Dihalangi Warga, Eksekusi Rumah Seniman Batal – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Dihalangi Warga, Eksekusi Rumah Seniman Batal

FAJAR.CO.ID, MAGELANG – Eksekusi rumah seorang pelukis Alexsander Ming (Tan Ming Siong), warga Jalan Kartini No 2 Kota Magelang, yang di lakukan Pengadilan Negeri (PN) Kota Magelang batal. Eksekusi rumah yang dijadikan Museum Golden Pillar Museum Art Space dan dikawal ketat puluhan aparat TNI dari Kodim 0705 dan kepolisian dari Polres Magelang Kota tersebut dihalangi-halangi puluhan warga, Rabu (6/2).

Sebelumnya, Panitera PN Magelang, HS Sugiyanto MH membacakan surat eksekusi nomor: W12.U6/99/Pdt.04.10/1/2016 tentang pelaksanaan pengosongan dan penyerahan obyek eksekusi. Surat tersebut, berdasarkan  penetapan Ketua PN Magelang, nomor 3/Pdt.Eks/2015/PN tertanggal 5 Oktober 2015 tentang perintah pengosongan dan penyerahan obyek eksekusi. Selanjutnya rumah dan pekarangan akan diserahkan kepada Bella Anggraini, warga Bantul sebagai pemenang lelang.

Alexsander didampingi pengacaranya, Agus SH dan Gatot SH serta Indra Gunawan dari Lembaga Perlindungan Konsumen Reformasi, menolak rencana eksekusi tersebut. Mereka bertahan di depan pintu gerbang bersama puluhan warga yang merupakan teman-temannya. Mereka menilai sikap PN Kota Magelang terkesan memaksakan eksekusi, yang bukan berdasar pada keputusan hukum, tapi permintaan pembeli di lelang.

“Eksekusi tidak selayaknya dilakukan, mengingat proses hukum dan mediasi masih berlangsung. Saat ini, putusan kasasi dari Mahkamah Agung (MA) juga belum kami terima. Kami tetap menolak eksekusi, sampai keputusan MA keluar,” tegas Alexander.

Kasus ini bermula ketika seniman 61 tahun ini menolong keponakannya, Ong Hong Ie yang memintanya menjadi penjamin kredit di Bank Danamon pada 2013 lalu. ”Saat itu dari pihak Bank Danamon yang diwakili Pak Hariadi dengan kedudukan manajer meyakinkan saya, rumah ini akan aman jadi jaminan. Apalagi, bisnis keponakan saya sehat dan tidak mungkin bangkrut. Saat itu diajukan kredit total Rp13 miliar, namun di tengah jalan keponakan saya bangkrut,” ungkap Alexander.

Alexander menyebutkan, tidak berselang lama rumah dengan luas 268 m2 di atas tanah seluas 1.900 m2 itu langsung dilelang oleh pihak bank sekitar harga Rp5,5 miliar atau kurang dari Rp3 juta/m2. Dan tahu-tahu  sudah ada pembelinya. ”Aneh kan, lelang langsung ditutup meskipun cuma ada satu pembeli. Harga juga jauh di bawah harga aslinya. Di pasaran, harga rumah saya bisa lebih dari Rp10 juta per meter. Tapi di lelang hanya kurang dari Rp3 juta per meter,” ucapnya.

Hingga sore hari, kedua belah pihak masih belum menemuai kata sepakat, sehingga eksekusi belum jadi dilaksanakan. Pihak Alezanderpun bertekad akan terus bertahan sebelum ada keputusan dari MA. (zis/RAKYATJATENG)

 

 

loading...
Click to comment
To Top