Bukan Sekadar Fiksi, Manga Naruto Mengandung Sejarah dan Mitologi Penting di Jepang – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Hiburan

Bukan Sekadar Fiksi, Manga Naruto Mengandung Sejarah dan Mitologi Penting di Jepang

FAJAR.CO.ID- Sesuatu yang bermanfaat akan terus membekas dan diingat. Alasan inilah mengapa manga Naruto bisa terkenal dan terus digemari. Bukan saja soal aksi ninja atau pertarungan seru, kepopuleran Naruto karena unsur manfaat yang ikut disispkan Kishimoto. Baik kata-kata maupun sejarah yang mendasari cerita Naruto.

Mengenai unsur edukasi yang dibawah mangaka, Masashi Kishimoto sangat diapresiasi warga Jepang. Salah satu cerita yang paling disenangi adalah tentang Klan Uchiha. Klan yang dipimpin oleh Madara Uchiha ini memiliki nilai mitologi yang kental dengan kebudayaan warga Jepang, yaitu tengu.

Terlepas dari berdebatan, apakah Sajobo, Raja Tengu adalah ayah dari Uchiha Madara (karena sering diperdebatkan). Masashi memasukan mitologi tentang tengu penguat cerita Naruto. Berikut adalah sejarah tengu seperti dikutip dari salah satu blok www.wilhelm13.wordpress.com

Tengu adalah makhluk dalam legenda Jepang. Salah satu Kami penunggu gunung, atau yōkai yang erat hubungannya dengan burung elang atau gagak. Pakaiannya mirip dengan pakaian pendeta yamabushi yang menempa diri di hutan dan gunung.

Tengu memiliki hidung yang panjang, wajahnya merah, memiliki sepasang sayap, serta kuku kaki dan tangan yang sangat panjang. Tengu bisa terbang bebas di angkasa sambil membawa tongkat yang disebut kongōzue, pedang besar (tachi), dan kipas berbentuk daun (hauchiwa). Pekerjaannya menghalangi orang yang ingin mendalami agama Buddha.Nama lainnya adalah Gehō-sama (外法様 tuan sihir?).

Dalam bahasa Jepang dikenal ungkapan Tengu ni naru yang berarti “sangat bangga dengan diri sendiri”. Ungkapan ini kemungkinan berasal dari ungkapan “hana ga takai” (hidungnya tinggi).Luar biasanya, satu mumi Tengu tersimpan dengan rapi di Perfektur Aomori.

tengu

Asal Usul

Tengu berhidung panjang seperti dikenal orang zaman sekarang merupakan hasil penggambaran orang pada abad pertengahan. Dalam cerita Konjaku Monogatari-shū, tengu digambarkan bisa berlari di udara, dan sebagai hantu berbentuk burung rajawali yang membuat orang kerasukan. Penggambaran tersebut diperkirakan mengambil model dari hantu Temma dalam konsep agama Buddha yang digambarkan berbadan manusia dan memiliki sepasang sayap.

Seekor burung seperti goblin sering dihadapi dalam kepercayaan rakyat-Jepang, sastra dan penggambaran mereka. Setan-setan Jepang berasal dari nama dewa gunung 天狗 Tiangou Cina, tetapi juga terkait dengan dewa Garuda Buddha bersayap. Selanjutnya, Tengu dilihat sebagai transformasi dari dewa Shinto, sering dikaitkan dengan pohon-pohon tinggi.

[NEXT-FAJAR]

Tengu adalah dari dua jenis fisik: karasutengu 乌 天狗 diidentifikasi oleh kepala burung dan paruh, dan konoha Tengu 木の葉 天狗 dibedakan dengan fisik manusia, tetapi dengan sayap dan hidung panjang. Jenis Tengu sering membawa kipas bulu di satu tangan. Karena hidung panjang, Tengu yang berhubungan dengan dewa Shinto Sarutahiko 猿 田 彦 yang mengambil di wajah seekor monyet, dan topeng Tengu memainkan peran penting dalam beberapa festival keagamaan.

Awal cerita-cerita populer Jepang seperti yang di MONOGATARI KONJAKU 今昔 物语 menggambarkan Tengu sebagai musuh dari agama Buddha, membakar di kuil atau imam menipu. Imam yang mencapai kekuatan khusus melalui disiplin keagamaan, tetapi menggunakan kekuatan ini untuk tujuan mereka sendiri dianggap masuk dalam kehidupan berikutnya bidang transmigratory dari tengudou 天狗 道. Representasi awal Tengu berada dalam periode Kamakura * emaki 絵 巻, seperti “Tengu zoushi emaki 天狗 草纸 絵 巻” 1296 (Nezu 根 津 Museum), yang mengkritik imam arogan yang akhirnya menjadi Tengu.

