Gatot dan Evy Terancam 15 Tahun Penjara – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Gatot dan Evy Terancam 15 Tahun Penjara

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan istrinya Evy Susanti akhirnya duduk di kursi pesakitan terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Jaksa penuntut umum (JPU) KPK mendakwa pasangan suami istri itu telah bersama-sama dengan pengacara kondang OC Kaligis dan anak buahnya M Yagari Bhastara (Gary), menyuap tiga hakim dan seorang panitera Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan sebesar SGD 5.000 dan USD 27.000.

“Dengan maksud untuk memengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili,” kata Jaksa Irene Putri saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Rabu (23/12).

Irene memaparkan, suap itu diberikan untuk memengaruhi putusan atas permohonan Pemprov Sumut tentang pengujian kewenangan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) atas penyelidikan dugaan korupsi dana bansos, bantuan daerah bawahan (BDB), bantuan operasional sekolah (BOS), dan penahanan pencairan dana bagi hasil (DBH). Perkara itu ditangani oleh majelis hakim yang diketuai Tripeni Irianto Putro dengan dua hakim anggota, yakni  Dermawan Ginting dan Amir Fauzi.

Untuk rincian suapnya, ke Tripeni sebesar SGD 5.000 dan USD 15.000. Sedangkan ke Amir Fauzi dan Dermawan Ginting masing-masing sebesar USD 5.000. Khusus untuk panitera PTUN Medan Syamsir Yusfan sebesar USD 2.000.

“Agar putusannya mengabulkan permohonan yang diajukan oleh terdakwa Gatot melalui OC Kaligis,” ujar Irene.

Pemberian uang itu dilakukan usai Kaligis bertemu dengan Tripeni untuk berkonsultasi tentang rencana gugatan Pemprov Sumut ke PTUN Medan. Kaligis ketika itu datang ke ruang kerja Tripeni  didampingi dua anak buahnya, Gary dan Yurinda Tri Achyuni alias Inda.

“Selanjutnya OC Kaligis yang masih berada di ruangan memberikan amplop berisi uang SGD 5 ribu kepada Tripeni Irianto Putro. Selain itu OC Kaligis juga memberikan uang sebesar USD 1.000 kepada Syamsir Yusfan,” tutur Jaksa Irene.

Setelah konsultasi, pada 5 Mei 2015 Kaligis dan Gary mendaftarkan gugatan ke PTUN Medan dan kembali menemui Tripeni. Saat itu Kaligis juga memberikan beberapa buku serta sebuah amplop yang berisi uang sebesar uang USD 10 ribu dengan maksud agar Tripeni menjadi hakim yang menangani perkara gugatan yang didaftarkan.

[NEXT-FAJAR]

Kemudian, menjelang putusan pada 5 Juli 2015, Kaligis bersama Gary dan Inda terbang ke Medan untuk bertemu Amir dan Dermawan di PTUN Medan. Kedatangan mereka bertiga untuk memberikan uang kepada ketiga hakim yang menangani gugatan Pemprov Sumut masing-masung USD 5 ribu.

“OC Kaligis memerintahkan Inda mengeluarkan dua buah buku yang di dalamnya diselipkan dua amplop berisi USD 5 ribu. Selanjutnya OC Kaligis memerintahkan Gary menyerahkan buku yang diselipkan amplop kepada Dermawan dan Amir dan menyampaikan itu titipan dari OC Kaligis,” terang Jaksa Irene.

Usai permohonan dikabulkan sebagian oleh majelis hakim pada 7 Juli 2015, Gary menemui Syamsir di PTUN Medan dan menyerahkan amplop berisi uang sebesar USD 1.000. Kemudian uang yang telah disiapkan untuk Tripeni sedianya akan langsung diserahkan oleh OC Kaligis seminggu setelah putusan tersebut. Namun, karena Tripeni akan pulang kampung jelang lebaran, pemberian dilakukan  pada 9 Juli 2015.

“Gary bertemu Tripeni di ruangnya di lantai dua guna menyerahkan amplop berisi uang dengan mengatakan, ‘ini ada titipan dari pak OC Kaligis untuk mudik’ dan Tripeni menerima amplop berisi uang USD5 ribu. Beberapa saat setelah penyerahan uang, Gary ditangkap oleh petugas KPK di pintu utama Kantor PTUN Medan,” jelas Jaksa Irene.

Atas perbuatannya, Gatot dan Evy dijerat dengan pasal 6 ayat 1 huruf a atau pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan pasal 20 Tahun 2001 tentang Tipikor juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 juncto pasal 64 ayat 1 KUHPidana. Keduanya terancam pidana penjara maksimal selama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar. (put/jpg)

loading...
Click to comment
To Top