Kenalkan, Inilah Kesalahan Jokowi yang Bikin Publik Geleng-Geleng – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Kenalkan, Inilah Kesalahan Jokowi yang Bikin Publik Geleng-Geleng

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Tinggal beberapa hari ke depan, tahun 2015 akan berakhir. Banyak cerita dan peristiwa yang terjadi di tahun pertama Presiden Jokowi menjabat sebagai presiden.

Selama kurun waktu itu, selayaknya manusia biasa, Presiden Jokowi juga banyak melakukan kesalahan-kesalahan. Meskipun kesalahan itu tidak berdiri sendiri. Artinya, ada orang-orang di sekitar Jokowi yang kurang teliti membuat Jokowi salah dalam oemberikan pernyataan kepada publik.

Berikut 5 kesalahan Presiden Jokowi pada tahun 2015:

1. Jokowi sebut Soekarno Lahir di Blitar

Presiden Jokowi kembali melakukan kesalahan dalam acara memperingati Hari Jadi Pancasila di Blitar. Saat memberi sambutan pada acara peringatan Hari Kelahiran Pancasila itu, Presiden Jokowi mengaku sangat terkesan terhadap sosok presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Bahkan setiap berada di tempat kelahiran Soekarno di Blitar, Jawa Timur, Presiden Jokowi mengaku hatinya selalu bergetar.

“Setiap kali saya berada di Blitar, kota kelahiran Proklamator kita, Bapak Bangsa kita, Bung Karno, hati saya selalu bergetar,” ujar Jokowi dalam sambutan di peringatan Hari Pancasila, di Alun-alun Kota Blitar, Jawa Timur, Senin (1/6).

adahal, catatan Cyndi Adams dalam bukunya “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat”, disebutkan Ir. Soekarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1961. Buku tersebut berdasarkan wawancara langsung antara Cindy Adams dengan Bung Karno.

2. Jokowi Sebut Kabupaten Sidrap di Sulawesi Utara

Seperti biasa dikenal, Presiden Jokowi rajin melakukan blusukan. Saat menjabat presiden, blusukannya lebih uas lagi ke daerah-daerah.

Tak setelah menjabat, Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Kota Makassar. Kedua daerah terletak di Sulawesi Selatan.

Namun Presiden Jokowi membuat heboh setelah melalui akun Facebooknya, ia menyebut akan melakukan blusukan ke Sulawesi Utara. Namun, ia mengaku sudah sampai di Makassar untuk mengikuti kegiatan panen padi di Sidrap.

Entah siapa yang melakukan kesalahan tersebut, yang pasti postingan di akun Facebook Presiden Jokowi tersebut mendapat reaksi dari pengguna media sosial. Sebab Sidrap adalah kabupaten di Sulawesi Selatan.

3. Jokowi tidak Baca Perpres yang Ditandatangainya

Pada April lalu, masyarakat pengguna media sosial dan meelk media dikejutkan dengan pernyataan Presiden Jokowi yang sanagt disayangkan.

Saat itu, Presiden Jokowi mengomentari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 39 Tahun 2015 tentang Pemberian Fasilitas Uang Muka bagi Pejabat Negara untuk Pembelian Kendaraan Perorangan. Ia mengaku tidak selalu memeriksa sejumlah Perpres secara rinci lantaran begitu banyak jumlah dokumen yang harus tandatanganinya.

“Tidak semua hal itu saya ketahui 100 persen. Artinya, hal-hal seperti itu harusnya di kementerian. Kementerian men-screening apakah itu akan berakibat baik atau tidak baik untuk negara ini,” kata Jokowi di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (5/4/2015).

Bahkan, gara-gara jawaban itu, muncul berita di surat kabar berbahasa Inggris terbitan Jakarta berjudul ‘Joko: I don’t read what I sign’.

4. Jokowi Sebut Indonesia Masih Punya Utang ke IMF

Pada akhir April 2015, Indonesia menjadi tuan rumah acara besar, Konferensi Asia Afrika (KAA). Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi menyatakan dalam pidato bahwa Indonesia masih memiliki utang kepada International Monetary Fund (IMF) sebesar 2,79 miliar dolar AS. Pendapat Jokowi dikuatkan Seskab Andi Wijajanto.

Namun pernyataan Jokowi tersebut dibantah Wapres Jusuf Kalla dan Menkeu Bambang Brodjonegoro. Bahkan, presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sampai mengklarifikasi bahwa utang Indonesia ke IMF sudah lunas.

5. Tak hadiri perayaan hari guru

Presiden Jokowi disebut mencatat sejarah bagi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Pasalnya, selama 70 tahun terakhir, tak sekalipun presiden atau wakil presiden melewatkan perayaan hari guru tersebut jika diundang.

Menurut para guru, absennya Jokowi menunjukkan ketidakberpihakan pemerintah terhadap PGRI.

“Ini sejarah buruk, sejak PGRI dibentuk pada 70 tahun lalu, baru kali ini HUT PGRI tidak dihadiri presiden. Selama Presiden SBY memerintah 10 tahun, selalu hadir. Ada satu kali tidak hadir tapi diwakili wakil presiden,” kata‎ ‎Basyarudin Thayib, pengurus PB PGRI  kepada JPNN, di sela-sela peringatan HUT PGRI di Gelora Bung Karno, Minggu (13/12/2015).

Menurut Muhammad, ketidakhadiran Jokowi diduga karena adanya dua SE dari MenPAN-RB Yuddy Chrisnandi dan Men‎dikbud Anies Baswedan.

“Secara psikologis memang bisa ditebak bila presiden batal hadir. Kami dapat info presiden tidak akan hadir itu sore (12/12/2015). Ini sangat mengecewakan kami semua,” tandas Basyarudin yang diaminkan Muhammad. (ril/pojoksatu)

Click to comment
To Top