50 Persen Obat dan Kosmetik Online adalah Palsu – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

50 Persen Obat dan Kosmetik Online adalah Palsu

FAJAR.CO.ID, SURABAYA – Penjualan obat tradisional dan kosmetik secara online memang sedang diawasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hasilnya mengejutkan, 50 persen obat dan kosmetik yang dijual secara online adalah palsu.

Pemusnahan yang dilakukan oleh BBPOM Surabaya telah selesai dilakukan. Bukan berarti pekerjaannya  juga turut selesai.

Pengawasan terhadap peredaran obat dan kosmetik secara online saat ini sedang dilakukan. “Saat ini  kami sedang mengarah kepada cyber crime,”  ujar Kepala BPOM Pusat Roy Alexander Sparringa seperti yang dilansir Radar Surabaya (Jawa Pos Group), Senin (14/12).

Roy menambahkan, memang pengawasan terhadap peredaran obat tradisional sedang digiatkan. Bahkan operasi khusus sedang menjadi perhatiannya.

Angka pelanggaran yang terjadi terus meningkat dari tahun ke tahun. “Kami akan lakukan lebih terhadap pengetatan pengawasan obat tradisional secara online ini,” jelasnya.

Pihak BPOM pusat telah menutup ratusan situs yang menjual obat dan kosmetik palsu. Palsu artinya,  selain menjiplak nama dagang obat yang telah ada, juga obat dan kosmetik yang tidak memiliki izin  produksi dan izin edarnya.

Tak hanya itu, kandungan bahannya juga membahayakan. Lantaran, campuran bahan kimia yang tidak sesuai takaran dapat menimbulkan banyak penyakit.

Sedangkan di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya juga sedang melakukan peningkatan pengawasan peredaran kosmetik dan obat yang dijual secara online.

Temuannya di lapangan, 50 persen kosmetik adalah palsu. Sedangkan untuk obat, presentasenya lebih  rendah. “Angkanya sekitar 20 persen obat palsu yang beredar di internet,”  ujar Kepala Seksi Penyidikan BBPOM Surabaya Siti Amanah ketika dihubungi, Minggu (13/12).

Berbagai usaha telah dilakukan oleh pihak penyidik BBPOM. Salah satunya dengan menutup situs penjualan obat dan kosmetik palsu. Bahkan, penggerebakan juga dilakukan terhadap toko atau rumah  yang diduga menjual obat palsu.

“Hasil penyelidikan,  kemudian kami tindak lanjuti dengan menggerebek tempat tersebut,” paparnya.

Amanah  melanjutkan, untuk menemukan tempat distributor penjual obat dan kosmetik palsu diakuinya tidak gampang. Selama ini temuan di lapangan, penjualnya didominasi oleh toko pinggir jalan.

Seperti toko jamu kuat atau toko kelontong kecil-kecil. “Kesulitan yang  kami  hadapi.  Biasanya  sampai di lokasi yang dicurigai, barangnya tidak ada,” urainya.

Sebenarnya tidak hanya berupa toko. Setelah dilakukan penyidikan, mereka menggunakan perkumpulan  untuk menutupi jualan obat dan kosmetik palsu tersebut. “Kelompok pengajian tersebut digunakan sebagai kedok saja,” jelasnya. (no/jpg)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top