Harumnya Imperium Andalusia – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Samudera Ilmu

Harumnya Imperium Andalusia

Barcelona ataupun Madrid dahulu adalah lautan ilmu, madrasah-madrasah pengetahuan. Tetapi kini, hanya menjadi tempat tujuan hiburan dan hura-hura.

Catatan:
Sahel Abdullah Wartawan FAJAR dari Spanyol

PERADABAN Islam Andalusia yang nyaris tak pernah ditulis oleh para sejarawan dengan tinta cacian, dan makian, melainkan dengan sanjungan dan pujian. Hatta oleh lisan musuhnya.

Cahaya mercusuar peradaban Islam, yang pernah berdiri kokoh hampir satu milenium di tanah Biru itu, telah menjadi ibu dalam melahirkan jutaan ulama dan ilmuwan, serta sastrawan. Karya-karya mereka tak padam bersama runtuhnya Andalusia.

Karya para ilmuwannya tetap kekal bersama Bani Adam hingga kini dan nanti. Dan membantu jutaan anak manusia memahami pelita wahyu, di zaman yang penuh fitnah sesudahnya. Peradabannya menjadi kiblat kemajuan bagi setiap bangsa, tidak hanya dalam ilmu agama tetapi juga ilmu duniawi.

Kemajuan ilmu duniawi yang diprakarsai oleh peradaban Islam Andalusia, menjadi akar kemajuan dunia teknologi dan kedokteran pada abad ini. Dimana tanpa akar tersebut, kemajuan yang ada pada saat ini tak mungkin tumbuh. Terima kasih atas jasamu.

Perkembangannya yang berjalan di bawah kontrol pemerintahan yang islami itu, tidak membuatnya maju tanpa moral dan etika. Tetapi perkembangan ilmu pengetahuannya, yang dibimbing bersama rambu-rambu Islam, membuat Andalusia menjadi sebuah imperium yang harum, dan sebuah peradaban yang beradab.

Orang-orang Islam, saat itu hidup dengan penuh kemulian, sementara agama-agama lain, hidup dengan penuh rasa aman dan tenteram. Tak ada tangan yang berbuat zalim, kecuali ia akan dibetulkan.

Orang Islam yang hartanya mencapai nisab diwajibkan membayar zakat harta. Sementara non-islam dikenakan jizyah. Hingga roda pemerintahan berjalan dengan sempurna dan adil.

Namun, kejayaan Islam yang seolah hanya ada dalam dunia fiksi tersebut, kini tinggal kepingan-kepingan sejarah dalam ruang-ruang perpustakaan. Masa-masa keemasannya kini hanya terpatri mati pada dinding bangunannya yang penuh estetika. Dan taman-tamannya yang eksotis dan mengagumkan.

Kemegahan dan keramaian masjidnya nan dulu itu, saat ini telah “bersembunyi” di selasar-selasar bangunan yang sempit. Dijepit oleh tembok-tembok kemaksiatan yang merajai. Kehancuran Andalusia, membuat tata kehidupan negaranya berotasi terbalik 180 derajat.Nama Andalusia, kemudian dihapus dan berganti menjadi Spanyol dalam lembaran peta. Akan tetapi karya dan jasanya, tak bisa tergantikan.Namanya pun tetap menjadi kebanggaan di dalam hati setiap muslim, dan nama Andalusia, akan senantiasa menjadi harapan bagi para mujahid untuk mengulang kembali masa keemasannya.Kota-kota seperti Barcelona ataupun Madrid dulunya adalah lautan ilmu. Kini, hanya menjadi tempat tujuan berfoya-foya, dan hiburan serta hura-hura semata. Hal ini dikarenakan tali kendali peradaban, telah lepas dari genggaman pemilikinya, dan jatuh ke tangan yang lain.

Lalu, tangan-tangan siapakah yang memegang kendali peradaban tingkat tinggi itu, yang membawanya ke menara kejayaan? Siapakah, yang telah mampu membawa cahaya wahyu ke benua Eropa dan akhirnya menjelma lampu mercusuar, membelah kegelapan yang menutupi tanah Biru itu? FAJARONLINE.COM (bersambung).

 

 

loading...
Click to comment
To Top