Di Daerah Ini Gafatar Berkembang Pesat – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Di Daerah Ini Gafatar Berkembang Pesat

FAJAR.CO.ID, MATARAM – Organisasi Masyarakat (Ormas) Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) telah masuk NTB sejak tahun 2012. Sampai saat ini Ormas tersebut telah menyebar ke empat daerah.

Kepala Bangkesbangpoldagri Provinsi NTB Lalu Bayu Windia mengungkapkan, empat daerah yang telah dimasuki GAFATAR yaitu Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Sumbawa, dan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). “Tapi untuk saat ini tidak mudah kita melihat mereka, karena aktivitasnya rahasia dan disembunyikan,” terangnya seperti dilansir Harian Radar Lombok (Grup JPNN.com), pekan ini.

Menurut Bayu, strategi rahasia dalam perekrutan dan aktivitasnya disembunyikan karena terjadi banyak penolakan oleh masyarakat setempat. Namun mereka tetap eksis mencari anggota baru untuk mewujudkan visi-misi Gafatar.

Pada bulan Februari 2015 lalu, pengurus Gafatar sempat mendatangi Bangkesbangpoldagri. Ormas tersebut ingin mendapatkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT), namun ditolak dan sampai saat ini SKT tidak pernah dikeluarkan. “Mereka datang minta SKT, tapi tidak kita berikan,” ungkap Bayu.

Gafatar sendiri sejak lama telah dilarang berkembang oleh pemerintah pusat. Hal itu berdasarkan surat Ditjen Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri RI Nomor 220/3657/D/III/2012 tanggal 20 November 2012. Namun larangan tersebut kurang tersosialisasikan dengan baik sehingga masyarakat banyak yang belum tahu.

Untuk wilayah NTB, pengurus Gafatar merupakan orang NTB sendiri dan dibantu oleh orang luar.

Dari penelusuran Radar Lombok, Ketua Gafatar NTB dijabat Buana Fahriadin, Sekda GAFATAR NTB, Muh. Ali, dan Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Junaidin.

Kehadirannya seringkali mendapatkan penolakan keras dari masyarakat seperti pernah  terjadi di Mataram, Lobar dan KSB. “Dulu sempat ribut masalah Gafatar, ada juga kantornya disini tapi sekarang sudah tidak ada,” ucapnya.

Kantor Gafatar sempat terpantau berada di Jati Sela, Sesela, Lombok Barat. Namun setelah itu gerakannya sulit terpantau.

“Kalau dulu biasa mereka adakan kegiatan sosial, ormas ini memang alirannya sesat tapi bertopengkan kegiatan sosial,” kata Bayu.

Ia menjelaskan, Gafatar salah satu organisasi terlarang yang paling sering berganti nama. Sebelum menggunakan nama Gafatar, nama yang dipakai adalah Milah Abraham. Organisasi tersebut juga sempat berganti nama menjadi Negara Karunia Tuhan Semesta Alam (NKSA). Milah Abraham dinilai sesat karena mencampuradukkan ajaran Islam, Nasrani dan Yahudi.

Ajaran yang dibawa Gafatar, terang Bayu, salat dianggap tidak wajib. Ibadah puasa, haji dan lain-lain juga bisa ditinggalkan karena dianggap saat ini masih masa jahiliyah. “Syahadat mereka juga berbeda lho, tidak  kayak kita,” ucapnya.

Terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB Prof H  Syaiful Muslim  mengimbau  masyarakat untuk mewaspadai dan berhati-hati masuknya gerakan aliran sesat seperti Gafatar. Sebab, Ormas tersebut telah dinyatakan sebagai aliran sesat karena mempelesetkan ajaran Islam.

MUI pusat lanjutnya, sudah dengan tegas telah mengeluarkan fatwa sesat. Oleh karena itu alasan apapun yang digunakan sudah tidak bisa dibenarkan lagi.

“Jangan sampai lah ada masyarakat kita yang masih bisa diperdaya, Gafatar sudah jelas-jelas jauh dari ajaran Islam,” ujar Saiful Muslim.

Awal Januari 2015 lalu, GAFATAR pernah mendatangi MUI NTB untuk diakui dan tidak dianggap sesat. Namun setelah dilakukan investiagsi dan penelitian Gafatar yang berkembang di NTB juga sesat dan menyesatkan.

“Gafatar dimanapun sama, mereka sesat. Karena AD/ART mereka sama, sama-sama sesat,” tegasnya.

Saiful menjelaskan, Gafatar adalah organisasi yang dilarang dan sudah dinyatakan aliran sesat oleh MUI, sedangkan di NTB sendiri organisasi ini diketahui sudah berkembang di Kabupaten Sumbawa Barat sejak 2014. “Aliran sesat tidak mengakui Muhammad SAW sebagai nabi, menyerukan untuk tidak salat, tidak berhaji dan menyatakan keluar dari Islam,” katanya.(zwr/cr-luk/fri/jpnn)


 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top