Pencaker di Solok Keluhkan Minimnya Lapangan Pekerjaan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Pencaker di Solok Keluhkan Minimnya Lapangan Pekerjaan

FAJAR.CO.ID, SOLOK – Sejumlah pencari kerja (pencaker) di Kota Solok, Sumatera Barat mengeluhkan masih kecilnya lapangan pekerjaan yang tersedia di daerah tersebut. Kondisi itu membuat mereka sulit mendapatkan pekerjaan untuk menopang kehidupan. Pemerintah diminta memperbanyak lapangan pekerjaan sehingga kesempatan bekerja semakin terbuka lebar.

“Sungguh sulit mencari kerja sekarang. Dari sekian banyak surat lamaran yang masuk, belum satu pun ada respons. Dalam waktu dekat, saya ingin masukkan lamaran ke Pemko Solok jadi pegawai honor, atau guru di sekolah tingkat manapun,” ujar Dion, salah seorang pencaker asal Simpang Rumbio, Kecamatan Lubuksikarah, kemarin.

Jebolan salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka Kota Solok itu mengaku sebelumnya pernah bekerja sebagai salesmen gudang distributor perusahaan biskuit, makanan ringan dalam kemasan. Merasa beban yang diberikan perusahaan terasa begitu berat dan upah relatif kecil, dia memutuskan berhenti kerja.

“Bukannya kebutuhan hidup saya dapat terpenuhi, malah saya utang sana-sini. Dari pada terus menambah penyakit, saya berhenti saja di perusahaan itu,” ucapnya.

Katanya, setiap hari harus berangkat membawa banyak barang dengan sepeda motor. Tak hanya itu, dia juga harus melakukan penagihan belasan juta rupiah. Sementara gaji yang diterimanya hanya Rp 700 ribu sebulan. “Saat ini, saya hanya berprofesi sebagai tukang ojek. Mau bagaimana lagi,” ucapnya.

Ardianto, 23, asal Kelurahan Pandan, Kecamatan Tanjung Harapan, juga harus menerima kenyataan pahit sebagai penganggur tingkat tinggi setelah dua tahun lalu resmi diwisuda di perguruan tinggi tempatnya kuliah.

Menurutnya, lowongan pekerjaan hampir di seluruh kantor/dinas, instansi, perusahaan, jawatan se-Kota Solok sudah penuh. “Berwiraswasta, harus berbisnis apa, dan modalnya mesti dari mana? Bagaimana pun, kelak saya tetap harus jadi pegawai, atau karyawan perusahaan, sesuai latar belakang ilmu dan ijazah,” tukasnya.

Guna mengisi waktu, Ardianto terpaksa jadi tukang ojek dengan sasaran kaum ibu-ibu sepulang berbelanja di Pasar Raya Solok, dan kalangan pelajar SD, SMP, SMA secara langganan. Untuk memudahkan cari langganan, dia jalin komunikasi lewat ponsel.

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Solok Edi Candra menuturkan, persoalan pengangguran masih beban berat pemko karena sempitnya lapangan pekerjaan dan minimnya jiwa kewirausahaan. Angka pengangguran secara global tercatat di kisaran 2.500 jiwa.

Untuk meyiasatinya, sepanjang tiga tahun terakhir, Pemko Solok proaktif menggulirkan berbagai program strategis. Di antaranya dalam bentuk pelatihan keterampilan, kemandirian dan pembekalan manajemen serta magang ke Jepang. Bahkan, pengangguran secara umum tidak hanya diwarnai tamatan SMA sederajat, namun juga banyak di antaranya jebolan perguruan tinggi berstatus sarjana S1/ DIII, DII, serta sebagian kalangan dengan menggeluti pekerjaan tidak tetap. Guna memutus mata rantai persoalan tersebut, pihaknya minta semua elemen ikut mendukung pemerintah mencarikan solusi secara tepat.

“Di era sekarang, masyarakat tidak zamannya lagi terpaku mencari kerja, namun harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Di antaranya lewat menggerakkan usaha berbasis rumah tangga, UKM, dan lain sebagainya,” pungkasnya. (tn/indopos)

To Top