Waspada…! Jangan Sampai Harta dan Anak Melalaikan Kamu Mengingat Allah Ta’ala – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Samudera Ilmu

Waspada…! Jangan Sampai Harta dan Anak Melalaikan Kamu Mengingat Allah Ta’ala

Segala puji bagi Allah Ta’ala. Yang telah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Andai saja bukan karena petunjuk-Nya, manusia hidup dalam linangan dosa. Andai saja bukan karena rahmat dan kasih sayang-Nya orang-orang mukmin tidak akan masuk surga.

Dialah Allah, tiada ilah selain Dia. Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak ada ilah selain Dia. Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Segala puji hanya kepada-Nya.

Shalawat dan salam kepada nabi Muhammad yang tercinta. Juga kepada keluarganya, para sahabat, dan para ulama. Semoga kaum muslimin selalu berada dalam lindungan Allah Ta’ala.

Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munaafiquun, 63: 9).

Imam Ibnu Katsir—semoga Allah Ta’ala menyayanginya—berkata, Allah swt memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk memperbanyak dzikir kepada-Nya. Dia melarang mereka disibukkan oleh perkara anak dan harta, sehingga lupa mengingat-Nya. Allah swt mengabarkan bahwa orang yang disibukkan dengan keduniaan dan perhiasannya dari ketaatan dan mengingat Rabb-Nya, maka ia termasuk orang-orang yang benar-benar rugi, di mana ia telah merugikan diri dari keluarganya di akhirat.[1]

Imam Al-Qurthubi—semoga Allah Ta’ala menyayanginya—berkata, Allah memperingatkan orang-orang beriman dari akhlak orang-orang munafik. Maksud firman Allah tersebut adalah: janganlah kalian tersibukkan oleh hartamu sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang munafik, ketika mereka berkata karena sikap kikir mereka terhadap harta mereka, ‘Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah.’[2]

Contoh disibukkan oleh harta sehingga lalai dari mengingat Allah Ta’ala, misalkan karena kesibukan seseorang mengurus harta, mencari harta, sampai ia lalai dari perintah dan larangan Allah Ta’ala. Ia tidak shalat, atau lalai dari shalatnya, atau hanya mengerjakkan separuh waktunya. Ia tidak membaca Al-Quran, melakukan yang haram, dan lain sebagainya yang sejenis. Inilah contoh nyata orang yang merugi.

Adapun contoh orang yang sibuk dengan anaknya, sehingga ia lupa kepada Allah Ta’ala, sangatlah banyak. Apalagi di zaman sekarang, di mana kebanyakan manusia terkena penyakit wahn’ (cinta dunia dan takut mati). Karena saking cintanya kepada anak, ia rela mengorbankan segalanya untuk anak. Mengorbankan waktunya, tenaganya, sedangkan ia lalai dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Wahai saudaraku, cintailah anak karena Allah Ta’ala, jangan mencintai anak karena fanatisme yang tidak jelas. Tapi cintailah ia karena Allah Ta’ala. Supaya hak-hak anak terpenuhi sesuai tuntunan Islam.

Ada orang tua, yang rela bekerja membanting tulang, supaya anaknya sukses. Supaya anaknya mendapat titel pendidikan yang tinggi. Supaya anaknya menjadi terpandang di mata makhluk, di mata orang-orang. Sampai-sampai orang tua itu hidup penuh penderitaan; makan tidak cukup, pakaian tidak cukup, asalkan anaknya sukses kuliah, dan mendapat pekerjaan yang layak, kelak. Begitulah angan-angan orang tuanya, tapi sayang sekali orang tua itu lupa kepada Allah Ta’ala. Lalai dari segala perintah Allah Ta’ala dan melanggar larangan-larangan-Nya. Orang tua tidak sholat lima waktu. Bahkan tidak untuk separuhnya. Ia membaca Al-Quran hanya sedikit.

Pengorbanan orang tua kepada anaknya sebagaimana tadi, tidak berbanding lurus dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Maka sungguh, ia termasuk orang-orang yang merugi dunia dan akhirat. Kerugian di dunia, adalah hidup penuh penderitaan dan pengorbanan kepada cita-cita yang fana, dan kehidupan di akhirat adalah jauh dari keridhaan Allah Ta’ala.

Ada juga gaya kehidupan orang-orang kaya lagi terpandang di mata makhluk yang cenderung hatinya kepada dunia, banyak contohnya, dan hidup di sekeliling kita. Mereka berlomba-lomba memakmurkan anaknya, dengan berbagai fasilitas kemewahan dan pendidikan yang dianggap memiliki level tertinggi. Misalkan menyekolahkan anak di luar negeri. Tapi sungguh, orang tuanya hidup dalam kelalaian kepada Allah Ta’ala.

Ada orang tua yang sangat menjaga supaya anaknya, tidak kehabisan perbekalan di perantauan saat menempuh pendidikan, setiap saat ia menelpon menanyakan kabar tentang kesehatan dan uang sakunya. Namun jarang sekali ia menelpon dan menanyakan, “wahai anakku, sudahkah anda shalat?”.

Ada orang tua yang sangat marah, ketika mendengar bahwa nilai ujian anaknya di bawah rata-rata. Tapi ia tidak pernah marah, ketika anaknya lalai dari shalat Subuh. Ia tidak pernah marah kepada anaknya yang setiap hari lalai dari shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Ia tidak pernah marah kepada anaknya yang meninggalkan shalat lima waktu. Ia tidak pernah marah…. Maka orang tua merugi, anak pun merugi.

Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya, bahwa “Demi masa manusia berada dalam kerugian.” Dan segala puja dan puji hanya kepada Allah Ta’ala, yang telah mengajarkan kapada hamba-Nya yang bodoh ini, ilmu dengan perantara qalam.


 Raih Amal Sholeh dengan copy paste dan atau menyebarkan tulisan ini…


[1] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). (QS. Al-Munaafiquun, 63: 9). Jilid 9, Hal. 130.

[2] Tafsir Al-Jami’li Ahkam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi. (QS. Al-Munaafiquun, 63: 9). Jilid 18, Hal. 561.

Click to comment
To Top