MIRIS! Kehabisan Biaya Rumah Sakit, Bayi Kekurangan Gizi di Takalar Dipulangkan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

MIRIS! Kehabisan Biaya Rumah Sakit, Bayi Kekurangan Gizi di Takalar Dipulangkan

FAJAR.CO.ID, TAKALAR – Lantaran sudah tidak memiliki biaya pengobatan di Rumah sakit Umum daerah (RSUD) H Padjonga Dg Ngalle, Takalar. Alya, bayi perempuan empat bulan yang mengalami kurang gizi terpaksa dipulangkan, sejak Senin (25/1/16). Alya sempat dirawat di Ruang Asoka nomor III B.

Mirisnya lagi, bayi dari pasangan Ibrahim Dg Tiro (38) dan Yanti (36) diwajibkan membayar sebagai pasien umum padahal mereka sudah menyertakan surat keterangan miskin, kartu keluarga dan kartu domisili.

Menurut ibu pasien, Yanti, dalam seminggu biaya yang mesti dibayar sudah mencapai Rp600 ribu ditambah kebutuhan sehari-hari. Padahal kondisi kesehatan Alya belum pulih, selain masih sering batuk-batuk, berat badan bayi malang itu juga terus menurun hingga 3,2 kg.

“Terpaksa saya bawa pulang, takut tidak ada biaya lagi untuk bayar obat dan kamar. KK, Kartu domisili dan keterangan miskin tidak mau diterima ,” keluh Yanti sebelum membawa anaknya pulang.

Alya dan keluarganya memang tidak terdaftar sebagai penerima jaminan kesehatan, BPJS kesehatan yang dikelola Dinas Kesehatan maupun Kartu Indonesia Sehat (KIS) oleh Dinas Sosial. Padahal, mereka terbilang keluarga miskin.

Ayah Alya, Ibrahim mengatakan, anaknya yang kekurangan gizi dibawah pulang ke rumah lantaran tidak punya biaya perobatan di RSUD Padjonga Dg Ngalle.

“Dirinya sudah memberikan surat keterangan miskin tetap ditolak pihak rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Saya ini pak hanya kuli bangunan tidak punya uang biaya perobatan rumah sakit. Tempat tinggal saja saya cuma numpang di rumah warga, pak,” ujar Ibrahim warga dusun Punagaya, Desa Punagaya, Kecamatan Mangarabombang.

Dia menceritakan, dirinya kerja dari pagi hingga malam hari untuk mencari uang membiayai anaknya yang kekurangan gizi. “Kadang saya mendapatkan Rp 100 ribu, tapi itu tidak cukup. Belakangan ini dirinya tidak lagi bekerja sebagai buruh proyek. Karena proyek yang saya kerja dulunya sudah hampir selesai dan tidak butuh lagi buruh pekerja, sedih Ibrahim ditemui.

Meski tidak memegang kartu jaminan kesehatan, orang tua Alya mencoba membawa anaknya untuk mendapat perawatan. Kartu keluarga sementara, kartu keterangan domisili dan kartu keterangan miskin yang mereka bawa tak berguna. Pasalnya sejak integrasi Jamkesda ke BPJS dan KIS, semua itu tidak berlaku di ini.

Sementera Direktur RSUD H. Padjonga Daeng Ngalle, Dr Nilal Fauziah dan Sekertaris Dinas Kesehatan Takalar Matturungan saling lempar tanggung jawab. Menurut Nilal, terkait kesehatan gratis masyarakat, merupakan kebijakan dinas kesehatan.

Selain itu, pihaknya tidak bisa lagi menerima pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat yang hanya membawa KK dan KTP. Hal itu berdasarkan surat edaran Gubernur Sulsel terkait integrasi jamkesda ke BPJS Kesehatan dan KIS.

“Kita tidak bisa lagi layani, berdasarkan surat edaran tanggal 31 Desember, tidak berlaku lagi jamkesda dan termasuk penggunaan KK dan Keterangan Miskin dari kelurahan atau desa tidak berlaku,” sambung Nilal.

Ia mengaku, RS tidak bisa lagi mengklaim pelayanan bagi keluarga miskin yang hanya berbekal KK. “Jadi kita dilematis, karena mau dirawat dari mana kita mau mendapatkan anggaran, karena tidak bisa lagi kita klaim, pemda sudah bayar premi ke BPJS dan KIS,” ujarnya.

Nilal menyebutkan, masyarakat miskin yang belum terdata mestinya mendaftarkan diri ke Dinkes melalui puskesmas terdekat.(RAKYATSULSEL)

loading...
Click to comment
To Top