Kisah Rafli, Bocah Empat Tahun yang Terhindar dari Maut – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Makassar

Kisah Rafli, Bocah Empat Tahun yang Terhindar dari Maut

FAJAR.CO.ID, WAJO — Trauma tak tampak di wajah Rafli. Bocah empat tahun itu, tampak ceria.
Balita berkulit sawo matang itu lari-lari di lorong RSUD Siwa, Minggu 20 Desember. Ditemani ibunya, Rafli seperti sudah melupakan kejadian yang hampir merenggut nyawanya.

Di telinga kanan Rafli terdapat luka goresan. Itu didapatkannya dari goresan pelampung yang dikenakan neneknya. Pasalnya, selama 12 jam terombang-ambing di laut, Rafli selalu berada di dekapan neneknya, Bertha, 62 tahun.

Dalam dekapan neneknya itulah, Rafli sempat mencari Tuhan. “Di mana Tuhan. Katanya kita mau ke Makassar, kenapa kita di laut,” cerita Bertha yang ditemui di kamar di RSUD Siwa.

Selama di pelukan neneknya, Rafli seolah tak pernah merasa bahwa kapal yang ditumpanginya tenggelam. Kebiasaan main di laut membuat anak bungsu dari dua bersaudara itu sudah biasa.

Bahkan anak yang masih TK tersebut sering mengajak neneknya bercakap. “Ini anak tak merasa tenggelam. Mungkin karena dia sudah biasa,” ujar Bertha dengan tubuh yang masih lemas.

Meski umurnya masih empat tahun, Rafli sudah pintar berenang. Di kampungnya, Kolaka Utara, dia sering bermain di laut. “Saya pintar ja berenang nenek. Jangan mi pelukka,” ujar Rifki kepada neneknya saat di lautan.

Rifki dan Bertha sendiri hendak merayakan Natal di rumah orang tua Rafli di Perumahan Villa Mutiara Makassar. Rafli sendiri selama ini tinggal bersama neneknya di Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara.

Karena ingin berlibur dan merayakan Natal bersama orang tuanya, Rafli dan Bertha bertolak ke Makassar lewat Siwa. Namun, kapal KM Marina Baru 2B yang ditumpanginya tenggelam.

“Dua jam berlayar, kapal sudah dihantam ombak. Ombak sekitar 3 meter membuat mesin kapal mati. Dari situlah air mulai masuk. Bahkan ada beberapa penumpang yang nekat melompat,” cerita Bertha.

Dia bersama Rafli baru melompat saat kapal hampir karam. Saat itu dia naik di atap kapal dan melompat bersama cucunya. “Saat itu kita memang sudah diberi pelampung,” ujar wanita 62 tahun itu.

Selama di laut, cerita Bertha, dia selalu ingat Tuhan. Dia sudah pasrah bila memang nyawanya diambil Tuhan.

“Tidak ada saya pikir selain Tuhan. Saya pasrah dan serahkan hidup ku kepada Tuhan. Karena saat itu tak ada daratan saya lihat,” pungkasnya.

Berbeda cerita Musakkar. Warga Pomala, Kolaka Utara, itu sempat putus asa. Terombang ambing selama 12 jam di tengah laut membuat lelaki 40 tahun itu berpikir akan mati.

Namun asa itu kembali muncul saat melihat perahu. Hatinya bersorak. “Saya kira saya sudah mati. Tapi saya bersyukur bisa diselamatkan,” tegasnya.

Dia menceritakan, sekitar pukul 14.00 Wita, ombak besar dengan ketinggian empat meter menghantam dari atas, dan menerpa bagian depan kapal. Air kemudian masuk ke kapal sehingga mesin mati. Suasana panik kemudian terjadi di kapal dengan kapasitas GT 125 dengan kapasitas 250 penumpang tersebut.

Para penumpang kemudian diberi pelampung oleh ABK, kemudian ratusan orang di kapal tersebut berkumpul di anjungan sebelum kapal betul-betul karam. “Ada sekitar satu jam kita berada di atas kapal, kemudian kapal betul-betul tenggelam, baik penumpang maupun ABK ada yang sibuk menelepon keluarganya,” katanya.

Saat itulah, semua penumpang masing-masing berjuang dengan modal pelampung. Musakkar, sempat melihat sekililing, hanya langit dan laut yang dilihatnya. “Di situ saya pasrah dan hanya bisa berdoa,” kataya. (FAJARONLINE.COM/irwan kahir)

loading...
Click to comment
To Top