Menurut legenda, sebagai seorang anak prajurit Minamoto no Yoshitsune yang terkenal 源 义 経 (1159-1189) dilatih dalam ilmu pedang magis dengan raja Tengu Soujoubou 僧 正 坊 dekat Kuramadera 鞍马 寺 di utara pegunungan Kyoto.

Tengu sering ditunjukkan dalam gambar tentang kehidupan Yoshitsune, termasuk kedua Hogen-Heiji 保 元 平 治 layar pertempuran (Metropolitan Museum) dan penggambaran “Hashi Benkei 桥 弁 庆” atau “* Benkei 弁 庆 di Jembatan” tema.

Periode Momoyama daimyo 大名 Kobayakawa Takakage 小早川 隆 景 (1532-1590) seharusnya diadakan dialog dengan Raja Tengu Buzenbou 豊 前 坊 di Gunung.彦 Hiko. Karakter Tengu secara bertahap berubah selama berabad-abad.

Misalnya, Tengu telah lama berpikir untuk menculik anak-anak, tetapi dengan periode Edo mereka sering telah meminta untuk membantu mencari anak hilang. Demikian pula, Tengu menjadi wali candi dan gambar patung dari mereka ditempatkan pada atau sekitar bangunan candi.

[NEXT-FAJAR]

Tengu juga terkait dengan yamabushi 山 伏 atau “pertapa gunung,” yang bentuknya mereka sering diasumsikan. Tengu sering digambarkan mengenakan topi khas yang yamabushi dan jubah. Ilustrasi Tengu meningkat popularitas dan variasi selama periode Edo, biasanya mencerminkan konsep yang lebih positif dan bahkan cahaya-hati dari setan sekali-ganas.

Model awal tengu kemungkinan berubah pada paruh pertama zaman Muromachi. Dalam kumpulan cerita rakyat Otogizōshi terdapat cerita Tengu no Dairi (Istana Tengu) yang tokoh utamanya bernama Kurama Tengu. Selain itu, Ushiwakamaru dikabarkan menerima pelajaran seni pedang dari Tengu di Kuil Kurama.

Dalam Hikayat Heike, tengu digambarkan seperti “Manusia tapi tidak seperti manusia, burung tapi tidak seperti burung, anjing tapi tidak seperti anjing, tangan dan kakinya seperti tangan dan kaki manusia, wajahnya seperti anjing, memiliki sayap di kanan kiri, dan bisa terbang.”

Mitologi

Mitologi Tengu bermula dari sekitar abad ke-6 Masehi sejalan dengan tibanya agama Budha ke Jepang dari Cina. Tengu dianggap sebagai goblin yang tinggal di hutan dan gunung. Mereka disebut memiliki kekuatan supranatural seperti dapat berubah bentuk menjadi manusia atau hewan, dapat berbicara kepada manusia tanpa membuka mulut dan mampu pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat menggunakan sayapnya.

Kata Tengu sebenarnya berarti “Anjing langit”. Dalam mitologi Cina, makhluk ini juga memiliki tempat tersendiri dengan nama Tien Kou (Tiangou) yang artinya juga anjing langit. Nama ini sebenarnya tidak sesuai dengan deskripsi Tengu. Makhluk ini tidak memiliki rupa anjing, melainkan lebih mirip seekor burung.

Buku Nihon Shoki, catatan kuno yang dianggap paling pertama menyebut Tengu, yang ditulis pada tahun 720 Masehi, menyebutkan bahwa pada abad itu sebuah meteor melintasi langit Jepang dan meteor itu disebut oleh seorang rahib Budha sebagai Anjing Langit (Tengu).

Namun bagaimana Tengu berevolusi dari sebuah meteor menjadi makhluk terbang tidak diketahui dengan pasti. tengu yang memiliki kepala dan paruh seperti burung. Yang kedua adalah Konoha Tengu yang memiliki bentuk seperti manusia namun memiliki sayap dan hidung yang panjang (kadang disebut Yamabushi Tengu).

