AROGAN: Polisi Menodong dan Mengancam Menembak Ibu-ibu – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Kriminal

AROGAN: Polisi Menodong dan Mengancam Menembak Ibu-ibu

FAJAR.CO.ID,  MALANG – Tingkah arogan ditunjukkan Brigadir TS, anggota Polres Batu. Minggu petang lalu, warga RT 06 RW 11, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso ini menodongkan pistol kepada, dua warga Perum Griya Permata Alam Blok HH. RT06 RW11, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso. Yakni Hermin Susilowati (38) dan Herman Setya Budi.

Tidak sekadar menodong, Brigadir TS juga mengancam akan menembak Hermin yang merupakan istri dari Suwanto (41), ketua RT setempat. Tak ayal, Suwanto pun tidak terima dengan tingkah arogan anggota polisi yang harusnya bertugas sebagai pengayom masyarakat tersebut. Itu sebabnya, Senin (18/1), Suwanto memilih melaporkan Brigadir TS yang juga merupakan warganya tersebut ke Sipropam Polres Batu.

“Kami sudah membuat pengaduan, harapannya kasus ini diproses secara hukum,” kata Suwanto.

Suwanto menceritakan, penodongan pistol ini berawal saar Brigadir TS yang mengendarai mobil melintas di depan rumahnya. Saat itu mobil Brigadir TS tidak bisa berjalan lancar, lantaran terhalang motor yang parkir di depan rumah Suwanto.

“Minggu sore lalu ada kegiatan PKK di rumah. Ibu-ibu yang datang memarkir motornya di depan rumah,” kata Suwanto.

Karenanya, Brigadir TS yang merupakan anggota Sat Intelkam Polres Batu ini menekan klakson beberapa kali. Hingga akhirnya, Hermin keluar dari rumah. Melihat Hermin, Brigadir TS turun, dan seketika mengolok Hermin dengan kata-kata goblok.

Diolok goblok, Hermin tidak terima. Selanjutnya  cek cok mulut pun terjadi antara Hermin dan Brigadir TS. Beberapa anggota PKK sempat keluar, dan melihat Hermin cekcok dengan Brigadir TS. Tidak lama kemudian, Brigadir TS kembali ke mobilnya, dan pulang ke rumahnya. Bahkan meski jalannya tidak cukup, Brigadir TS tetap melajukan mobilnya. Akibatnya, rombong bakso yang mangkal depan rumah korban pun diserempet oleh mobil Brigadir TS.

Melihat tingkah polisi yang arogan tersebut, Hermin dan anggota PKK lainnya hanya mengelus dada. Mereka kemudian kembali masul rumah, setelah melihat Brigadir TS .

Aksi arogan Brigadir TS ternyata tidak berhenti. Terbukti pukul 18.00 Brigadir TS kembali melintas di depan rumah korban. Melihat korban yang sedang membetulkan kran air depan rumah, Brigadir TS kembali emosi. Dia langsung turun, dan kembali mengolok-olok korban. Cek-cok mulut kembali terjadi saat itu.

Mendengar ada cekcok mulut di luar, Hermawan Setia Budi adik Suwanto keluar. Tapi bukannya TS diam, dia malah emosi. Terbukti TS langsung menarik senpi yang ada di balik bajunya. Senpi tersebut oleh TS ditodongkan pertama kepada Hermin.

“Senpinya ditodongkan ke dahi istri saya,” kata Suwanto. Bukan itu saja, TS juga mengancam menembak Hermin jika terus melawan perkataannya.

“Setelah ke istri saya, pistol yang dibawa TS ditodongkan ke pelipis kiri adik saya,” kata Suwanto.

Suwanto sendiri mengaku saat itu dia tidak ada di rumah. Petang itu dia ke rumah temannya di Batu.

“Kejadian TS menodongkan pistol juga terlihat oleh ibu mertua dan dua anak saya yang masih kecil,” katanya.

Suwanto menyesalkan tingkah arogan TS. Apalagi TS adalah anggota polisi yang harusnya mengayomi warga. “Semalam saya berbicara pengurus RT lainnya, selanjutnya tadi malam rumah saya juga dijaga oleh warga, takut kalau dia tiba-tiba datang lagi,” urai Suwanto.

Disinggung apakah ada masalah sebelumnya? Suwanto menggelengkan kepala. Dia mengatakan jika TS tinggal di Perum Griya Permata Alam baru 3-4 tahun. Selama ini tidak pernah ada masalah. Hanya saja, Suwanto mendengar jika TS dan beberapa tetangganya tidak akur.

‘Dengar-dengar dia tidak akur dengan para tetangga lainnya. Kalau dengan kami tidak ada masalah,” tandasnya.

Terpisah Kapolres Batu AKBP Leonardus H Simarmata P, mengaku belum mendapatkan laporan terkait salah satu anggotanya yang menodongkan pistol. Namun begitu, pihaknya tidak akan mentolelir jika ada kejadian tersebut.

“Belum dapat laporan, saya cek dulu ya. Tapi yang jelas kami tidak akan tutup mata. Anggota yang melakukan kesalahan akan diproses sesuai dengan aturan hukum yang berlaku,” katanya.

Sanksi yang diberikan kepada anggota yang nakal tersebut bisa saja hanya hukuman disiplin. Namun jika kasusnya pidana, hukuman terberatnya adalah pemberhentian.

“Makanya itu, kami masih melakukan pengecekan. Jika kasunya pidana, langsung ditangani anggota reskrim. Tapi jika kasusnya pelanggaran kode etik akan ditangani oleh Sipropam,” tandasnya.

Sementara itu, Kasi Propam Polres Batu Ipda Hanis membenarkan adanya pengaduan tersebut. Dan pihaknya pun tidak mentolelir. Kemarin usai diadukan, pihaknya langsung melakukan pemanggilan.

“Sekarang sedang diproses. Yang diadukan pun kami mintai keterangan terkait peristiwa tersebut,’’ katanya. Tapi begitu, dia memastikan jika senpi yang digunakan bukanlan senpi organik anggota Polri, melainkan adalah Gas Gun.

“Senpi sudah kami amankan, dan yang bersangkutan sekarang menjalani pemeriksaan,” katanya. Hanis sendiri menyesalkan kejadian tersebut. Dia berharap jika kasus seperti ini tidak terulang kembali.

Disinggung keseharian TS, Hanis mengatakan jika TS merupakan anggota Sat Inlelkam. Dan selama bertugas, TS tidak pernah berulah. “Kaget juga, tapi apapun hukum tetap ditegakkan, tidak perduli dia anggota polisi,’’ tandasnya.

Sementara itu Brigadir TS sendiri mengaku, jika dirinya emosi. Emosinya memuncak, lantaran dia diolok-olok oleh korban.

“Saya diolok-olok, bahkan dia juga memaki saya dengan kata-kata tidak etis depan orang banyak,’’ katanya.

Tapi begitu, TS mengaku sangat menyesal, dengan yang sudah dilakukan. TS juga mengaku jika pistol yang digunakan menodong bukan pistol organik polisi, melainkan pistol gas.

“Saya tidak membawa pistol berisi peluru tajam, tapi hanya membawa pistol gas,” katanya. Dan pistol tersebut sambung TS sudah diamankan Sipropam.(ira/fri/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top