Jenazah Teroris Dibuang ke Laut? Bagaimana Menurut Anda? – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Jenazah Teroris Dibuang ke Laut? Bagaimana Menurut Anda?

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj punya pendapat sendiri soal hukuman untuk para teroris. Aqil menyerukan jenazah mereka sebaiknya tidak dikuburkan, tapi dibuang saja ke laut. Setuju nggak?

Aqil mengungkapkan itu ketika menghadiri haul Kiai Newes Di Desa Kedungwungsu, Jumat (22/1). “Siapa pun yang melakukan teror dan menyebarkan rasa takut terhadap masyarakat, maka layak dihukum mati dan jenazahnya layak dibuang ke laut,” ujarnya.

Pendapat Aqil ini dilatarbelakangi oleh peristiwa penolakan warga Desa Kedungwungu atas jenazah Ahmad Muhazan alias Azan. Azan, merupakan salah satu pelaku teror di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (14/1). Jenazah Azan ditemukan polisi di dalam kafe Starbucks dengan bagian dada bolong. Diduga karena melakukan bom bunuh diri dalam rangkaian aksi teror yang diklaim kelompok ISIS itu. Tercatat, delapan orang tewas dalam peristiwa itu.

Setelah teridentifikasi, jenazah Azan dikembalikan ke kampung halaman. Namun warga menolak. Tidak hanya warga, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat juga menolak. Musyawarah dilakukan, hasilnya, Azan yang masih berusia 26 tahun itu dimakamkan terpisah dari pemakaman umum Desa Kedungwungu. “Jenazah almarhum Azan diterima, tapi dimakamkan terpisah dari pemakaman umum,” tutur Kepala Desa Kedungwungu, Ahmad Fuadi, Sabtu (23/1).

Pengurus MUI Kedungwungu, Mustofa Abdul Muin menegaskan, pemakaman jenazah Azan yang terpisah dengan pemakaman umum merupakan pelajaran bagi warga desa setempat dan umat Islam pada umumnya. “Ini peringatan kepada warga Kedungwungu, jangan sampai terkena pengaruh kelompok radikal yang melanggar hukum agama dan negara,” ujar Mustofa.

Melanjutkan keterangan Said Aqil, dia mendukung langkah warga melakukan penolakan dan menyebut mayat teroris layak dibuang ke laut. Menurut Aqil, jika berkaitan dengan teroris jangan dikaitkan dengan hak asasi manusia (HAM). Jika banyak yang meminta masyarakat Desa Kdungwungu untuk menerima jenazah teroris dengan alasan HAM, harusnya dilihat kembali apa yang telah dilakukan para teroris tersebut.

“Teroris lebih melangar HAM, membunuh orang seenaknya. Apa itu tidak melanggar HAM? Kenapa harus berbicara HAM ketika mereka tidak memperhatikan HAM,” ucap Aqil.

[NEXT-FAJAR]

Menurut Aqil, sisi kemanusiaan itu bisa diterapkan untuk orang yang menghormati kemanusiaan. Jika para teroris sangat tidak mempedulikan sisi kemanusiaan, mengapa masyarakat harus dihadapkan dengan HAM ketika menentang mereka. “Kita harus bersikap tegas kepada siapa pun yang menjadi musuh rakyat dan musuh negara,” tegas Aqil.

Menanggapi itu, kalangan Komisi VIII (bidang agama) DPR tidak setuju dengan Aqil. Ketua Komisi VIII Saleh Partaonan Daulay menyatakan, tidak ada dalam undang-undang memberikan hukuman dengan melempar jenazah ke laut. “Saya kira beliau (Said Aqil) tidak serius, hanya ungkapan kekesalan saja,” ujar Saleh kepada Rakyat Merdeka (Fajar.co.id Group), kemarin.

Politisi PAN itu menilai, perlawanan terorisme tidak bisa dilakukan dengan cara ‘kasar’ seperti membuang jenazah ke laut. Menurutnya, tindakan itu tidak memberikan rasa simpatik terhadap publik.

“Tidak hanya beliau yang kesal dengan terorisme. Tapi kita sudah punya aturan. Tinggal dijalankan saja,” pungkasnya.

Senada, Wakil Ketua Komisi VIII Deding Ishak menyatakan, jika jenazah teroris dibuang ke laut tidak memberikan efek jera dan takut kepada kelompok teror. Dia khawatir, justru publik menilai negara kejam dalam memberikan hukuman kepada pelaku teror. “Ngga efektif mau dibuang ke laut atau diapain jenazahnya, tetap dia sudah tewas. Harusnya kita fokus ke pencegahan. Misalnya memberikan dana memadai untuk petugas keamanan,” ujar Deding.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Al Chaidar menyatakan pernyataan bos NU itu justru dapat menyuburkan aksi teror. Pasalnya, kelompok-kelompok Islam di Tanah Air diduga banyak yang tidak sepakat dan menjadi antipati terhadap negara. “Ide ini sama jeleknya dengan ide sertifikasi dan sensor khutbah Jumat,” ujar Chaidar.

Menurut Chaidar, sebaiknya jenazah teroris tidak dibuang ke laut, tetap saja dikebumikan sebagaimana biasanya. “Malah kalau bisa ada kuburan khusus teroris juga,” pungkasnya. (rmol)

loading...
Click to comment
To Top