Italia Sudah Lama tak “Produksi” Striker Berkualitas – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Italia Sudah Lama tak “Produksi” Striker Berkualitas

FAJAR.CO.ID, ROMA – Dalam lima musim terakhir, para bomber pribumi Serie A Italia seperti tak mampu menjadi tuan rumah di negeri mereka sendiri.

Banyak kalangan yang mungkin akan mengasosiasikan sepakbola Italia dengan barisan pertahanan nan kukuh bernama Catenaccio. Sebut saja sosok-sosok melegenda macam Franco Baresi, Giuseppe Bergomi, Paolo Maldini, Alessandro Nesta sampai Fabio Cannavaro, dengan gaya dan prestasi masing-masing.

Namun, jangan lupakan, Gli Azzurri juga punya catatan historis lagi membanggakan perihal barisan ujung tombak, yang tak kalah menjadi simbol dalam perjalanan sepakbola mereka. Hampir mustahil bila Anda adalah pecinta sepakbola sejati tapi tidak mengenal figur ikonik di era sepakbola modern macam Roberto Baggio atau Christian Vieri. Ingat Gianluca Vialli?

Bila melintasi nostalgia Italia lampau, kita akan dapati nama-nama penyerang yang begitu ditakuti di masanya. Giuseppe Meazza, pemain yang kini diabadikan namanya dalam sebuah stadion kebanggaan kota Milan, menghadirkan kejayaan bagi Azzurri pada 1930-an. Di akhir 60-an dan Piala Dunia 1970 semua mata tertuju pada sang idola dari Cagliari, Luigi Riva. Ada pula Giorgio Chinaglia yang membintang di pertengahan era 70-an. Tak ketinggalan, torehan gelar ketiga Piala Dunia pada 1982 dibintangi figur fenomenal, Paolo Rossi.

Hingga yang paling masyhur di zaman modern muncul nama seperti Vialli, Vieri dan sang dewa Baggio, yang gol-golnya membawa Italia menjadi finalis Piala Dunia 1994.

Melihat kenyataan di atas barang tentu para loyalis Serie A atau timnas Azzurri pantas gereget. Pasalnya, dalam lima musim ke belakang, wajah-wajah asli Italia tak satu pun sanggup mendominasi daftar topskor Serie A. Kecuali Ciro Immobile bersama Torino di musim 2012/13, selebihnya adalah penggawa-penggawa asing yang silih berganti menguasai daftar pencetak gol terbanyak di kancah Italia. Semakin ironi bila memaparkan fakta bahwa tahun lalu, selepas perhelatan Piala Dunia 2014, saking krisisnya striker yahud, topskor timnas Italia di bawah komando Antonio Conte adalah bek Giorgio Chiellini! Ya, seorang defender, bukan penyerang!

Luca Toni mungkin jadi orang yang cukup mendapat sorotan positif di Italia karena tren golnya dalam dua musim berturut-turut — 20 gol di edisi 2012/13 dan berbagai status Capocannoniere musim lalu bersama Mauro Icardi dengan 22 gol. Namun, untuk ukuran sekelas Toni, kapabilitasnya tak bisa lagi diperhitungkan untuk bersaing jangka panjang mengingat faktor umur, apalagi bermain di level internasional, dan sang bomber sendiri sudah menyatakan pensiun dari timnas sejak 2009.

Nama-nama seperti Zlatan Ibrahimovic [Swedia], Edinson Cavani [Uruguay], Diego Milito [Argentina], Carlos Tevez [Argentina], Paulo Dybala [Argentina] dan Jeremy Menez [Prancis] adalah para pemain asing yang sukses menancapkan jati diri mereka dengan mewarnai rivalitas topskor di Serie A dalam lima musim terkini. Bahkan tiga nama terakhir menempel ketat Toni di lis Capocannoniere musim lalu.

Dengan Euro 2016 menanti di depan mata, wajar jika pelatih timnas Italia Antonio Conte sedikit dibuat pusing dengan minimnya opsi di area penyerangan. Malangnya, Conte harus mendapati pemasok pemain-pemain berkualitas — klub-klub top Italia seperti Internazionale, Juventus, Milan, AS Roma, Napoli — justru lebih mengedepankan figur asing sebagai ujung tombak andalan mereka.

Internazionale misalnya, dengan rasa Tango di diri Icardi dan Rodrigo Palacio-nya; Juventus dengan deretan striker asing berbakatnya macam Paulo Dybala, Alvaro Morata dan Mario Mandzukic; AS Roma diperkuat dengan mesin gol barunya Edin Dzeko dan sosok lincah dari tanah Afrika di diri Gervinho; Duet Carlos Bacca-Luiz Adriano milik Milan; dan Napoli yang kian melambung karena dibintangi mantan superstar Real Madrid kelahiran Argentina, Gonzalo Higuain.

