HUT KKBS ke-32, Hafid Gagas “Gerakan Bastem Peduli” – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Makassar

HUT KKBS ke-32, Hafid Gagas “Gerakan Bastem Peduli”

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ketua Umum Kerukunan Keluarga Basse Sangtempe (KKBS), H. Abd Hafid Pasiangan, SE menggagas “Gerakan Bastem Peduli” di peringatan HUT KKBS ke-32 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jumat malam 29 Januari.

Gerakan tersebut lahir atas keprihatinan warga Bastem di perantauan akan kondisi kampung kelahirannya. Yang masih dirasa tertinggal dibandingkan daerah lain di sekitarnya.

“Iya kami warga Bastem yang diperantauan sepakat untuk menyumbangkan minimal Rp5.000 tiap bulan. Terserah mau lebih juga lebih baik. Yang dana abadi tersebut nantinya akan digunakan membantu pemerintah di Bastem untuk pembangunan. Baik jalan, sanitasi, jembatan, dan sebagainya” kata Anggota DPRD Provinsi Sulsel dari Fraksi PPP ini.

Kondisi Bastem saat ini, lanjut Hafid, sudah mulai menunjukkan peningkatan. Untuk itu dirinya berterima kasih kepada pemerintah desa, kecamatan, dan kabupaten Luwu yang mulai memperhatikan pembangunan disana, jika dibandingkan dulu.

Faktor pembenahan infrastruktur masih yang menjadi prioritas untuk dibenahi. Sehingga, hal yang harus dipersiapkan dengan adanya era pembangunan ini tentunya akan berdampak pada pertahanan budaya. “Kalau jalan sudah lancar, biasanya masyarakat akan mulai meninggalkan kearifan lokal. Nah, ini yang harus tetap perlu dijaga dan terpelihara,” sebutnya.

Hadir pula Sri Paduka Datu Luwu Andi Maradang Mackhulau Opu To Bau diacara tersebut, Ketua KKTL Andi Arus Victor, DPRD Kab. Luwu, Perwakilan Ketua IKAT, tokoh  masyarakat Bastem Ibu Ponto Patandung, Sekjen KKBS Joni Pidel Patandung, Sekjen KKTL Jaya Lupu, dan segenap warga Bastem di Jabodetabek.

Dalam arahannya, Datu Luwu mengharapkan masyarakat Basse Sangtempe (Bastem) menjadi penggerak, kembali kepada filosofi makna “Payung” bagi masyarakat di Tanah Luwu.

“Sekarang masyarakat kita di Luwu sudah mulai hilang akan makna Payung itu. Sekarang ini banyak yang hanya mementingkan kekuasaan. Padahal makna Payung tersebut sangatlah mulia,” kata Datu Luwu.

Sehingga, lanjut Raja Luwu ini, orang-orang dari Bastem kiranya dapat menjadi yang pertama mengembalikan makna Payung tersebut. “Kalau suku-suku lain tidak mau, saya mohon KKBS ini memulai lagi kembalikan makna Payung. Jangan kuncupkan, jangan robek-robek Payung Kedatuan ini,” pintanya.

Sebab makna Payung dijelaskan Datu Luwu tersebut adalah berarti kelembutan, bukan keris yang identik dengan kekerasan. Dengan Payung ini, orang bisa bernaung dibawahnya. Payung ini tidak melihat agama, suku, atau warna kulit. Sedangkan makna Luwu adalah kemuliaan yang diturunkan dari Sang Maha Kuasa.

Maka ciri khas Orang Luwu itu seperti Payung, yang selalu bisa menaungi, mengayomi tanpa melihat suku, agama, warna kulit.

Selain peringatan HUT KKBS, sebelumnya juga dilaksanakan perayaan Natal dan Tahun Baru oleh warga Bastem yang beragama Nasrani, dilanjutkan arisan (Sikamali), dan Rapat Kerja pengurus KKBS untuk penambahan susunan pengurus. (idr/fmc)

loading...
Click to comment
To Top