Sebelum Hari Nahas, Tidur Cuma Tiga Jam – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Makassar

Sebelum Hari Nahas, Tidur Cuma Tiga Jam

FAJAR.CO.ID–Tubuhnya kecil, tingginya sekira 150 cm. Usianya masih 17 tahun. Tapi dia sudah dipercaya mengendarai truk berbadan besar. Hamsah Ramli, sopir truk yang menewaskan Jafar (60) di Hertasning, terlahir dari keluarga sopir. Hari-harinya dihabiskan di dalam truk. Sudah setahun dia mahir mengendarai mobil berbadan besar itu.

Kemarin, FAJAR menemuinya di Pos Lakalantas Kartini. Mukanya lemas tanpa senyum, itulah ekspresi saat FAJAR menemuinya. Dia duduk di atas kursi batu, bersama Ardi (25). Dia menceritakan kisahnya pada hari nahas itu. Dia mengawali saat mengambil pasir di Bili-bili, Minggu 13 Desember sekira jam 23.00 Wita. Truk bernomor polisi DD 8665 LC itu, awalnya dikemudikan Ardi, melaju ke Kawasan Industri Makassar (KIMA) Daya.

Di perjalanan, Ardi mengeluh sakit kepala, hingga meminta Hamsah menggantikan mengemudi truk enam roda itu. Karena sakitnya kian keras, Ardi meminta diturunkan di Sungguminasa, dan menyuruh Hamsah membawa mobil itu hingga kawasan. Hamsah bersama dua orang rekannya, Ilham dan Tahir, lalu tancap gas menuju KIMA untuk membongkar pasirnya.

Malam itu Hamsah melalui Samata tembus di Jalan Leimena, lalu langsung menuju kawasan. Dia tiba tepat pukul 02.00 Wita. “Saya langsung tidur, karena pasir dibongkar oleh tukang di sana,” kata Hamsah.

Tepat pukul 05.00 Wita, Hamsah terbangun. Dia lalu membangunkan kedua rekannya. Setengah jam berlalu, Hamsah lalu memanaskan mesin dan berlalu ke Sungguminasa via Samata. Canda dan cerita lepas menjadi suasana di dalam truk saat itu, melalui tol agar cepat menjadi pilihan Hamsah saat itu.

Dari tol dia melalui Jl AP Pettarani, dan berbelok ke Jalan Hertasning. Kedua teman Hamsah berbaring sembari menatap kaca. Detik berlalu, ban mobil besar itu terus menapaki jalan di poros Hertasning. Mata Hamsah terus menatap ke depan, hingga akhirnya memilih menurunkan kecepatan di depan Kantor PLN, karena arus kendaraan yang padat. Dia mengambil arah kanan dekat median jalan. Melewati SPBU Hertasning, di dekat bukaan jalan, terdengar suara letupan. Hamsah menghentikan laju mobil.

Warga berduyun-duyun mendatangi arah depan truk. Hamsah dan rekannya melihat ke bawah, darah telah berlumuran, suara histeris dan bentakan mengarah ke dalam mobil Hamsah. “Kasih minggir mobilmu!”, suara yang terdengar dari luar berkali-kali. Ilham dan Tahir panik, begitu mobil menepi, keduanya lari. Hamsah sempat melihat korbannya, sebelum akhirnya diamankan polisi ke Pos Lakalantas Toddopuli.

Dari Toddopuli dia dibawa ke Polsek Panakkukang, dan kembali ke Pos Lakalantas Toddopuli, sebelum akahirnya dibawa ke Pos Lakalantas Kartini untuk di interogasi. “Saya dari kecil bersama orang tua di truk. Saya belajar, saya hanya sopir bantuja kodong. Tidak kusangkai mau begini,” ujarnya.

Kepala Unit Lakalantas Polrestabes Makassar, AKP Alimuddin mengatakan, pihaknya telah menyatakan Hamsah sebagai bersalah, sebab tidak memiliki Surat Izin Mengemudi. Dua rekan Hamsah hingga saat ini belum berani memberi keterangan, sebab keduanya masih bersembunyi. “Anak korban juga masih belum dimintai keterangan, sebab masih trauma dan belum bisa berbicara,” kata Alimuddin. (faisal hamdan/aswad syam/FAJARONLINE)

loading...
Click to comment
To Top