Tengu berhidung panjang seperti dikenal orang zaman sekarang merupakan hasil penggambaran orang pada abad pertengahan. Dalam cerita Konjaku Monogatari-sh?, tengu digambarkan bisa berlari di udara, dan sebagai hantu berbentuk burung rajawali yang membuat orang kerasukan. Penggambaran tersebut diperkirakan mengambil model dari hantu Temma dalam konsep agama Buddha yang digambarkan berbadan manusia dan memiliki sepasang sayap.

Model awal tengu kemungkinan berubah pada paruh pertama zaman Muromachi. Dalam kumpulan cerita rakyat Otogiz?shi terdapat cerita Tengu no Dairi (Istana Tengu) yang tokoh utamanya bernama Kurama Tengu. Selain itu, Ushiwakamaru dikabarkan menerima pelajaran seni pedang dari Tengu di Kuil Kurama.Dalam Hikayat Heike, tengu digambarkan seperti “Manusia tapi tidak seperti manusia, burung tapi tidak seperti burung, anjing tapi tidak seperti anjing, tangan dan kakinya seperti tangan dan kaki manusia, wajahnya seperti anjing, memiliki sayap di kanan kiri, dan bisa terbang.”

Menurut Legenda, sewaktu masih bocah, perajurit legendaris Jepang bernama Minamoto no Yoshitsune yang hidup pada tahun 1159-1189 pernah berlatih ilmu pedang dengan raja Tengu Soujoubou dekat Kuramadera di gunung utara Kyoto.

Tidak ada keterangan dan informasi lebih lanjut mengenai mumi yang dipajang di museum Hachinohe. Apakah ini sungguh mumi setan, makhluk Cryptozoology atau sebuah karya seni palsu dari abad lampau. Beberapa peneliti percaya bahwa mumi itu adalah sebuah karya seni buatan manusia, tapi belum ada bukti pasti yang disediakan untuk mendukung teori tersebut.

Jenis Tengu

Secara umum, Tengu memiliki dua bentuk fisik. Yang pertama disebut Karasu tengu yang memiliki kepala dan paruh seperti burung. Yang kedua adalah Konoha Tengu yang memiliki bentuk seperti manusia namun memiliki sayap dan hidung yang panjang (kadang disebut Yamabushi Tengu)

[NEXT-FAJAR]

Di Jepang, banyak dijual topeng kayu yang menampilkan wujud tengu.
Dalam bahasa Inggris, tengu diterjemahkan menjadi “goblin” atau sejenis hantu.

Jadi, apa huubngan antara “anjing surga” dengan pendeta gunung berhidung panjang? atau sosok manusia burung?
Masyarakat Cina mengenal legenda tentang hantu gunung yang bernama tien-kou, karakter yang dikenal dengan nama celestial dogs atau heavenly dogs (anjing2 surga).

Cara melafalkan kata tien-kou agak mirip dengan pronounce tengu dlm bahasa Jepang. Namun definisi dari tengu versi Cina & Jepang berbeda. Tengu dalam masyarakat Cina merujuk ke legenda komet atau meteor. Menurut legenda, meteor adalah raga mahluk surgawi yang jatuh ke bumi. Ekor komet mengingatkan masyarakat Cina pada ekor musang atau anjing.Tengu dalam definisi Cina lebih merujuk pada mahluk astral.

Legenda tengu Jepang muncul di abad ke 6 dan 7. Tengu dalam term Jepang merujuk pada mahluk burung dan pendeta berhidung panjang. Tengu berwujud manusia burung sering menculik anak-anak kecil, membuat orang tersesat dan menyebabkan kebakaran hutan. Mereka juga bisa berubah wujud menjadi lelaki, wanita dan anak-anak.

Tengu hidup di pegunungan dan sering tampil dengan wujud pendeta Yamabushi nyentrik (pendeta gunung) yang tinggal di sana. Saat ini, masyarakat modern lebih familiar dengan tengu yang berwujud pendeta gunung (pendeta yamabushi). Tengu yamabushi juga jahat, bahkan dalam beberapa kisah, mereka bisa lebih jahat daripada tengu burung. Namun, juga ada pengakuan orang-orang yang mendapat bantuan dari tengu saat tersesat di pegunungan.

Menurut legend, Tengu lahir dari telur raksasa. Tengu burung tinggal di pohon-pohon besar. Dalam wujud manusia, tengu tampil sebagai pendeta atau samurai berwajah arogan, dengan dagu dan hidung panjang. Jika berbuat baik, maka tengu dapat terlahir kembali dan menjadi manusia.

