Sepenggal Kenangan tentang Almarhum Ikbal Iskandar – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Makassar

Sepenggal Kenangan tentang Almarhum Ikbal Iskandar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Muh Ikbal Iskandar telah pergi untuk selamanya. Namun, sosok suami Shinta Mashita Molina ini masih melekat kuat di benak keluarga dan kerabat.

Dua tenda telah berdiri di depan kediaman almarhum. Dua bendera putih juga telah dipasang di sudut jalan.

Karangan bunga dari pelbagai kerabat juga telah berjejer rapi di sekitar kediaman almarhum. Seolah menyambut para pelayat yang akan mengantar Ikbal (bukan Iqbal, red) ke tempat peristirahatan terakhir.

Suasana duka masih sangat terasa di rumah bercat putih itu, Selasa, 29 Desember. Kerabat dan keluarga berkumpul sembari menunggu kedatangan Shinta Mashita Molina dari Jakarta.

Obrolan akan kenangan yang ditinggalkan almarhum masih menjadi topik utama di antara para keluarga dan kerabat. Mereka memiliki cara dan gaya sendiri dalam mengapresiasi kenangan masing-masing.

Di bawah tenda, beberapa sahabat Ikbal berbincang santai. Sesekali, perbincangan mereka diselingi tawa dengan kenangan menggelitik bersama almarhum.

“Dulu waktu masih SD, beliau sudah menunjukkan karakter sendiri. Tidak pilih-pilih dalam berteman, mau itu yang nakal atau culun. Semua ditemani,” kisah salah seorang sahabat Ikbal kepada Irsyad Ahmad, anak bungsu Iqbal Iskandar saat berbincang bersama.

Ical–sapaan akrab Irsyad nampak cukup menikmati berbagai kisah yang diceritakan oleh para sahabat ayahnya itu. Sepintas, raut wajah Ical tidak menampakkan rasa sedih. Senyumnya sesekali mengembang diselingi sedikit tawa gelitik.

“Dia orangnya low profile. Dan itu yang harus kamu ingat, Nak. Siapapun dia temani bergaul. Mulai dari tukang becak, hingga pejabat,” sebut Mapparenta, salah satu kerabat Ikbal yang masih setia mendampingi putra bungsu almarhum.

 

 [NEXT-FAJAR]

Almarhum Ikbal disebutnya memiliki cita-cita yang belum kesampaian. Dia ingin maju ke Senayan pada pemilihan mendatang. Ikbal bahkan sangat terobsesi ingin menembus sebagai anggota DPR RI.

“Dia selalu bilang, ingin membangun Jeneponto. Tetapi dengan cara menjadi legislator di Senayan. Itu cita-cita terbesarnya. Membangun Jeneponto,” kenang Mappangara.

Di sudut lain, beberapa keluarga juga tampak berbincang ringan. Namun, pemandangannya sedikit lebih kontras dengan obrolan yang mengalir di bawah tenda putih depan rumah.

Keluarga almarhum yang memilih berdiam di teras, justru terlihat masih murung. Mereka serasa masih tidak percaya dengan tragedi dan insiden naas yang merenggut nyawa Ikbal.

Mata mereka juga masih sembab. Bahkan masih ada yang meneteskan air mata. “Bisanya begini kejadiannya,” celetuk Arifin, mertua laki-laki almarhum sembari menatap ke arah ruang tengah.

Di ruang itu, jenazah Ikbal disemayamkan. Lantunan ayat suci Alquran juga terus dibacakan keluarga dekat.

Suasana inipun terus berlanjut hingga pukul 03.00 Wita. Tak ada yang berubah hingga istri dan anak sulung Ikbal tiba setengah jam kemudian.

Suasana yang awalnya tenang berubah drastis. Tangis kembali menjadi pemandangan utama menyambut kedatangan Shinta Molina dan anak sulungnya, Echa.

“Kenapa bisa kasian,” teriak Echa yang langsung memeluk jasad ayahnya yang sudah terbujur kaku.

 [NEXT-FAJAR]

Tangis ibu anak ini pun kembali memantik kesedihan seluruh kerabat dan keluarga. Air mata keluarga dan kerabat terus mengalir menyaksikan reaksi yang ditunjukkan Shinta dan kedua anaknya.

“Saya bantu ji kodong mak,” kata Ichal memberikan penjelasan kepada Shinta dengan air mata berlinang.

Pelukan Shinta, Echa dan Ichal terus melekat di jenazah Ikbal. Ketiganya seolah enggan melepas hingga pagi menyingsing.

Pukul 10.00 Wita, adalah waktu terakhir Ikbal berada di dalam kediamannya di Makassar. Sebelum diberangkatkan ke Jeneponto, sempat dilakukan upacara pelepasan oleh Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. (Zakiyuddin Akbar/FAJARONLINE)

 

loading...
Click to comment
To Top