Dijadikan Indah Pandangan Manusia Kecintaan Kepada Apa yang Diinginkan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Samudera Ilmu

Dijadikan Indah Pandangan Manusia Kecintaan Kepada Apa yang Diinginkan

Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji hanya kepada Allah, yang telah berfirman kepada kita ummat manusia:“Maka apakah pantas orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya, lalu menanggap baik perbuatannya itu? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka janganlah engkau (Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. Fatir, 35: 8).

Aku memuji-Nya yang telah menyampaikan kepada kita dengan qalam-Nya yang jelas lagi terang benderang; tentang kebenaran dan kebathilan, cahaya dan kegelapan, kefanaan dan keabadian. Maka beruntunglah orang-orang yang dijauhkan dari berbagai fitnah yang mampu membuatnya binasa.

Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad tercinta, nabi yang miskin harta namun kaya hati. Juga kepada keluarganya yang penyabar, serta para sahabatnya yang mulia. Ya Ilahi, satukanlah mujahidin Suriah, Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya, Allah Ta’ala berfirman.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali-Imran: 14).

Umar bin Khatab berdoa: “Ya Allah, kami tidak mampu menahan rasa gembira atas apa yang Engkau jadikan indah pada pandangan kami. Ya Allah, aku memohon (pertolongan) kepada-Mu agar aku bisa menafkahkannya sesuai haknya.”[1]

Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata, di antara keindahan-keindahan dunia ini, yang paling pertama disebutkan pada ayat ini adalah para wanita. Karena keindahan para wanita itu dapat menjadi fitnah bagi kaum laki-laki dan dapat menjadi tali penghubung syaitan untuk menyesatkan.[2]

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, Allah swt mengabarkan tentang sesuatu yang dijadikan indah dalam pandangan manusia pada kehidupan dunia yaitu wanita dan anak keturunan. Allah memulianya dengan wanita, karena fitnah yang ditimbulkan oleh wanita sangatlah besar, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits sahih Rasulullah saw bersabda:

“Tidaklah aku tinggalkan suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada wanita.”[3]

Adapun fitnah terhadap anak, Imam Al-Qurthubi berkata, satu fitnah yang mungkin ditimbulkan dari anak-anak adalah dari segi pencarian rezki untuk mereka, yang terkadang dapat membuat para ayah terpaksa merelakan dirinya mengambil jalur yang salah.[4]

Ibnu Katsir berkata, apabila kecintaan kepada anak dimaksudkan untuk berbangga-banggaan dan sebagai perhiasan, maka kecintaan seperti itu termasuk dalam kategori kecintaan yang tercela. Tetapi apabila kecintaan kepada anak itu dimaksudkan untuk memperbanyak keturunan dan memperbanyak jumlah ummat Nabi Muhammad saw yang hanya beribadah kepada Allah swt semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, maka kecintaan ini merupakan sesuatu yang terpuji, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits:

“Nikahilah wanita yang penyayang dan memiliki banyak keturunan, karena aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lainnya pada Hari Kiamat kelak.”[5]

Demikian halnya apabila kecintaan terhadap harta benda dimaksudkan untuk berbangga-bangga, angkuh dan sombong kepada orang-orang lemah serta menindas orang-orang fakir, maka hal itu merupakan perbuatan tercela. Tetapi apabila menyukai harta benda tersebut dimaksudkan untuk memberikan nafkah kepada kaum kerabat, mempererat tali silaturahim, berbuat baik dan ketaatan, maka kecintaan seperti ini merupakan kecintaan yang terpuji secara syar’i.[6]

Adapun kuda, Imam Ibnu Katsir membagi kecintaan kepada kuda menjadi tiga;

Pertama, kecintaan dengan maksud untuk persiapan perang di jalan Allah. Kapan saja dibutuhkan, mereka akan menunggangi kudanya. Maka bagi mereka disediakan pahala yang besar.

Kedua, kecintaan dengan maksud untuk berbangga-bangga, memusuhi dan menentang Islam. Maka kecintaan semacam ini termasuk perbuatan dosa.

Ketiga, jika dimaksudkan untuk mengembangbiakkannya tanpa melupakan hak Allah dalam pemanfaatannya, maka hal ini dibolehkan untuk menunjang kebutuhannya.[7]

Begitu juga harta lainnya seperti, emas dan perak, hewan-hewan ternak, sawah ladang atau tanah yang digunakan untuk bercocok tanam, berkebun dan bertani, semua itu telah dijadikan indah dalam pandangan manusia. Dan semuanya fana, hanyalah perhiasan yang akan lenyap dari pandangan. Dia berfirman: “Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”

Allah Ta’ala kemudian berfirman pada ayat berikutnya, yang membandingkan keindahan dunia tersebut dengan apa yang ada di sisi Allah di akhirat kelak. Dia berfirman:

“Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu.” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali-Imran, 3: 15).

Keindahan terhadap apa-apa yang telah dijadikan indah sulit dihindari bagi manusia, maka yang harus diwaspadai adalah terbuai dengan keindahan tersebut, sehingga lupa dengan kampung akhirat. Karena sesungguhnya, apabila seseorang telah terbuai dengan keindadahannya maka syaitanlah temannya. Dijadikan indah terhadap apa yang diinginkan manusia adalah supaya dimanfaatkan untuk kehidupan, dinafkahi, atau ditunaikan hak-haknya. Karena sesungguhnya keindahan itu adalah ujian bagi manusia. Maka itu Allah swt mengabarkan melalui ayat berikutnya tentang apa yang lebih baik dari kefanaan tersebut.

Imam Al-Qurthubi berkata, ayat ini diturunkan sebagai penguat jiwa-jiwa yang ingin meninggalkan keduniaannya dan sekaligus menghibur untuk mereka yang memili akhirat sebagai prioritasnya.[8]

Adapun Imam Ibnu Katsir, berkata, firman-Nya: “Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu.” Maksudnya, katakanlah kepada umat manusia, wahai Muhammad: “Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih baik daripada sesuatu yang dipandang indah oleh manusia dalam kehidupan dunia berupa kesenangan dan kenikmatan yang pasti akan sirna?”[9]

Demikianlah. Dan segala puji hanya kepada Allah yang berfirman: “Wahai manusia! Sungguh janji Allah itu benar, maka jaganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Fatir, 35: 5). Segala puji dan karunia hanya kepada-Nya. (*).

RAIH AMAL SHALEH DENGAN MENYEBARKAN TULISAN INI
 


[1] Diriwayatkan Al-Bukhari dalam sahihnya pada bab: Harta ini adalah (seperti buah yang) hijau dan manis.

[2] Al Jami’li Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi (QS. Ali-Imran, 3: 14). Jilid 4, hal, 78.

[3] HR. Bukhari No. 5096 dan Muslim No 2740. Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. Ali-Imran, 3: 14. Jilid 2, hal 126.

[4] Al Jami’li Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi (QS. Ali-Imran, 3: 14). Jilid 4, hal, 79.

[5] Ibnu Hibban (VI/134) [Sahih: Diriwayatkan juga oleh Ahmad (III/245), Abu Dawud No 2050. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah dalam Sahihul Jaami’ Np 2940] Catatan kaki ini milik; Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. Ali-Imran, 3: 14. Jilid 2, hal 127.

[6] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. Ali-Imran, 3: 14. Jilid 2, hal 128.

[7] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. Ali-Imran, 3: 14. Jilid 2, hal 128.

[8] Al Jami’li Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi (QS. Ali-Imran, 3: 14). Jilid 4, hal, 101.

[9] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. Ali-Imran, 3: 14. Jilid 2, hal 128.

loading...
Click to comment
To Top