Tengu berjalan dengan kaki dan tidak melayang seperti lazimnya hantu. Tengu yamabushi biasanya memiliki kaki yang sangat keriput yang menandakan tuanya usia mereka. Sayap tengu burung terkadang berkilap dan berwarna indah. Menandakan kalau mereka adalah mahluk surgawi.

Tengu berbicara tanpa menggerakkan mulut (dengan telepati). Mereka dapat merasuki orang, bicara langsung dalam benak kita atau masuk di alam mimpi kita . Dalam komunitas tengu, ada hirarki. Dikatakan, tengu berwujud manusia berhidung panjang lebih kuat daripada tengu berwujud manusia burung.Raja Tengu bernama Sojobo, yang berwujud pendeta yamabushi berambut putih. Sojobo sering terlihat di gunung Kurama, sebelah Utara Kyoto.
Tengu berbicara tanpa menggerakkan mulut (dengan telepati). Mereka dapat merasuki orang, bicara langsung dalam benak kita atau masuk di alam mimpi kita . Dalam komunitas tengu, ada hirarki. Dikatakan, tengu berwujud manusia berhidung panjang lebih kuat daripada tengu berwujud manusia burung.Raja Tengu bernama Sojobo, yang berwujud pendeta yamabushi berambut putih. Sojobo sering terlihat di gunung Kurama, sebelah Utara Kyoto.

Kurasu Tengu

kurasu tengu

[NEXT-FAJAR]

Bentuk kuno Tengu adalah “Karasu” atau “gagak” Tengu. Digambarkan sebagai makhluk gagak seperti kejahatan dengan tubuh seorang pria, ia mampu menculik orang dewasa dan anak-anak, membuat kebakaran, dan mereka yang sengaja merusak hutan, untuk hidup Tengu di pohon. Kadang-kadang juga Tengu akan menculik manusia, hanya untuk membebaskan mereka nanti, tapi “beruntung” selamat akan pulang dalam keadaan demensia (disebut “Tengu Kakushi, yang berarti” tersembunyi oleh Tengu “).

Yamabushi Tengu

yamabushi tengu

Selama berabad-abad, Tengu menjadi lebih manusiawi dalam penampilan dan mengambil peran protektif dalam urusan manusia. Para Tengu dapat mengubah dirinya menjadi seorang pria, wanita, atau anak, tetapi disquise disukai adalah untuk muncul sebagai, bertelanjang kaki mengembara, gunung tua pertapa ataupun rahib (yamabushi) dengan hidung yang sangat panjang. Baik tanuki magis (musang) dan oinari (rubah) juga dapat mengubah ke bentuk manusia, dan dalam beberapa tradisi Jepang dua makhluk yang benar-benar dianggap hewan manifestasi dari Tengu.

Para Tengu Yamabushi datang dalam dua rasa – goblin berhidung panjang dengan wajah manusia atau goblin paruh berhidung dengan wajah manusia.

Kenapa Tengu Memiliki Hidung Panjang??

Tengu selalu digambarkan sebagai memiliki rasa humor yang nakal, karena mereka suka bermain trik pada orang-orang yang mereka hadapi, terutama pada pendeta Buddha sombong dan arogan dan samurai.

Memang, dengan akhir Periode Kamakura, yang Tengu menjadi kendaraan utama untuk mengkritik sastra kedua sekte Budha didirikan dan baru lahir.

[NEXT-FAJAR]

Berhidung panjang berkaitan dengan kebencian Tengu kesombongan dan prasangka. Imam tanpa pengetahuan yang benar, orang sombong, yang melekat pada ketenaran, dan mereka yang sengaja menyesatkan atau penyalahgunaan meriam Buddha berubah menjadi berhidung panjang Yamabushi Tengu (atau dikirim ke Tengudo, dunia dari Tengu) setelah kematian mereka. Rusak biksu Buddha dan korup vihara pada kenyataannya menjadi perhatian utama seluruh abad pertengahan Jepang. Tengu yang demikian dilihat sebagai pelindung Dharma (Buddha hukum), dan menghukum mereka yang menyesatkan orang. Seiring waktu, cerita rakyat Tengu dan yamabushi menjadi saling terkait, dan bahkan Tengu gagak (Karasu Tengu) mulai memakai jubah dan topi dari imam.

 

Karasu Tengu

 

Yamabushi Tengu

 

Karasu Tengu dan Yamabushi Tengu

loading...
Click to comment
To Top