Wow, Polisi Menjemput Wanita Ini Pada Saat Duduk Pengantin – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Makassar

Wow, Polisi Menjemput Wanita Ini Pada Saat Duduk Pengantin

FAJA.CO.ID, MAKASSAR — Hari bahagia Hardianti berakhir sengsara di pesta pernikahannya, wanita muda itu dijemput personel Polsekta Tamalate, di kampung halamannya, Kabupaten Enrekang. Hingga Senin 11 Januari, Hardianti masih mendekam di sel tahanan.

Asrul, salah satu pelapor kasus dugaan penipuan, menuturkan, antara dirinya dengan Hardianti merupakan teman dekat. Bahkan satu kantor. Keduanya pekerja pada kantor swasta di Jalan AP Pettarani.

Awalnya, kata pelapor, Hardianti meminta sejumlah dana dengan alasan akan membuka bisnis handphone bersama. Itu terjadi awal Juni 2015. Asrul tergerak mengikuti bisnis itu, tetapi ia tidak memiliki uang tunai. Dengan alasan kedekatan emosional ia lalu memberikan kartu kredit miliknya kepada Hardianti.

“Awalnya berjalan sampai Oktober, lancar-ji tetapi barang dan pembelinya saya tidak pernah lihat. Saya hanya terima bersih,” katanya kepada FAJAR, Senin 11 Januari.

Puncaknya pada awal Oktober 2015. Kala itu, Hardianti yang masih memegang kartu kredit Asrul lalu melakukan pembelian Rp127 juta. Asrul yang mengetahui kejadian itu lalu marah besar. “Tetapi dia bilang ada pesanan banyak, tiga hari akan diganti, jadi saya tenang-tenang saja,” lanjutnya.

Nahas, setelah itu handphone Hardianti sudah tidak aktif lagi. Asrul lalu kalang kabut, bukan hanya hari yang berlalu, bulan juga terus terganti, namun kabar tentang Hardianti tak kunjung dia dengar. “Pas saya tahu dia mau menikah di Enrekang, saya dan temanku Ai melaporkan, akhirnya dia ditangkap saat di pelaminan,” ungkapnya.

Korban-korban Hardianti rupanya tak saling mengetahui, padahal kebanyakan korban berasal dari kantor yang sama. Sebanyak delapan orang melapor ke polisi, dengan jumlah kerugian mencapai Rp800 juta lebih. Itu di luar dari korban lainnya yang belum melapor. “Kira-kira satu miliar lebih kalau semua korbannya melapor, masih ada tiga orang kalau tidak salah,” kata Maya, korban lainnya.

Maya mengaku ditipu dengan modus berbeda. Kalau yang lainnya kartu kredit, Maya justru ditelepon oleh pelaku. “Ke saya, dia curhat masalah utang. Dia bilang ada utangnya di orang (bukan Asrul) jadi saya pinjamkan Rp40 juta,” kata Maya.

Usai itu, lanjut Maya, dia tidak lagi mendengar kabar Hardianti. Terakhir dia hanya mendengar keluhan beberapa rekannya akan tindakan penipuan tersebut. “Di situ baru kami tahu, ternyata kita semua ditipu,” ungkapnya.

Sementara itu Hardianti tertutup saat FAJAR menyambanginya di sel Polsekta Tamalate. Pengacara Hardianti, Abduh, mengatakan, kliennya sudah berpesan agar rumahnya di Enrekang segera dijual sebagai pertanggungjawaban atas kerugian korbannya.

Informasi dari penyidik, Hardianti dijemput polisi saat masih memakai baju bodo (baju adat). Itulah sebabnya, ia enggan menemui siapapun di sel tahanan Polsekta Tamalate.

“Pihak terlapor akan menempuh jalur damai dulu, karena pihak pelapor dan terlapor sudah ada kesepakatan damai,” tutup Abduh. (fai-mp04/ars/rif/Fajaronline.com)

loading...
Click to comment
To Top