Mau Dapat Beasiswa di Afrika Selatan Harus Masih Perawan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Mau Dapat Beasiswa di Afrika Selatan Harus Masih Perawan

FAJAR.CO.ID, KWAZULU – Walikota Distrik Uthukela, Provinsi KwaZulu-Natal, Afrika Selatan (Afsel), Dudu Mazibuko punya program aneh untuk mencegah kehamilan pada usia remaja. Dia menawarkan beasiswa kuliah khusus ABG yang masih benar-benar virgin.

Thubelihle, 18, tidak pernah membayangkan bakal mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Kondisi perekonomian keluarganya yang serba kekurangan sempat membuat mimpinya menjadi perempuan terdidik pupus. Namun, asa kembali membuncah saat Wali Kota Dudu Mazibuko menawarkan bantuan pendidikan. Syaratnya bukan nilai yang bagus seperti beasiswa pada umumnya. Melainkan cukup berbekal status masih ting-ting alias perawan.

Syarat itu membuat impian perempuan yang dipanggil Thube itu menjadi kenyataan. Sebab, dia masih virgin sehingga bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Thube berencana masuk ke salah universitas di Pretoria.

’’Kami (para perempuan yang masih perawan, Red) menjauh dari para lelaki karena kami ingin mencapai tujuan kami,’’ ujar Thube. ’’Saya tidak memiliki anak. Saya masih 18 tahun. Saya harus belajar keras untuk mengubah dan menaklukkan dunia,’’ tambahnya.

Untuk mendapatkan beasiswa yang diberi nama Maiden’s Bursary Award itu, Thube harus menjalani tes keperawanan lebih dahulu. Biasanya, perempuan yang lebih tua di komunitasnya akan melakukan pengecekan secara manual, apakah dia benar-benar perawan atau tidak.

Jangan berpikir pengecekannya di klinik dengan alat khusus. Para perempuan yang dituakan itu benar-benar melakukannya secara manual di atas rumput. Thube dan para penerima beasiswa lainnya akan menjalani pengecekan berkala saat musim libur tiba untuk terus memperpanjang beasiswanya.

’’Kita hanya memiliki satu kesempatan untuk menjadi perawan. Jika kaum adam merusaknya, kita tidak akan memiliki kesempatan untuk menjadi perawan lagi,’’ tegas Thube.

Sayangnya, tidak banyak yang bisa menerima beasiswa tersebut. Tahun ini hanya ada 16  orang. Thube menyatakan, banyak kawannya saat SMA yang tergiur dengan tawaran para pria hidung belang yang menghujani mereka dengan hadiah. Sebagai balasan, tentu saja mereka harus mau diajak bercinta.

Beasiswa khusus perawan itu tak pelak menuai pro dan kontra. Lembaga HAM langsung menuding bahwa beasiswa tersebut seksis. Selain itu, muncul stereotipe bahwa perempuan mendapatkan beasiswa karena perawan, bukan karena kemampuannya. ’’Ada cara yang lebih baik untuk mengenyam pendidikan,’’ ujar anggota Komisi Kesetaraan Gender Javu Baloyi.

Namun, tudingan tersebut ditepis Wali Kota Dudu Mazibuko. Sebab, tujuan utama beasiswa itu memang bukan hanya soal pendidikan, melainkan juga pencegahan agar para remaja putri tidak hamil pada usia belia.

Terlebih selama ini Provinsi KwaZulu-Natal terkenal sebagai salah satu provinsi di Afsel yang angka kehamilan usia dininya sangat tinggi. Pada 2012, lebih dari 26 ribu bayi lahir dari perempuan yang masih berusia 15–19 tahun. Jumlah tersebut tidak jauh beda pada tahun-tahun setelahnya.

’’Apa yang saya catat dari semua kritik yang masuk adalah mereka tidak menyediakan solusi sama sekali (untuk mengatasi masalah kehamilan usia dini),’’ ujar Mazibuko.

Dia menceritakan, dahulu dirinya hamil saat duduk di bangku SMA dan masih berusia belasan tahun. Mazibuko tidak ingin warganya mengalami nasib yang sama seperti dirinya. Pemerintah kota sudah melakukan berbagai upaya pencegahan kehamilan usia remaja, tetapi tidak pernah membuahkan hasil yang signifikan. Hingga akhirnya ide soal beasiswa itu muncul.

’’Perempuan muda sangat rentan. Mereka tidak bisa menolak untuk bercinta dengan pria yang lebih tua. Mereka bahkan tidak bisa meminta pria tersebut memakai kondom,’’ tegas Mazibuko tentang tingginya angka kehamilan usia dini.

Karena alasan itu pula, di Distrik Uthukela tingkat penularan HIV/AIDS masih tinggi. Separo ibu hamil tertular HIV. Secara keseluruhan, di Afsel ada lebih dari 6 juta orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Jumlah tersebut menahbiskan Afsel sebagai negara dengan ODHA terbanyak di dunia.

Sejatinya, di Afsel remaja yang hamil diminta untuk tetap menyelesaikan pendidikan. Sayang, biasanya mereka lebih memilih untuk berhenti sekolah.

Tahun lalu presiden Afsel bahkan menyatakan bahwa seharusnya remaja yang hamil dipisahkan dari bayinya dan dikirim ke Robben Island demi menyelesaikan pendidikannya. (CNN/IBI Times/sha/c6/ami)

loading...
Click to comment
To Top