Kopi Vietnam Favorit, Kafe Tempat Pembunuhan Mirna Semakin Laris – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Kopi Vietnam Favorit, Kafe Tempat Pembunuhan Mirna Semakin Laris

FAJAR.CO.ID,  MENJADI tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan sadis, apalagi dengan menggunakan racun, selalu tidak diharapkan pemilik kafe dan restoran mana pun. Termasuk pengelola kafe Olivier yang menjadi TKP kasus tewasnya Wayan Mirna Salihin, 27, akibat racun sianida, 6 Januari lalu. Rasa waswas tamu dan bakal sepinya kafe bisa jadi akan menghantui pengelola kafe di Grand Indonesia (GI), Jakarta Pusat itu. Namun, di luar dugaan, yang terjadi justru berbalik 180 derajat

Saat Jawa Pos mengunjungi Kafe Olivier kemarin sore (1/2), kekhawatiran itu sama sekali tidak terbukti. Seluruh meja di Kafe Olivier justru hampir penuh oleh pengunjung.

Dari pengakuan sejumlah orang, mereka berkunjung ke Kafe Olivier tidak hanya untuk ngopi, tetapi juga penasaran dengan suasana serta sensasi minum kopi di tempat pembunuhan yang sedang ramai diberitakan. Hal itu juga tampak dari banyaknya pengunjung yang memesan menu yang dijadikan sarana meracun Mirna, yakni vietnamese coffee ice.

Beberapa pengunjung bahkan dengan bangga mengabadikan momen secara langsung meminum kopi yang pernah dipesan Mirna itu. Sebelum meminumnya, dengan menggunakan kamera telepon genggam, mereka mengambil gambar dan mengunggahnya ke media sosial.

Misalnya, dua pengunjung perempuan yang memilih duduk dismoking area, tempat yang hanya berselisih satu meja dari meja Mirna. Keduanya, tampaknya, juga terlibat pembicaraan yang tidak jauh-jauh dari tragedi kematian Mirna. “Gue jadi ngeri nih pesan kopi,” ujarnya dengan bergurau. Meski ngeri, keduanya juga tampak memesan kopi. Satu di antaranya vietnamese coffee.

Rasa penasaran akan kopi vietnam itulah yang juga membuat wartawan koran ini ingin mencobanya. Pengunjung yang memesan vietnamese coffee gampang diketahui karena prosesbrewing (penyeduhan) kopinya dilakukan di meja pengunjung (tidak dilakukan di bar barista).

Begitu masuk ke Olivier yang terletak di ground Grand Indonesia, resepsionis langsung mengantarkan wartawan koran ini ke tempat duduk. Pilihannya bisa di bar atau meja biasa. Pengunjung yang datang bersama beberapa orang biasanya diarahkan ke meja biasa yang muat 4-6 orang. Tiga minggu lalu, Jessica, tersangka pembunuhan Mirna, juga memesan tempat di area tersebut. Sementara itu, mereka yang datang sendiri biasanya diarahkan ke bar.

Begitu mendapat tempat duduk untuk empat orang, salah seorang waitress mendatangi dengan membawa daftar menu.Waitress yang melayani wartawan koran ini menyatakan,vietnamese coffee selama ini memang menjadi signature di Olivier. “Sebelum ada kejadian kemarin memang sudah favorit pengunjung juga. Tapi, setelah itu, ya semakin banyak yang mencoba juga,” ungkap pelayan perempuan yang di dadanya tertulis nama Melly itu.

Entah karena takut atau alasan lain, Melly mengaku tidak tahu persis kejadian yang menimpa Mirna. Dia sempat bercanda de­ngan wartawan koran ini. Dia menegaskan, kopi seharga Rp 38 ribu yang akan disajikan itu dijamin bebas racun. “Bapak tidak perlu khawatir, nanti kopinya diseduh di meja Bapak kok,” ujarnya.

Vietnamese coffee di Olivier disajikan dari bubuk kopi robusta asal Tana Toraja. “Kalau espresso base kami baru dari blendarabika,” jelas Melly. Vietnamese coffee disediakan dalam bentuk dingin (menggunakan es batu) dan panas (tanpa es batu). Cara penyajian kopi yang dingin dan panas sama saja. (dim/gun/kim)

Click to comment
To Top