Tolong, Patung Taman Pandanaran Dipindah Saja, Itu Bukan Warak Ngendog! – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Tolong, Patung Taman Pandanaran Dipindah Saja, Itu Bukan Warak Ngendog!

FAJAR.CO.ID, SEMARANG – Bentuk patung ikon Kota Semarang Warak Ngendog di Taman Pandanaran menjadi perhatian khusus Budayawan Djawahir Muhammad. Dia menilai Warak Ngendog di tempat tersebut tidak sesuai dengan filosofi dan perlu dipindah.

Djawahir Muhammad mengusulkan kepada Pemerintah Kota Semarang untuk memindahkan Patung Warak Ngendog yang berada di Taman Pandanaran tersebut. “Patung Warak Ngendog di Taman Pandanaran bukan patung warak ngendog, kepalanya naga atau barongsai, orang Semarang, Jawa dan Indonesia tidak mengenal barongsai, patung Warak Ngendok di Taman Pandanaran pasti salah karena tidak membawa budaya Semarang, Jawa dan Indonesia,” kata Djawahir kepada RAJA saat ditemui di rumahnya di Tandang Ijen, Senin, (18/1).

Selain itu dia menilai patung itu tidak ada ‘endog’ atau telurnya, padahal endog atau telur warak itu bagian dari filosofi Warak Ngendog. Warak Ngendog hanya tampil menjelang pada bulan Ramadhan dalam acara dugderan, endognya itu diartikan sebagai pahala bagi orang yang menjalankan puasa Ramadhan, Warak sendiri diartikan sebagai menahan nafsu saat bulan Ramadhan. “Kalau endognya itu hilang niscaya itu bukan warak ngendog, dan kepalanya itu bukan kepala naga namun berbentuk kambing,” ujar alumni Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang ini.

Menurutnya ada kesalahan dalam mengambil referensi sejarah, sebelumnya Ketua Jamaah Peduli Dugder ini pernah menemui Ketua DPRD dan Walikota Semarang untuk melayangkan protes terhadap patung tersebut dan mengusulkan patung di Taman Pandanaran sebaiknya dipindah ke pecinan. “Saya juga menghormati kreatifitas mereka tapi jangan sampai melukai perasaan masyarakat. Saya menghargai kreatifitas patung menyerupai warak ngendok tersebut tapi saya usul untuk dipindahkan karena tidak sesuai Warak Ngendog yang asli,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia menkhawairkan generasi-generasi muda Semarang nantinya tidak memahami ikon Semarang yang asli. “Jika generasi-generasi muda diwarisi nilai-nilai budaya yang salah maka mereka akan menerima enkulturasi yang salah,” terangnya.

Dia berujar foto warak ngendog ini pertama kali diambil oleh seorang petugas takmir Masjid Kauman Semarang pada tahun 1950. Dalam filosofi Warak ngendog tercermin watak masyarakat Semarang yakni Egaliter (sederajat), Equality (kebersamaan), entrepreneur (pengusaha), dan agamis. “Ada empat karakteristik khas orang Semarang yang menopang simbolisme Warak Ngendog. Sebagian dari masyarakat pantai itu memiliki kharakteristik spesifik, budaya memiliki rasa kesamaan satu sama lain, suka berdagang, egaliter dan agamis,” tambahnya. (Irf/RAKYATJATENG)

 

loading...
Click to comment
To Top