Proyek Kereta Cepat Satu Level dengan Papa Minta Saham – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Proyek Kereta Cepat Satu Level dengan Papa Minta Saham

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang baru saja memasuki tahap groundbreaking langsung mendapat banyak komentar miring. Terlebih proyek senilai USD 5,5 miliar yang dikerjakan konsorsium BUMN dengan Tiongkok itu masih bermasalah dari segi analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

Menurut Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, Dadan Ramdan, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung merupakan skandal baru dalam proyek infrastruktur Indonesia. “Satu level ini dengan Papa Minta Saham,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (23/1).

Dia menambahkan, belum sepenuhnya izin untuk proyek itu lolos. Ia menyebut AMDAL proyek itu juga masih bermasalah karena ada pelanggaran aturan perizinan lingkungan hidup dan tata ruang.

Bahkan di tingkat kementerian juga belum satu suara. “Kementerian Perhubungan juga belum melegalisasi pembangunan kereta cepat ini,” ucapnya.

Dadan menambahkan, Presiden Joko Widodo telah mengorbankan banyak hal dalam membangun kereta cepat Jakarta-Bandung. Padahal proyek itu belum sepenuhnya dibutuhkan. “Di antaranya, daerah ditekan karena harus memberikan lahannya untuk pembangunan tersebut, lingkungan rusak, lalu rakyat dijual,” sebutnya.

Dia menjelaskan, untuk membangun trase saja akan memakan lahan hingga 100-150 hektare. Tata ruang sebesar 40 persen sebagai kawasan lindung menjadi berkurang karena pembangunan ini. ‎

Belum lagi imbasnya pada lingkungan, geologi dan sosial di suatu daerah. “Kita punya struktur geologi yang sangat rentan untuk menerobos terowongan 150 km/jam. Terus nanti bagaimana?” ulasnya.

Ia menambahkan, pemerintah juga mengabaikan aspek keterbukaan informasi dan sosialisasi soal pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung.  Dadan mengungkapkan, berdasarkan hasil surveinya, ternyata ‎warga Jakarta, Purwakarta, Karawang dan Bandung tidak membutuhkan kereta cepat itu.

Ia menegaskan, moda transportasi Jakarta-Bandung sudah memadai dengan adanya kereta api, bus, hingga travel. “Bagi warga, kereta cepat ini bukan kebutuhan,” tandasnya. (rka/JPG)

To Top