Kalau Hanya Daunnya yang Dipangkas, Teroris Tidak Bakalan Punah – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Nasional

Kalau Hanya Daunnya yang Dipangkas, Teroris Tidak Bakalan Punah

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Sehari pasca-peristiwa teror Thamrin, Polisi langsung melakukan aksi penangkapan para terduga teroris di sejumlah wilayah. Sampai kemarin, setidaknya ada 12 orang yang dicokok Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror. Namun, upaya seperti ini dinilai tak cukup. Penangkapan ini diibaratkan seperti hanya melibas daun, tak mungkin sampai membasmi akar terorisme.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Anton Charliyan mengungkapkan hasil tangkapan Densus 88 yang dilakukan sejak Jumat (15/1) lalu. Kata dia, pihaknya mengamankan 12 orang yang diduga terkait teror Thamrin, Kamis lalu. “Mereka yang ditangkap ini merupakan kelompok radikal lama, sebagian merupakan lintas jaringan Aceh,” kata Anton, di kantornya, kemarin.

Mereka yang diamankan antara lain adalah pria berinisial FS, warga Kalimantan Timur. Ia diringkus Jumat dini hari, di rumah mertuanya, Kelurahan Sepinggan Baru, Balikpapan Selatan, Kalimantan Timur.

Kapolda Kaltim, Irjen Safaruddin mengungkapkan, polisi mengamankan sejumlah peluru tajam, bubuk mesiu, dan pupuk urea. Hampir bersamaan, polisi juga mencokok tiga terduga teroris di Cirebon. Ketiganya diamankan di tempat dan waktu yang berbeda. Anton Charliyan, menyebut ada indikasi para terduga teroris ini terhubung dengan Barun Naim.

“Mereka mendapat perintah langsung dari BN (Bahrun Naim), yang saat ini ada di Suriah,” ujarnya. Penangkapan ini berdasar pada temuan dari lokasi teror di kawasan Sarinah (14/1). Dari salah seorang terduga ditemukan pula bukti berupa bendera ISIS.

Satu orang lagi berinisial EA ditangkap pada Jumat siang di sebuah rumah kontrakan, Jalan Topas Raya Kelurahan Bojong Rawa Lumbu, Kecamatan Rawa Lumbu, Kota Bekasi. Di rumah itu, EA diketahui tinggal bersama istrinya. Namun saat penangkapan, sang istri berinisial N (20) dan seorang anaknya tidak berada di rumah. Bersama EA polisi mengamankan satu buah samurai, CPU, dan satu karung yang berisi sejumlah berkas. Dua orang pegawai kios itu juga dimintai keterangan.

Di Tegal, Densus 88 berhasil meringkus dua orang yang telah lama jadi target mereka yakni AM (39), dan H (27). Keduanya tercatat sebagai warga desa Langgen RT 006/ RW 002, Kecamatan Talang. Selain AM dan H, tiga warga lain juga turut diamankan.

Anton menyebut, pihaknya punya waktu hingga tujuh hari ke depan untuk memeriksa 12 orang ini. Apabila terlibat, mereka akan diproses hukum. Anton menambahkan Densus 88 masih meneliti sejauh mana keterlibatan langsung seluruhnya dengan teror Thamrin. Barang sitaan lain, berupa sembilan pucuk senjata api laras pendek, enam magasin, lima buah telepon genggam, dan satu unit sepeda motor.

[NEXT-FAJAR]

Kapolri Jenderal Bdrodin Haiti menyebut salah satu pelaku yang ditangkap ini sudah mendapat transfer dana dari ISIS untuk membiayai operasi. “Sekarang pengembangan dan pembuktian tim Densus 88,” tutur Kapolri Badrodin.

Pengamat teroris dan intelijen DR Susaningtyas Kertopati mengapresiasi gerak cepat aparat tersebut. Kata dia, dengan penangkapan itu diharapkan bisa menimbulkan efek jera bagi pelaku-pelaku yang lain. “Bila data terduga teroris benar dan akurat sangat harus dilakukan, tapi jika data tidak akurat harus hati-hati karena bisa berakibat salah tangkap, dan lain-lain,” kata Susaningtyas, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Namun, perempuan yang akrab disapa Nuning ini mengingatkan, menangani terorisme tidak cukup hanya dengan upaya penangkapan. Perlu upaya penanganan sampai ke akar masalah. Yaitu cegah tangkal dan deradikalisasi.

“Penangkapan seperti melibas daun, tak menyentuh akar,” ujarnya. Deradikalisai pun harus dilakukan multidimensi tidak bisa mengedepankan upaya represi semata. Karena tak sedikit, setelah keluar program deradikalisasi para teroris justru makin gencar.

Kata Nuning, dalam konteks deradikalisasi terhadap mereka yang terlibat aksi terorisme, di dalamnya tercakup kegiatan penegakan hukum, reedukasi, rehabilitasi dan resosialisasi yang senantiasa mengacu pada prinsip-prinsip supremasi hukum, HAM. “Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan agama, psikologis, politik,sosial-budaya, ekonomi, hukum dan teknologi,” pungkasnya. (rmol)

loading...
Click to comment
To Top