Aktivitas Warga Romang Tangaya saat Banjir – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Aktivitas Warga Romang Tangaya saat Banjir

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Tiap tahun, warga Romang Tangaya harus menikmati banjir. Mereka enggan diungsikan, lebih memilih tinggal di kampung sendiri, meski banjir sampai leher. Langit masih terlihat mendung. Pagi kemarin, penulis dan rekan fotografer punya agenda yang cukup unik. Berkunjung ke kampung Romang Tangaya di Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala. Kampung yang selalu dilanda banjir saat musim penghujan datang. Camat Manggala Anshar Umar, Lurah Tamangapa, Arifuddin dan beberapa staf bersedia mengantar. Mereka yang menemani penulis, untuk melihat kondisi banjir di sana. Penilus bertemu keduanya di kantor Camat Manggala. Oleh pak camat, kami diajak ke salah satu akses masuk kampung di Blok 10 Perumnas Antang. Jalannya sempit dan berliku. Hingga akses masuk blok 10, mobil offroad yang kami tunggangi, cukup terhalang genangan. Alirannya pun cukup deras. Bahkan sempat menyulitkan Anshar Umar yang memegang kemudi. Untungnya, dia sudah menguasai medan.

Beberapa warga menyapa, hingga rombongan tiba di lahan kosong. Lantaran berlumpur, akses kami tempuh dengan berjalan kaki. Pemandangan banjir layaknya membentuk sebuah danau sudah terlihat. Tinggal pucuk tanaman yang bisa dipandang mata. Jalur yang kami lalui adalahn gundukan tanah yang masih tergenang. Rerumputan di pinggiran gundungan tanah, jadi petunjuk menuju ke pintu masuk kampung. Lumpur akibat hujan, sudah pasti. Kaki penulis bahkan sesekali terbak akibat beceknya tanah.

[NEXT-FAJAR]

Tak jauh perjalanan, rombongan berhenti sejenak di Bentungan Sungai Sambe. “Kita lanjutkan perjalan pakai sampan,” kata Anshar. Dari bendungan, kampung Romang Tangaya sudah terlihat jelas. Ada masjid dan beberapa rumah. Tetap lantaran banjir yang cukup tinnggi, akses harus ditempuh dengan perahu kecil (sampan). “Adaji perahu­nya warga. Tapi perahu kecil, mereka yang dayung,” lanjutnya. Sontak penulis dan rekan fotografer cukup panik. Ada perasaan enggan naik perahu. “Tidak apa­apa ji itu kalau naik perahu? ,” ujar rekan fotografer ke penulis. Tiga perahu sudah datang. Rata­rata penungpang satu perahu itu dua orang. Bertiga dengan pendayungnya. Namun penulis hanya sendiri. Beban yang cukup berat, membuat perahu bisa tenggelam. Rombongan sempat ragu, tetapi tetap dipaksakan. Demi melihat kondisi banjir yang melanda warga kampung. Sesekali penulis memegang pinggiran perahu. Sang pendayung pun menyapa. “Dek mau apa jalan­jalan. Untung tidak hujanji, jadi lancar perjalanan,” ucap pria yang bernama Dg Sewang itu. Kebetulan dia juga warga di kampung tersebut. Penulis mulai berbincang, menanyakan soal kondisi banjir di desanya. Kata dia, banjir tersebut sudah puluhan tahun. Makanya warga sudah terbiasa dengan kondisi ini. Makanya tak ada satupun warga yang kawatir akan kondisi ini. Mereka sudah meprediksi, akhir tahun kampungnya pasti sudah banjir. Sembari sesekali mendorong perahu dengan sebilah bambu, Dg Sewang terus bercerita. Ayah tiga anak ini bercerita, warga kampung Romang Tangaya enggan dievakuasi. Mereka lebih memilih tinggal dan menikmati banjir. Rumah warga, kata dia, kebanyakan adalah rumah panggung. Tingginya rata­rata mencapai tiga meter. Hanya empat unit yang rumah batu. Makanya aktivitas didalam rumah tak terganggu jika air menggenang. “Bahkan pak, banjir pernah sampai leher, tapi kami tidak mau mengungsi pak,” ujarnya. Jika mereka mengungsi, tak ada yang menjaga rumahnya. Mereka juga tak punya keluarga di kompleks perumnas. Makanya saran transportasi air jadi pilihan. Warga membuat sendiri sampannya, sehingga bisa mengakses wilayah perkotaan. “Kalau musim kering kita naik motor. Jalan timbunannya sudah bagus dan mengering. Kalau musim hujan, kita naik sampan saja. Lewat di atas sawah dan ladang warga,” jelasnya. Memang jika dilihat kondisi air di jalur masuk kampung tersebut cukup tinggi. Hanya pucuk tumbuhan yang terlihat. Sawah milik warga sudah tergenang. Menurutnya, jika sedang banjir tak ada aktivitas peternakan atau pertanian yang bisa dilakukan. Tetapi bahan makanan sudah mereka siapkan. “Kami butuh hanya butuh obat dan makanan anak­anak. Sesekali memang ada petugas puskesmas yang masuk di sini,” ujar Dg Sewang.

[NEXT-FAJAR]

Setelah menempuh perjalanan hampis 30 menit, sampailah rombongan di kampung tersebut. Tak ada yang unik, layaknya kampung biasa di kawasan perkotaan. Hanya saja, bangunan yang berdiri jumlahnya sedikit hanya 66 rumah. Disana penulis langsung diterima di rumah kepala kampung, Dg Rurung. Saat penulis turun dari sampan, kondisi air masih melewati lutut. Menurut warga itu masih banjir biasa saja. Camat Manggala, Anshar Umar menambahkan lebih dari 300 warga mendiami kawasan tersebut. Tiap tahun, kata dia, Romang Tangaya memang rawan banjir. Menurutnya, hal tersebut merupakan dampan dari luapan tanggung bili­bili. “Makanya, kita ini selalu terkena dampaknya. Belum lagi banyak pengembang yang melakukan penggalian di kawasan tersebut,” ujarnya. Soal keamanan dan bantuan warga, sudah dia jamin.Begitupun soal kesehatan, warga tinggal menghubunginya, akan ada petugas kecamatan yang datang segera. “Warga Romang Tangaya justru menikmati banjir. Itu sudah jadi kebiasaan mereka. Kita sisa stand by kalau mereka butuh bantuan,” tambahnya. (Andi Syaeful/FAJARONLINE)

loading...
Click to comment
To Top