Tenggelam di mana barisan striker lokal? Sampai di mana pertumbuhan grassroot Italia? Alhasil Conte pun kini tidak punya pilihan terbaik di lini serang selain mencomot Simone Zaza dan Immobile, yang masing-masing sejatinya tidak dalam performa terbaik. Zaza, yang baru mengemas dua gol dalam sepuluh laga musim ini, kesulitan meraih jam terbang reguler di Bianconerri karena perannya tertutupi penyerang-penyerang yang lebih menjanjikan, sementara Immobile bagaikan kehilangan kepercayaan diri sejak bergabung dengan Borussia Dortmund. Eks pentolan Torino itu kini terdampar di Spanyol dengan memperkuat Sevilla dan di ajang La Liga namanya kian terbenam.

Mario Balotelli? Selain karena performanya yang terus merosot sejak pulang ke Milan dari Liverpool, pemain kontroversial satu ini jelas tidak akan masuk dengan filosofi kedisiplinan ala Conte.

Maret 2015, entah merasa kepepet, Conte sampai-sampai harus menempuh langkah yang menuai kritik keras karena memutuskan memanggil pemain naturalisasi dari Argentina dan Brasil, Franco Vazquez [Palermo] dan Eder [Sampdoria]. Sontak, pelatih Inter Roberto Mancini memberi peringatas keras pada eks pembesut Juventus itu.

“Timnas Italia haruslah orang-orang asli Italia. Pemain Italia pantas bermain bagi negaranya, sementara mereka yang tidak lahir di Italia, meski ada garis keturunan, saya tidak menilai mereka layak mendapat kesempatan,” tukas Mancini.

Bagaimana pun, Conte punya anti-teori. Sang juru taktik pun mencatut nama Mauro Camoranesi sebagai eksperimen sukses.

“Jika Mauro Camoranesi [yang lahir di Argentina] diizinkan untuk membantu Italia menjuarai Piala Dunia 2006, kenapa tidak bisa Eder dan Franco Vazquez memimpin Azzurri menjuarai Kejuaraan Eropa kelak?” sanggahnya.

Melihat bingkai persaingan Capocannoniere memang terasa cukup mengkhawatirkan. Para penyerang yang bercokol di lis topskor musim ini kebanyakan dari sosok-sosok asing. Higuain berada di puncak dengan 18 golnya; disusul Eder [Sampdoria/Italia] 11 gol; Nikola Kalinic [Fiorentina/Kroasia] 10 gol; Dybala [Juventus/Argentina] dan Josep Ilicic [Fiorentina/Serbia] 9 gol; Bacca [Milan/Kolombia], Icardi [Inter/Argentina], Lorenzo Insigne [Napoli/Italia] dan Massimo Maccarone [Empoli/Italia] 8 gol, di jajaran lima besar Capocannoniere.

Alih-alih berharap pada diri Insigne untuk menjadi mesin gol Italia di masa depan, jelas dia kalah pamor dari sang protagonis, Higuain, di Napoli. Lagipula, peran pemain 24 tahun tersebut lebih sebagai penyerang support bagi pemain Argentina tersebut dengan dia tercatat telah membuat enam assist.

Sementara Maccarone tidak bisa diharapkan menjadi pemeran utama di lini serang Italia meningat dirinya yang sudah memasuki usia senja, yakni 36 tahun.

Praktis, Eder menjadi secercah harapan. Satu-satunya pemain yang barangkali bisa menjadi titik balik lahirnya striker berkualitas di negeri sendiri, walau tak sepenuhnya bisa dibanggakan lantaran si penyerang hanyalah Oriundi alias sosok naturalisasi dari Brasil, bukan murni Italiano.

Eder menjadi pengintai serius Higuain di tahta Capocannoniere dengan keduanya menghuni lis dua teratas topskor. Menganalisis tren gol Eder dengan ditunjang penampilan primanya sepanjang paruh pertama musim, bukan mustahil dia bisa menyalip pencapaian gol Higuain di akhir edisi 2015/16.

Bila skenario di atas terwujud, dan pemain 28 tahun itu sanggup membayar kepercayaan Conte yang sudah menyiapkannya untuk membela Italia di Euro 2016 dengan penampilan nan tajam, saatnya Serie A dan Gli Azzurri menyambut kemunculan striker berkualitas dari tanah mereka sendiri.(goal)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top