor yang naik kelas menjadi orang kaya baru. Apa yang terjadi pada wanita berhijab itu pun terjelaskan secara rinci pada Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor.

BPS mencatat, terjadi peningkatan pada pendapatan warga Kota Hujan ini. Tolok ukurnya adalah pendapatan domestik regional bruto (PDRB) per kapita. Bila ditilik dari 2010 hingga 2014, angkanya meningkat. Margin per tahunnya sebesar Rp2 juta.

“Untuk 2014, angka sangat sementara pada PDRB per kapita Kota Bogor adalah Rp28,23 juta. Pada 2013, angka sementaranya adalah Rp25,72 juta. Jadi, meningkat,” kata Kepala BPS Kota Bogor, Budi Hardiyono.

Sedangkan untuk 2015, kata Budi, pihaknya masih melakukan pendataan. Sebab, angka pendapatan per tahun itu harus komprehensif atau menyeluruh.

“Sedangkan saat ini kita masih sisa satu bulan, Desember. Jadi, untuk pendapatan 2015 baru akan terlihat pada 2016 nanti,” jelasnya.

Secara umum, jika ditinjau dari nilai PDRB tersebut, kata Budi, yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun menandakan masyarakat Kota Hujan kian makmur. Hal ini sebagai akibat dari peningkatan output produksi sektor ekonomi.

Kendati demikian, angka kemakmuran yang diperoleh dari implikasi kenaikan PDRB per kapita belum dapat dijadikan ukuran baku kesejahteraan masyarakat.

“Karena belum mengandung unsur pemerataan distribusi pendapatan,” ujar Budi dalam keterangannya.

Selain itu, BPS juga mencatat laju pertumbuhan perekonomian Bogor adalah signifikan. Hal ini bisa dilihat dari nilai PDRB atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha.

Ada 21 kategori, dan yang terbesar adalah kategori perdagangan besar, eceran reparasi mobil dan sepeda motor sebesar Rp6,476 juta atau 22,5 persen. Terbesar lainnya adalah industri pengolahan yakni Rp5,393 juta atau 18,53 persen.

Lalu, disusul kategori lainnya yang nominalnya rata-rata Rp3 juta, Rp1 juta, dan ratusan ribu. Namun, di lain hal, jika merujuk pada pertumbuhan PDRB per kapita, dari 2013 ke 2014 mengalami penurunan. Yaitu, dari 10,07 persen menjadi 9,77 persen.

“Perlambatan ini dikarenakan pada 2013 dan 2014 sebagai efek krisis nasional dan global. Maka, nilai PDRB Kota Bogor pada 2014 adalah Rp29,102 triliun,” kata Budi sesuai rilisnya. (lzo/radarbogor)

loading...
Click to comment
To Top