Serang Syria Lewat Udara, Rusia Dinilai Lakukan Kejahatan Perang – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Internasional

Serang Syria Lewat Udara, Rusia Dinilai Lakukan Kejahatan Perang

FAJAR.CO.ID, BEIRUT – Amnesty International melaporkan bahwa Rusia telah melakukan kejahatan perang. Selama tiga bulan melakukan serangan udara di Syria, sudah ratusan penduduk sipil yang tewas di tangan mereka. Ratusan lainnya mengalami luka-luka. Hal tersebut terungkap dalam laporan Amnesty International kemarin (23/12).

Lembaga nonprofit itu menegaskan, serangan sengaja diarahkan ke penduduk. Misalnya, menjatuhkan bom di permukiman penduduk. Padahal, di permukiman tersebut tidak ada tanda-tanda adanya pasukan militer pemberontak. Beberapa fasilitas medis bahkan juga diserang.

’’Serangan seperti itu bisa termasuk kejahatan perang,’’ ujar Direktur Amnesty International untuk Timur Tengah dan Afrika Utara Philip Luther. ’’Penting agar pihak yang diduga melanggar (Rusia, Red) diselidiki secara independen dan tidak memihak,’’ tambahnya.

Laporan yang dirilis Amnesty International tersebut fokus pada serangan di Homs, Idlib, dan Aleppo pada September hingg November. Mereka menggunakan jaringannya di lapangan untuk menggali data. Jumlah penduduk sipil yang terbunuh sedikitnya 200 orang, sedangkan pemberontak hanya belasan. Padahal, seharusnya serangan Rusia ditujukan ke anggota Islamic State (IS) atau ISIS dan pemberontak Syria, bukan ke penduduk sipil. Salah satu serangan yang paling mematikan adalah misil yang ditembakkan ke pasar di Ariha, Idlib. Sebanyak 49 penduduk sipil meninggal dunia.

Jumlah yang dirilis Amnesty International itu jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan pernyataan pengamat HAM Syria sehari sebelumnya. Sejak Rusia menyerang akhir September, lembaga itu mencatat, 2.132 orang tewas. Sebanyak 710 orang di antara mereka adalah penduduk sipil.

Luther menjelaskan, ada banyak bukti untuk menyeret Rusia ke pengadilan. Bukti-bukti yang dimiliki Amnesty International menunjukkan Rusia berupaya berbohong untuk menutupi serangan mereka di masjid dan rumah sakit. Amnesty juga memiliki bukti bahwa Rusia menggunakan cluster bomb dan unguided bomb di permukiman penduduk yang masih dihuni. Dua jenis bom tersebut dilarang secara internasional. Saat diluncurkan, cluster bomb mengeluarkan banyak bom kecil yang menyebar luas. Itu memungkinkan banyak penduduk sipil ikut terbunuh.

Sementara itu, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa pemerintah Rusia belum melihat laporan yang dikeluarkan Amnesty International tersebut. ’’Kami tidak memiliki informasi apa pun terkait reliabilitas data yang digunakan Amnesty International,’’ ujar Peskov. Sumber di Kementerian Luar Negeri Rusia juga mempertanyakan sumber data yang digunakan Amnesty International. Mereka mengatakan sejak 30 September tidak lagi menerima laporan adanya korban jiwa dari penduduk sipil.(AFP/BBC/sha/c10/tia/jpg/ipol)

loading...
Click to comment
To Top