Kepala BPS Kudus: Januari Biasa Terjadi Ekspektasi Inflasi – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Kepala BPS Kudus: Januari Biasa Terjadi Ekspektasi Inflasi

KUDUS – Pada awal tahun atau pada bulan Januari biasanya terjadi melonjaknya kebutuhan pokok masyarakat. Seperti Januari 2016, meski bahan bakar minyak (BBM) turun justru membuat beberapa bahan kebutuhan tetap naik.

“Inilah ekspektasi inflasi yang biasa terjadi setiap Januari. Seperti Januari 2016 ini meski BBM, gas, dan listrik turun tapi tetap kebutuhan naik. Ekspektasi ini terjadi karena banyak yang menganggap upah minimum pada tiap tahunnya mengalami kenaikan,” kata, Kepala BPS Kudus, Endang Tri Wahyuningsih.
Endang menilai seiring berjalannya bulan, biasanya akan terjadi naik turunnya harga di pasaran. Sehingga upah minimum yang diberlakukan tidak membuat masyarakat khawatir gaji yang didapat hanya habis untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Susahnya jika inflasi terjadi terlalu lalu hingga tiga bulan. Dampaknya juga akan dirasakan para pedagang, karena nilai beli masyarakat turun drastis sehingga pasar menjadi sepi,” ungkapnya.
Inflasi tinggi, jelas Endang, terjadi biasanya saat adanya kenaikan BBM sehingga harga melonjak. Pada 2015 kemarin pihaknya mencatat bahwa dari Juni-Agustus terjadi inflasi yang berakibat sepinya pasar. Saat seperti itu pertumbuhan ekonomi sangat sulit berkembang.
Selain itu Kudus pernah mengalami inflasi tinggi yang terjadi bukan dari kenaikan BBM yang menyebabkan kebutuhan pokok masyarakat harganya tak terkendali. Sehingga pasar di Kudus menjadi lesu.
“Inflasi ini terjadi pada awal-awal 2014 belas karena terjadi banjir. Akibat terisolasi, mengingat Kudus bukan penghasil pangan sehingga jumlah barang kebutuhan masyarakat stoknya menipis dan banyak dibutuhkan akibatnya harganya tak terkendali,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Endang menyebut, deflasi terus menerus juga tidak bagus. Menurutnya pasar perlu dinamis dalam menghadapi segala dinamika perekonomian yang terjadi. Sehingga keberlangsungan ekonomi bisa tumbuh dengan baik.
Ia berpesan dalam menghadapi ekspektasi inflasi awal 2016 ini, masyarakat diminta cermat dalam mengelola kebutuhannya. Jika terjadi harga yang tinggi masyarakat bisa membeli seperlunya agar lebih hemat.
Sementara itu, pemberlakuan masyarakat ekonomi asean (MEA) menurut Endang tidak berpengaruh bagi Kabupaten Kudus. Mengingat Kudus masyarakatnya masih mengandalkan produk-produk dalam negeri.
“Dampak MEA mungkin berpengaruh pada kota-kota besar seperti Semarang yang laju ekonominya dinamis dengan masyarakatnya yang stylis. Sedangkan Kudus masyarakatnya masih mengandalkan produk dalam negeri karena cita rasanya lebih cocok. Seperti bawang impor, masyarakat lebih memilih bawang dari wilayah Jateng sendiri,” pungkasnya. (nr)

loading...
Click to comment
To Top