Oh God…! Anti Coruption Commite, Mengendus Aroma Korupsi di Proyek Jembatan Tello – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Makassar

Oh God…! Anti Coruption Commite, Mengendus Aroma Korupsi di Proyek Jembatan Tello

FAJAR.CO.ID,  MAKASSAR — Proyek Jembatan Tello yang belum juga rampung menuai sorotan. Anti Coruption Commitee (ACC) Sulawesi mengendus aroma korupsi dalam pelaksanaannya.

Sejumlah fakta membuat ACC menduga adanya penyimpangan proyek senilai Rp15.058.076.259. Mulai dari pekerjaan kontraktor yang terkesan tidak profesional dan sangat konvensional, keterlambatan penyelesaian pekerjaan, hingga perpanjangan kontrak.

“Banyak sekali indikasi potensi korupsi di proyek Jembatan Tello itu. Infonya, kontraktornya PT Galih Medan Perkasa yang notabene kontraktor profesional dan sudah terkenal. Tetapi kok hasil pekerjaan asal-asalan seperti itu. Pasti ada yang tidak beres di situ,” kritik Wiwin Suandi, Staf Badan Pekerja ACC Sulawesi, Rabu 3 Februari.

Sesuai kontrak kerja, proyek dimulai 19 Mei 2015 dan harus rampung 31 Desember 2015. Namun, hingga batas waktu atau deadline pekerjaan selesai, kontraktor belum juga menunjukkan kemajuan pekerjaan yang memuaskan. Belum ada satupun tiang jembatan yang berdiri di Sungai Tallo.

Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Metropolitan Makassar BBPJN VI sebagai penyedia pekerjaan terpaksa memberikan kontraktor kesempatan menyelesaikan kontraknya melalui perpanjangan kontrak.

Namun, hasilnya masih begitu-begitu saja. Hingga H-15 kontrak perpanjangan berakhir, belum satupun tiang berdiri di Sungai Tallo. Pelaksana proyek masih mengeluhkan masalah sama sejak awal pekerjaan yakni ketinggian air di Sungai Tello.

Pekerja masih berusaha membendung aliran sungai untuk membuat area kerja dengan tumpukan karung berisi pasir. Proses kerjanya sangat konvensional untuk ukuran proyek nasional dengan nilai kontrak mencapai Rp15 miliar.

Pelaksanaan pekerjaan terbilang sangat lambat. Pekerjaan penyiapan area kerja untuk pengecoran baru dikerjakan pada musim hujan saat aliran Sungai Tallo sangat deras. Tahun lalu, kemarau cukup panjang, tetapi pekerjaan pembangunan tiang belum dikerjakan.

Fakta lain yang menguatkan indikasi ada korupsi di proyek tersebut, dari informasi yang dihimpun, beberapa bagian pekerjaan telah dialihkan atau di-sub kontrakkan ke kontraktor kecil. Jadi, bukan PT Galih Medan Perkasa sebagai pemenang proyek yang mengerjakan langsung.

Seluruh proyek ini hanya dijalankan cabang perusahaan pemenang lelang proyek. Saat teknologi pekerjaan air sudah canggih, pekerjaan masih dilakukan secara manual. Salah satunya penggalian di dasar sungai untuk persiapan lantai dasar.

“Makanya kita minta Kejati atau kepolisian untuk melakukan audit investigasi. Proyek ini untuk kepentingan orang banyak. Jembatan itu menyangkut nyawa. Kalau salah-salah, di belakang hari rubuh kan nyawa taruhannya,” tegas Wiwin.

Soal kontrak yang dikerjakan cabang perusahaan PT Galih Medan Perkasa, Kasatker Jalan Metropolitan BBPJN VI Makassar, Rahman Djamil, membenarkannya. Meski begitu, menurutnya sah-sah saja sebab tender melalui lelang di kementerian.

Cabang perusahaan PT Galih Medan Perkasa tetap menggunakan nama perusahaan tersebut. Perusahaan kontraktor nasional ini membuka cabang pada beberapa daerah.

“Lambat, memang kami akui. Soal sub kontrak pada beberapa bagian pekerjaan memang iya. Tetapi itu juga dibenarkan. Kami pada posisi melakukan pengawasan. Mengenai perpanjangan, itu juga ada aturannya. Tentu dengan konsekuensi denda sesuai aturan,” terang Rahman.

Kini tersisa 15 hari waktu bagi kontraktor melakukan penyelesaian. Di sisi lain, kemacetan sebelum jembatan kian parah. (iad/rif/Fajaronline.com)

loading...
Click to comment
To Top