Pilkada Muna Makin Panas, Kantor KPUD Diserbu Massa – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Pilkada

Pilkada Muna Makin Panas, Kantor KPUD Diserbu Massa

FAJAR.CO.ID, RAHA – Aparat kepolisian dibuat bekerja keras mengamankan jalannya proses Pilkada di Kabupaten Muna. Sehari menjelang pleno rekapitulasi suara di KPU digelar, situasi cenderung kian panas. Siang kemarin (16/12), terjadi aksi demonstrasi oleh massa pendukung pasangan nomor urut 1, Rusman Emba-Malik Ditu (Rumah Kita) yang memprotes sikap KPU yang menolak rekomendasi Panwas Muna, agar dilaksanakan Pemungutan Suara Susulan (PSS) di Desa Oempu, Kecamatan Tongkuno.

Akibat unjuk rasa itu, seorang anggota kepolisian yang bertugas mengamankan aksi, Kaurbin Lantas Polres Muna, Ipda Lewi Satu, terluka di bagian kepala terkena lemparan batu. Tapi polisi tidak langsung bereaksi, tapi terus berupaya memediasi pertemuan anggota KPU dengan massa. Dua anggota KPU, Muh Suleman dan Andi Arwin keluar, tapi ditolak dan ingin bertemu semua anggota komisioner.

Hingga pukul 18.00 Wita, anggota KPU tak juga keluar, para pendemo kesal hingga melakukan aksi lemparan batu ke arah petugas yang dibalas dengan gas air mata. Aksi ini terjadi sekitar satu jam. Kasat Brimob Polda Sultra, Kombes Pol Kasero Manggolo kemudian memberikan perintah agar anggota kepolisian menahan diri. Situasi mulai aman setelah atasan Brimob Polda Sultra ini, turun mengamankan situasi yang memanas. Massa tetap bertahan disekitar lokasi demo dengan membakar ban mobil.

Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Sunarto mengatakan, tindakan kepolisian membubarkan massa dengan tembakan gas air mata sudah sesuai prosedur. Pasalnya, para pendemo sudah mulai anarkis dengan melemparkan batu. Terkait anggota polisi yang terkena lemparan susah dalam kondisi baik. Ia sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit. “Kita akan tetap usut. Kita akan cari siapa  pelaku pelemparan itu.  Barang bukti sudah diamankan,”tegasnya.

Kedatangan tim pendukung Rumah-Kita itu mendatangi KPU, untuk mempertanyakan dasar penolakan rekomendasi Panwas Muna. Sekaligus persoalan perubahan surat yang dimasukan Panwas. Orator aksi, Rahman menuding KPU, telah melakukan penggelapan surat rekomendasikan Panwaslu pada Senin malam (14/12) lalu. Sebagaimana yang dilaporkan agar dilakukan pemungutan suara susulan (PSS), tetapi anehnya tiba di KPU berubah menjadi PSU.

[NEXT-FAJAR]

Komisioner KPU Muna, Rakhmat Andang Jaya, membantah tuding tersebut. Mereka tidak pernah merubah format rekomendasi Panwaslu. “Mereka (Panwas) sendiri yang masukan. Pada Senin malam (14/12) sekitar pukul sekitar 00.07 wita, Panwas mengantarkan surat itu. Besoknya yakni Selasa pagi, kami mulai kaji. Anehnya, saat kami masih kaji, tiba-tiba ada surat susulan lagi, bahwa yang mereka minta PSS dan bukan PSU,”jawabnya.

Andi Arwin, komisioner lainnya tegas menyatakan sulit melakukan pemungutan suara susulan (PPS) di Desa Oempu, Kecamatan Tongkuno, seperti rekomendasi Panwas. “Berdasarkan hasil kajian dan penelitian KPU, tidak terbukti adanya sabotase pada seluruh TPS di Oempu, Tongkuno, pada saat proses pencoblosan 9 Desember lalu,” katanya.

Arwin menjelaskan, awalnya KPU menerima surat rekomendasi pemungutan suara ulang (PSU). Anehnya, saat KPU melakukan pengkajian, muncul surat susulan yang menyatakan bahwa yang direkomendasikan bukan PSU, tetapi PPS. “Makanya kami merasa heran, kenapa surat pertama dianulir dan muncul surat susulan itu. Tetapi kami masih tetap terima. Hanya saja setelah dipelajari semua muata isi surat mereka undang-undang yang dimasukan untuk PSU dan PSS menggunakan UU yang sama dengan pasal yang sama yakni UU nomor 1 pasal 112 huruf a tahun 2015 tentang PSU. Harusnya menggunakan UU nomor 1 pasal 121 ayat tahun 2015, tentang PSL,”ujarnya.

Ditambahkan Rakhmat Andang Jaya, terkait tudingan ada dugaan oknum KPU yang merubah isi surat itu, pihaknya merasa di kambing hitamkan. Menurutnya, tidak ada satu orang pun anggota KPU yang merubah surat rekomendasi Panwas. “Saya meminta kepada Panwas Muna, agar membuktikan dugaan pemalsuan rekomendasi itu. Kita harus uji kebenarannya, kita tidak merasa nyaman dengan isu seperti itu,”tegas, Andang.

[NEXT-FAJAR]

Sebelumnya, tim Paslon nomor urut 1, melaporkan dugaan terjadi sabotase atau penghalang-halangan peserta pemilih untuk menyalurkan suaranya di 4 TPS yang ada di Desa Oempu. Tim Rumah-Kita melalui Hasid Pedansa, menemukan sebanyak kurang lebih 2000 peserta pemilih yang tidak menyalurkan hak  suaranya, di TPS tersebut. Sehingga, mereka melaporkan kasus itu atas dugaan pelanggaran di Panwas Muna. (p1/KP)

Click to comment
To Top