Juara Terbaik Insight Challenge ITB Gara-gara Alat Penjernih Minyak Jelantah – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Juara Terbaik Insight Challenge ITB Gara-gara Alat Penjernih Minyak Jelantah

KUDUS – Gara-gara menciptakan alat penjernih minyak jelantah yang idenya didapat dari keprihatinan masyarakat lingkungan sekitar, membuat dua siswi SMA 2 Kudus berhasil menjadi juara terbaik pada ajang Insight Challenge yang diselenggarakan ITB beberapa waktu lalu.

Dua siswi SMA 2 Kudus, Nabila Intan dan Maulida Mardhatilah dengan berbekal keprihatinan dari perilaku masyarakat yang kerap membuang minyak jelantah hasil penggorengan, dua pelajar itupun berhasil menciptakan alat kreatif.
“Minyak jelantah dianggap limbah sehingga kerap dibuang sembarangan. Makanya kita terinspirasi membuat alat untuk menjernihkan minyak jelantah itu. Dan diuji lab hasilnya higienis dan aman untuk digunakan menggoreng kembali,” kata Nabila, Selasa (15/12).
Alat penjernih minyak jelantah yang diciptakan Nabila dan Maulida tersebut kemudian diberi nama “ecofable”. Alat yang unik itu sangat ramah lingkungan dan mampu menjernihkan minyak jelantah.
Nabila menjelaskan, untuk menjernihkan satu liter minyak jelantah, dibutuhkan sekitar setengah liter kulit pisang. Kulit tersebut bisa langsung dimasukkan ke dalam alat yang terdiri dari mekanika, tiga saringan, dan teko.
Minyak jelantah dimasukkan dalam teko dibiarkan selama 30 menit. Dan hasilnya bisa diambil melalui kran yang terdapat di teko paling bawah. “Caranya sebenarnya simpel. Tapi hasilnya bermanfaat bagi banyak orang,” sebut Nabila.
Maulida menambahkan minyak yang keluar dari teko melalui kran itu sudah siap digunakan kembali untuk menggoreng karena telah jernih dengan kadar lemak jenuh yang sangat kecil atau mendekati minyak baru.
Menurutnya, kulit pisang dipilih karena lebih aman digunakan dan tidak merubah warna serta aroma minyak yang bersih. Selain itu, kulit pisang memiliki kadar vitamin C yang cukup tinggi sehingga menambah kadar vitamin dalam minyak goreng.
Untuk memproduksi alat ini, kedua siswi ini menghabiskan biaya Rp 300 ribu. Sementara waktu yang dibutuhkan untuk proses produksi mencapai satu minggu.
“Sebenarnya biayanya bisa ditekan kalau memproduksi banyak. Waktunya juga dapat dipersingkat karena sudah paham detail pembuatannya,” terangnya.
Sementara itu, alat hasil penelitian kedua pelajar ini telah memenangkan Insight Challenge yang digelar oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) baru-baru ini. Ia berhasil menyisihkan 178 peserta lain yang berasal dari berbagai sekolah di Indonesia.
“Awalnya kami mengikuti tahap penyisihan dengan mengajukan hasil penelitian ilmiah ini, kemudian lolos lima besar untuk mengikuti presentasi dan pameran di ITB,” ungkapnya.
Hasil presentasi karya dua remaja putri itu akhirnya dinyatakan sebagai juara pertama. Sedangkan dari hasil pameran, mereka berhasil menjadi juara favorit karena stan yang didirikan paling banyak dikunjungi.
“Setidaknya lebih dari 250 pengunjung yang mengunjungi stan kami dan tertarik dengan alat ini. Semoga ke depan alat ini bisa diproduksi massal agar lebih bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (nr)

loading...
Click to comment
To Top