Masyarakat Diminta Ikut Rawat Mangrove – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Masyarakat Diminta Ikut Rawat Mangrove

FAJAR.CO.ID, OESAPA – Masyarakat di Kelurahan Oesapa, khususnya di daerah pesisir pantai diminta ikut merawat tanaman mangrove yang sudah ditanam berbagai kalangan. Selasa (26/1) kemarin, ratusan mahasiswa dan dosen dari Fakultas Kelautan dan Perikanan Undana menanam 1.600 anakan mangrove di Pantai Oesapa.
Doni Bessi, dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan UKAW Kupang yang juga sebagai konsultan mangrove mengatakan pesisir Oesapa merupakan daerah terbuka dan dalam sehari terjadi dua kali air pasang dan surut. Oleh karena itu, anakan mangrove yang ditanam mayoritasnya pasti mati.
Selain itu, menurut Doni, anakan yang ditanam di pesisir Oesapa sebaiknya tidak diambil dari tempat lain. Sebab, kawasan tersebut adlaah daerah endapan pasir sehingga kadar garamnya tinggi. Kalau diambil dari tempat lain, maka tidak akan tumbuh. “Tanaman rizopora ini butuh asupan air tawar, kalau pasir semua dan kadar garam tinggi tidak bisa,” katanya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan Undana, Prof. Ricky Gimin mengatakan kegiatan penanaman anakan mangrove oleh Undana ini diharapkan memberikan motivasi bagi masyarakat untuk merestorasi dan memperbaiki lingkungan sehingga tidak rusak.
Dikatakan, sudah banyak pihak yang terlibat dalam penanaman kembali mangrove yang rusak di kawasan ini. Tak hanya dari kampus, tapi juga berbagai LSM, komunitas masyarakat dan pemerintah sendiri. Namun, terkadang masyarakat sendiri tidak ikut merawat.
Menurut dia, karena lokasinya terbuka, sehingga perlu proteksi terus menerus dengan menanam sebanyak mungkin anakan. Apalagi, sampai saat ini tidak ada tempat khusus tambatan perahu, sehingga banyak warga yang menebang mangrove untuk menjadi tempat perahu. “Jadi mari kita rehabilitasi sambil melindungi yang masih baik,” ujar Prof. Ricky.
Ia mengatakan, Fakultas Kelautan dan Perikanan tidak hanya menanam, tapi juga merawat tanaman tersebut. Oleh karena itu, secara periodik akan dilakukan pengawasan. “Kita juga berharap bibit yang kita tanam tidak dicabut untuk ditanam di tempat lain,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Ketua RW 11, Yon Kase yang juga Ketua Kelompok Rizopora mengatakan biasanya anakan yang ditanam tidak semuanya hidup. Biasanya hanya 25 persen yang hidup.
Salah satu penyebab tanaman mangrove tidak tumbuh atau mati, yakni banyaknya sampah kiriman saat air pasang. Selain itu, masih lemahnya kesadaran masyarakat untuk merawat tanaman. “Dulu kita tanam 40 ribu, yang jadi tidak sampai 1.000 pohon,” kata Yon.
Namun, ia mengatakan tidak perlu putus asa. Harus ditanam terus sehingga ekosistem terjaga dengan baik. (sam/TIMOREXPRESS)

To Top